Full transcript
0:57Ee marilah kita bergabung
1:06yuk yang belum on air silakan
1:10segera menyusul.
1:19Kita
1:21tanda tangan dulu, Pak ya sebelum lupa
1:23ya, Pak.
1:25Iya, Prof. Siap, Prof.
1:27Kalau anu bisa lupa, ya.
1:30Gi
1:32kita buka Google dulu. Buka siakat dulu.
2:04presensi kuliah
2:09Hari
2:11Rabu
2:131530
2:14[Musik]
2:16pertemuan kedua
2:21ya. Saya tambahkan
2:27ontologi
2:32satu.
2:35filsafat
2:39dan
2:41fil pemat.
2:45Oke,
2:47saya simpan.
2:52Tokennya adalah T623.
2:55[Musik]
2:59Tokennya
3:01T623.
3:12Silakan
3:17Ibu kemarin yang katanya mau pindah
3:20malam itu siapa?
3:23Gigih, Prof. Saya, Prof. tidak jadi
3:25Prof. karena yang bungkus sudah pindah
3:27hari Jumat, Prof. Jadi bisa ikut kelas
3:29ini.
3:30Ya sudah, Buus.
3:31Baik, terima kasih, Prof. Oke,
3:35silakan
3:38yang belum tanda tangan.
3:41Pak Aulia Rahman
3:45sudah, Prof.
3:46Ya, saya ceknya.
3:53Baik, kalau begitu sudah cukup.
4:00Baik, Ibu dan Bapak sekalian yang saya
4:03hormati. Bismillahirrahmanirrahim.
4:05Asalamualaikum warahmatullahi
4:07wabarakatuh.
4:09Waalaikumsalam
4:11warahmatullah wabarakatuhullahi
4:12wabarakatuh.
4:14Alhamdulillahiabbil alamin. Marilah. Ini
4:19semuanya muslim atau ada yang nonmuslim
4:20nih?
4:22Muslim, Prof.
4:23Muslim. Baik. Baiklah, Ibu dan Bapak
4:25sekalian, marilah kita buka acara kita
4:28dengan membaca basmalah. Bismillah.
4:32Bismillahirrahmanirrahmanirrahim.
4:35Alhamdulillahirabbil
4:37alamin wasyukrillah.
4:40Ee
4:42sambil menunggu saya ngirim
4:46tugas
4:48kedua
4:50mungkin ya.
4:52Ee
4:55oh iya tugas
4:58tugas satu sudah nanti tugas dua akan
5:01saya kirimkan tapi agak ringan tugas
5:04kedua ya.
5:06Bapak, Ibu silakan
5:09mengajukan pertanyaan
5:12dan dikirim di WA ini juga ya sembarang.
5:16Mau bertanya apa boleh silakan ya.
5:21Pertanyaannya enggak usah
5:22panjang-panjang dengan kalimat pendek
5:25saja.
5:27Dengan kalimat pendek saja.
5:31Silakan
5:34ya.
6:26Tugas dua membuat tulisan ringan
6:30ya berdasarkan bacaan di atas tulisan
6:33diberi judul Nah,
6:36minggu depan hari Selasa
6:42tanggal 26 Agustus ya. Baik.
6:46Good.
6:53Itu tugas dua Bapak Ibu. 1 minggu ya.
6:57Tugas ringan
7:00ya.
7:02Karena saya memerlukan
7:06apa? Penjelasan singkat dari Bapak Ibu.
7:09Dua halaman saja ya.
7:13Bagaimana Bapak Ibu mau
7:16menjelaskan dua halaman dari
7:21apa makalah saya yang saya kirimkan?
7:27pergulatan memperebutkan filsafat,
7:30ideologi dan apa itu ya paradigma ya.
7:37Oke,
7:42silakan Bapak Ibu sekarang mengajukan
7:44pertanyaan.
7:47Saya tunggu
7:52pertanyaan boleh terkait dengan tugas
7:54satu
7:59atau pertanyaan apa saja yang
8:02bisa tidak terkira-kira
8:06di luar dugaan juga boleh ya.
9:12Yeah.
11:11Baik Bapak Ibu
11:13ee siapa yang jadi host Zoom ini?
11:20Saya Prof.
11:22Siapa?
11:24Saya Prof. Jayati Putri.
11:27I ini akun UNnya toh?
11:31Nih. Oh, ngih, Prof.
11:33Bisa enggak direkam?
11:35Sudah saya rekam dari tadi, Prof. Oke.
11:37Oke. Baiklah. Kalau begitu
11:40ee
11:41silakan sambil Bapak Ibu meneruskan,
11:45Bapak Ibu juga bisa merekam mandiri ya,
11:47mungkin pakai audio saja atau apa
11:50karena nanti barangkali bisa dipakai
11:52penjelasan saya untuk men-support
11:54tugas-tugas juga gitu.
11:57Baiklah,
12:01pertanyaan
12:04dari
12:06Bu Dewi Purnamasari. Mana Bu Dewi?
12:10Posisi di mana Bu Dewi?
12:12Saya Prof. ee di lagi di kampus Prof.
12:17Kampus mana?
12:18STKIP Amal Bakti, Prof. Di tempat saya
12:21bekerja.
12:21Mana itu kotanya?
12:23Di Medan, Prof.
12:24Oh, Medan. Baik.
12:27Jadi
12:32filsafat itu adalah olah pikir
12:36ya. Apakah suara saya cukup jelas?
12:41Jelas.
12:41Jelas, Prof.
12:42Jelas.
12:43Jelas, Prof. Namun lagi hujan deras,
12:45Prof. di Jakarta, Prof.
12:46Oh, iya. Jadi sekali lagi
12:48hujan deras sudah 10 menit.
12:51Jadi saya ulangi lagi, filsafat adalah
12:54olah pikir.
12:57Oke, selesai gitu aja sudah.
13:02Nah, tujuannya apa?
13:05Ya,
13:08ee
13:10tujuannya ialah mencari kebenaran.
13:15Nah, yang jadi masalah ialah
13:18karena
13:19dunia itu strukturnya berdimensi, maka
13:22kebenaran berdimensi.
13:25Artinya kebenaran itu berbeda-beda
13:28sesuai dengan dimensinya.
13:30Kalau bahasa filsafat dimensi, kalau
13:32bahasa pendidikan
13:35berkontekstual.
13:36Ya, kebenaran itu sesuai dengan
13:38konteksnya
13:40gitu kan.
13:42Nah,
13:44jadi berbicara
13:47satu hal yang diucapkan
13:50misalnya
13:51ee istilah apa begitu ya, di suatu suku
13:55sopan, di suku yang lain tidak sopan
13:58atau tidak santun, demikian seterusnya
14:02kan begitu.
14:05Nah, jadi kebenaran sesuai dan
14:07konteksnya. Apalagi
14:10di dalam filsafat
14:13secara
14:15literatur
14:19ya secara literatur
14:21itu atau secara legalnya
14:26itu struktur dunia itu ada empat
14:32yang berhierarki dari rendah sampai
14:35tinggi.
14:39Struktur yang empat itu adalah yang
14:41paling rendah itu
14:44struktur
14:47realistik
14:50atau kenyataan
14:53atau struktur fisik ya. fisik atau
14:57realistik ya
15:00atau kenyataan atau empiris
15:04itu ya itu paling rendah.
15:07Di atasnya
15:10ada yang namanya struktur formal.
15:15Struktur formal. Kalau struktur formal
15:17itu adalah bentuknya,
15:21maka
15:24benda-benda
15:26yang kita lihat, yang kita dengar,
15:30yang bersifat empiris, yang bersifat
15:33realita, itu adalah substansinya
15:37atau contohnya.
15:41Jadi, bentuk itu juga akhirnya
15:43bertingkat-tingkat.
15:46Isi juga akhirnya bertingkat-tingkat
15:48sesuai dimensinya atau sesuai
15:50konteksnya.
15:54misalnya
15:56ya,
15:58misalnya
16:01ee
16:04misalnya
16:06apa ya? Kata-kata ya kata-kata
16:11mm
16:14adil ya. adil itu formal
16:19wadahnya.
16:21Tapi kalau
16:25contohnya adalah mendapatkan hak yang
16:27sama kan begitu,
16:31tetapi mendapatkan hak yang sama. Kalau
16:33itu bisa dijadikan formal atau
16:36bentuknya,
16:38maka ya sama-sama memperoleh 10 kg
16:44itu adalah isinya kan begitu
16:48kan gitu kan.
16:51Nah,
16:53kemudian
16:55kalau 10 gram, 10 kg itu sama-sama dapat
16:5910 kg itu sebagai bentuknya, maka isinya
17:04misalnya kualitasnya
17:06sama,
17:08harganya sama.
17:10Jadi bentuk itu
17:14bertingkat-tingkat
17:16diturunkan tidak akan selesai.
17:21ya. Isi
17:24juga bisa naik meliputi bentuknya
17:28dinaikkan juga bisa tidak selesai gitu.
17:35Maka yang kita lihat
17:37benda-benda gelas, komputer, lampu,
17:41semua itu bisa dianggap sebagai contoh.
17:47Kan gitu kan?
17:50Maka pemandangan kalau yang kita lihat
17:53itu sebagai contoh, maka pemandangan
17:57adalah wadahnya.
18:00Tapi kalau kemudian
18:04ya lampu itu adalah contoh dari
18:07pemandangan ya, maka lampu itu adalah
18:10substansinya.
18:12Tapi kalau diturunkan jika lampu adalah
18:15wadahnya,
18:17maka isinya bisa lampu petromark atau
18:21lampu neon
18:24atau lampu taman atau lampu jalan.
18:29Kalau lampu jalan diturunkan,
18:31lampu jalan sebagai bentuknya,
18:34maka lampu jalan pun ada lampu jalan
18:37yang sudah kuno, ada lampu jalan yang
18:41modern, ada lampu jalan yang otomatis,
18:45ada lampu jalan yang mahal, ada lampu
18:47jalan yang murah.
18:50Kan begitu. Jika lampu jalan yang mahal
18:53itu adalah bentuknya, maka substansinya
18:56bisa lampu jalan impor atau lampu jalan
19:01lokal.
19:02Demikian seterusnya. Jangan dikira hanya
19:06turun satu naik satu
19:10isi selamanya isi. Tidak. Itulah
19:12berfilsafat.
19:14Sebenar-benar filsafat adalah
19:18menyadari
19:20bahwa ada pikiran yang berdimsi.
19:25Jadi, berfilsafat itu artinya
19:29mempelajari kedudukan pikiran.
19:34Nah, dalam penerapannya
19:38Bapak Ibu yang jadi dosen, yang jadi
19:40pembimbing, saya yang Malang melintang
19:44sudah jadi pembimbing, penguji
19:47ya,
19:48sudah senior,
19:512 tahun lagi sudah pensiun.
19:55itu
19:57menjumpai banyak sekali
19:59kejadian-kejadian di mana
20:02mahasiswa S1, S2, bahkan S3
20:06itu
20:07belum mengerti tentang kedudukan
20:10pikiran.
20:14Contoh,
20:17jika bentuknya adalah hakikat hidup,
20:23ya, maka contohnya adalah hakikat hidup
20:28menurut Plato.
20:31Kan begitu
20:33sesuai dengan konteks dan sesuai dengan
20:35derajat dan dimensinya.
20:38Tapi mahasiswa S1, S2
20:41dia ngomong hakikat pendidikan menurut
20:44Maryani,
20:47menurut Miskidi,
20:51menurut Supri,
20:54menurut Klemin, semua teman-temannya
20:58waktu SD dicantumkan semua di tesis
21:02supaya bisa heboh gitu ya untuk bikin
21:06kenangan.
21:07besok kalau reuni supaya bisa dibacakan
21:12ini kamu semua sudah saya masukkan dalam
21:13tesis saya. Nah, itu artinya
21:17kelemin miskiti dan sebagainya dia tidak
21:21punya posisi yang valid
21:24mengusung konsep hidup,
21:28mengusung konsep pendidikan.
21:30Karena hidup dan konsep pendidikan itu
21:33adalah satu konsep universal. yang
21:36kedudukannya tinggi.
21:39Dalam bahasa Jawa ada istilah
21:41kegede nempyak kurang cagak.
21:45Terlalu besar atap tapi terlalu kecil
21:49tiangnya.
21:51Maka tulisan-tulisan seperti itu yang
21:54kalau saya me-review saya coreti semua.
21:59Aku enggak percaya omonganmu itu.
22:03Ya, kenapa? Hakikat hidup. sebagai
22:05pendidikan tetanggamu yang jadikan
22:07referensi.
22:10Ya, itulah sebenar-benar manusia yang
22:13belum cerdas secara filsafat.
22:18Maka manusia yang cerdas adalah manusia
22:20yang ngerti kedudukan atau posisi, ide,
22:25dan gagasan sesuai ruang dan waktunya.
22:28Kayak begitu.
22:31kecuali
22:34ya kecuali
22:37itu
22:39penelit hasil penelitian
22:43ya menurut Nurina Happy. Oh boleh apa
22:48mengadakan penelitian di kecamatan ini
22:51hasilnya begini. Oh dia dia itu relevan
22:55ya dia konkret dan dia nyata begitu.
23:01Baik,
23:02maka bisa dipakai. Tapi kalau mengenai
23:06konsep-konsep tertentu itu ada kaitannya
23:09dengan Nah, makanya
23:12karena bertingkat-tingkat
23:15maka tidak mudah orang berfilsafat,
23:18tidak mudah orang mencari
23:23pikiran kebenaran pikiran.
23:26Nah, dalam filsafat
23:29mencari kebenaran
23:32karena filsafat adalah olah pikir maka
23:36yang dicari adalah kebenaran pikiran.
23:41Dalam filsafat seperti itu.
23:44Nah,
23:46kebenaran pikiran
23:49itu disebut sebagai
23:52pikiran yang murni.
23:58Jadi pikiran murni identik dengan
24:02pikiran yang benar
24:05atau benarnya segala sesuatu itu kalau
24:09murni.
24:10Murni itu artinya tidak menipu, tidak
24:15hoak.
24:16Ya,
24:18tapi masalahnya ialah tidak mudah
24:22mencari pikiran murni.
24:26Imanuelkan dalam bukunya the critic of
24:30poorison.
24:33Kritik itu artinya mencari. Kalau di
24:37Barat kritik itu mencari dalam rangka
24:40untuk membangun.
24:42Tapi kalau di Indonesia karena kritik
24:44sudah terkontaminasi dengan politik,
24:48maka di Indonesia yang namanya kritik
24:50adalah mencari dalam rangka merusak,
24:55menjatuhkan, kalau bisa menghancurkan.
24:59Itu di Indonesia
25:01karena didominasi oleh politik.
25:05Tidak ada perpolitikan yang terseru di
25:08dunia kecuali di Indonesia.
25:16Ya, tidak ada. Tapi lebih baik, lebih
25:20baik seperti itu daripada kita perang
25:22saudara
25:24ya. Sampai hanya sampai kepada
25:29sampai seperti itu aja ya sudahlah gitu.
25:34Jadi kalau di luar negeri aslinya dari
25:36Barat yang namanya kritik. Kritik itu
25:39mencari dalam rangka untuk membangun.
25:43Kalau di Indonesia kritik itu mencari
25:45dalam rangka untuk melemahkan,
25:47menjatuhkan kalau bisa menghancurkan
25:49reputasi seseorang. Nah, itu
25:54maka
25:56di Indonesia kalau ada politisi ya wisi
26:03di Indonesia.
26:06Kalau baik ya baik betul. Kalau tidak
26:08baik ya tidak baik betul gitu.
26:12Sama saja orang yang berbelajar
26:15filsafat.
26:17Orang yang belajar filsafat menjadi
26:19cerdas.
26:21Kalau orang buruk belajar filsafat
26:24menjadi cerdas, ya menjadi buruk betul
26:26gitu ya. Kalau orang baik belajar
26:28filsafat menjadi cerdas ya baik betul
26:31gitu loh.
26:33Tuh.
26:36Nah.
26:37Oleh karena itu,
26:42kebenaran suatu pikiran adalah
26:44kejujuran.
26:45Artinya sebenar-benar berfilsafat adalah
26:49mencari orang jujur.
26:51[Tertawa]
26:54Ya,
26:55mencari orang jujur
27:00sebenar-benar berpisah mencari orang
27:02jujur. Terutama apa? Pikirannya.
27:05pikiran yang jujur.
27:09Nah, yang ditulis oleh KH sebagai the
27:12critic of poison. Itu disertasi saya ya.
27:16Saya bikin disertasi tentang the critic
27:18of poor dikaitan dengan matematika.
27:23Nah, besok akan saya kirim sebagai tugas
27:25ya.
27:29Nah, secara singkat dapat saya katakan
27:34jujur itu memenuhi dua perkara.
27:38Pikiran benar itu adalah pikiran yang
27:40jujur. Pikiran yang jujur memenuhi dua
27:42kriteria.
27:44Yang pertama
27:46dialogis.
27:50Ya. Jadi kalau Bapak Ibu ingin
27:53mengetahui, mendeteksi seseorang itu
27:55berkata jujur atau tidak, cek saja
27:58pikirannya logis enggak.
28:01Kalau pikirannya terputus-putus dan di
28:03antara ide dan gagasan itu saling tidak
28:05menunjang atau bertentangan,
28:08ini curiga.
28:10Jangan-jangan orang ini tidak jujur. Ah,
28:13begitu.
28:15Ganti hari, ganti minggu, ganti bulan,
28:17boleh, ganti tahun boleh. Kalau politisi
28:22ganti tahun ya bisa ya. Tahun yang lalu
28:24ngomong begini, sekarang, tahun sekarang
28:26ngomong begini. Ah, dia enggak jujur
28:27dia.
28:29Kenapa? Karena dia tidak logis.
28:35Nah, bagaimana kriteria logis?
28:39Jal matematika sangat gampang
28:42logis itu kalau konsisten.
28:48Konsisten itu apa?
28:51Konsisten itu sama.
28:56Sama itu apa? Sama itu identik. Itulah
28:59ilmu matematika.
29:02Maka
29:03ilmu matematika adalah ilmu identik
29:08dan tidak boleh ada kontradiksi.
29:13Satu ziarah saja dia kontradiksi maka
29:16dia bukan lagi matematika.
29:19Tapi barangkali adalah politik
29:21matematika atau matematika politik
29:24kan begitu.
29:27Gampang sekali ya.
29:31Itulah sebabnya
29:33matematika itu memenuhi hukum yang
29:37namanya hukum identitas,
29:40yaitu diri yang sama dengan dirinya.
29:45Diri yang sama dengan dirinya A = A,
29:49Marsigit sama Marsigit.
29:51Jam sama dengan jam, motor sama dengan
29:54motor. Di dalam realita itu tidak ada.
30:01Di dalam contohnya tuh enggak ada. A =
30:05A. Kalau ditulis A = A itu ada 2A,
30:09A kiri dan A kanan.
30:13A kiri mah dekat BC, A kanan mah dekat
30:15AC.
30:17Yang satu bau-bau, yang satu
30:19dingin-dingin.
30:24Di mana itu lokasinya?
30:28Hukum identitas itu atau matematika itu
30:31atau diri sama dengan diri itu adanya
30:35hanya di dalam pikiran.
30:40Begitu ditulis,
30:42maka semua matematika menjadi salah.
30:47Maka filsafat ini konsumsi orang dewasa.
30:52Jangan Bapak Ibu sampaikan kepada
30:54anak-anak kecil di SD, kamu tulis toh
30:59matematika jadi salah menurut Profesor
31:01Marsikit. Wah, sudah
31:05ya itu anda menyebarkan kebingungan di
31:08masyarakat. Ya, gampang kalau mau
31:12memabukkan masyarakat atau
31:13memasyarakatkan mabuk gitu ya.
31:19Nah, daripada sekarang bikin hoak,
31:21politisi-politisi itu bikin hoak ya. Oh,
31:25dengan filsafat bisa lebih hebat lagi.
31:27Kalau mau ya bikin saja kacau pikiran
31:31sudah.
31:32Nanti masyarakat semua jadi stres dan
31:34gila ya toh. Nah,
31:38jadi 2 + 2 = 4 itu hanya terjadi di
31:43pikiran,
31:47di dalam realita, di dalam tulisan tuh
31:49tidak ada.
31:52Marsikit di dalam realita itu tidak sama
31:55dengan marsikit. Sebab ada marsikit yang
31:58diucapkan pertama dan ada marsikit yang
32:01diucapkan kedua. Di dalam realita, di
32:04dalam contoh, Marsikit tidak sama dengan
32:06marsikit.
32:10Maka saya sulit mencari istriku
32:14di dalam realita.
32:17Istriku baru saya temukan di dalam
32:20ideal.
32:24dan dia adalah sebenar-benar orang ya
32:28mampu mentaskan ideal
32:31ya kecuali hanya melewat pikiran atau
32:35kuasa Tuhan.
32:39Itulah sebabnya maka matematika disebut
32:44ilmu silogisme,
32:48ilmu identitas
32:51dan itu baru separuh dunia.
32:55Nah, kalau Imanuel Khan dikatakan karena
32:57baru separuhnya matematika murni
33:01dikatakan belum menjadi ilmu.
33:09Tolong ini
33:11rekamannya saya dikirim ya nanti supaya
33:12bisa saya saya tayangkan di kelas
33:15berikutnya
33:17gitu.
33:20Jadi objek matematika adalah objek pikir
33:23yang bersifat ideal. Lancip ya lancip
33:27betul,
33:29miring ya miring betul, siku-siku ya
33:31siku-siku betul.
33:33Ini sudut lancip atau sudut tumpul? Ini
33:38Pak Fausi.
33:40Bukan sudut, Prof.
33:42Oh, bukan sudut. Iya, betul.
33:46Berarti sudah ada bau-bau filsafatnya,
33:48Pak. Pak.
33:49Alhamdulillah, Prof.
33:51Ya. Baik.
33:54Yang separuh dunia lagi apa? Yang
33:56separuh lagi dunia adalah dunia realita.
34:01Dunia realita disebut juga dunia
34:03kontradiksi.
34:07dunia kontradiksi atau dunia empiris,
34:09dunia contoh
34:11di dalam realita tidak ada dunia yang
34:15sama, tidak ada benda yang sama. Maka
34:21kalau ada orang mau mendirikan partai
34:24identitas
34:27dengan cara menyamakan dunia itu sudah
34:29menyalai kodrat.
34:33Kesamaan itu hanya bisa tercapai di
34:35dalam pikiran.
34:39Kan begitu.
34:41Maka di dalam realita ya kalau mau bikin
34:45partai ya partai kontradiktif
34:49kan begitu bukan partai identitas.
34:53Jadi partai identitas tidak cocok dengan
34:56realitas. Ya, yang cocok dengan realita
34:58adalah kontradiksi.
35:01Tapi kontradiksi itu bukan berarti
35:03negatif.
35:07Kenapa kontradiksi? kontradiksi itu
35:09diberi makna beda.
35:12Maka sebenar-benar ilmu
35:16adalah fungsi pembeda.
35:19Jika di antara kita tidak mampu
35:22membedakan segala sesuatu, maka
35:24dikatakan kita tidak punya ilmu.
35:30Maka dikatakan bodoh kalau dia enggak
35:32mampu membedakan.
35:35Ini magrib atau isya ya. Oh, bodoh ke
35:38dia karena enggak mampu membedakan
35:40antara waktu magrib dan isya. Oh, ya
35:43panteslah kalau sudah mulai pikun ya
35:45jelaslah pikun itu cenderung menjadi
35:46bodoh.
35:48Kan begitu.
35:51Nah, itu ya cara mencari
35:58pikiran yang murni atau pikiran yang
36:00jujur. Indikatornya adalah yang pertama
36:04pikirannya logis.
36:07Pikiran logis itu selaras dengan pikiran
36:11matematikawan. Maka biasanya
36:14matematikawan yang belum terkontaminasi
36:16politik
36:18atau belum terkontaminasi stigma negatif
36:21dari sosial masyarakat yang
36:23negatif-negatif,
36:25orang matematikawan itu biasanya
36:27orangnya jujur-jujur kan begitu.
36:32Yang kedua, indikator yang kedua dari
36:36pikiran
36:37jujur atau pikiran benar yang berarti
36:41jujur atau yang berarti murni adalah
36:45sesuai dengan realita.
36:51Sesuai dengan realita itu artinya sesuai
36:54dengan ruang dan waktunya.
37:01kan begitu. Nah, ini coba
37:07Anda percaya enggak ya? Ini benda ini
37:11saya enggak berani pegang ini kalau
37:12dimasukkan dalam kulkas. Sebab ini benda
37:14ini kalau dimasukkan dalam kulkas nanti
37:17panas sekali ya. Ah,
37:22ya. Pernyataan itu tidak sesuai dengan
37:25realitas. Sebab di kulkas itu kan
37:29dingin, kenapa dikatakan panas?
37:32Kan begitu kan? Berarti dia mau
37:34memanipulasi
37:35ya. Kecuali memang ada kulkas yang
37:38bersifat panas.
37:40Kalau di Eropa ada yang AC yang panas
37:43atau heater untuk musim dingin kan
37:46begitu. Sementara itu dua saja. Ada
37:51empat yang lain ya untuk menemukan
37:56kebenaran pikiran.
37:59Empat yang lain nanti kita pelajari di
38:01teorinya Imanuelkan.
38:05Ini Imanuel tapi tidak ada hubungannya
38:07dengan gereja.
38:10Benar dia orang Katolik tetapi semua
38:13karya pikiran adalah filsafat. Nanti
38:16bisa dicek ya.
38:17ya. Baik.
38:20Nah, maka dalam rangka untuk mencari
38:23pikiran murni, orang itu banyak kendala,
38:32banyak kendala.
38:35Kendala yang pertama atau ujian yang
38:37pertama ini pertanyaan dari Ibu Dewi.
38:40Dewi Purnamasari. Ya, tujuan hidup saya
38:44adalah bahagia. Ini saya mana Ibu Dewi?
38:47Ini
38:47saya Prof.
38:49Ya. Di mana posisi Bu Dewi?
38:51Di Medan, Prof.
38:52Ya. Dalam rangka menjawab pertanyaan Bu
38:55Dewi ini saya muter-muter
38:58ya. Satu pertanyaan bisa dua
39:022 jam. Nanti kalau dua pertanyaan 4 jam
39:04sampai subuh gitu. Nah, itulah
39:07pentingnya partisipasi Bapak Ibu. Kalau
39:10dari saya saja mana cukup makanya perlu
39:13direkam. Kalau enggak direkam lupa
39:15dijamin itu
39:17ya. Baik. Jadi tolong nanti saya
39:19dikirimi rekamannya.
39:23Nah,
39:25hambatan pertama, kendala pertama orang
39:28mencapai kebenaran atau gagal memperoleh
39:31kebenaran adalah
39:33kendala
39:35berhala.
39:41Kendala berhala.
39:45Berhala itu
39:47bahasa Inggrisnya atau bahasa Yunaninya
39:50adalah idol.
39:54Maka kalau ada Indonesian idol itu kalau
39:56diterjemahkan jadi berhala Indonesia.
40:02American Idol itu kalau diterjemahkan
40:04menjadi berhala Amerika.
40:10Kenapa disebut berhala? Karena ketika
40:12ada berhala itu fokus
40:16mengagumi berhala, lupa beribadah.
40:22Jadi sifat daripada berhala ialah
40:25menarik perhatian,
40:28melupakan kewajiban.
40:32Itu sifat daripada berhala.
40:39Nah, ketika Bu
40:44Dewi
40:46pergi dari kampung menuju kota Medan,
40:49mau berangkat mempelajari filsafat,
40:50mencari pikiran murni, di tengah jalan
40:52ketemu
40:55sama pedagang.
40:57Alah, Bu, mau ke mana? Yang dicari apa,
41:00Bu? Hidup tuh yang penting
41:04bahagia.
41:07Nah, belum sampai kepada
41:10hakikat yang benar, belum sampai kepada
41:12pikiran yang benar, Ibu sudah kemasukan
41:15prinsip
41:18oleh penggoda atau pengganggu di jalan
41:20tadi yang maaf
41:22bisa dikategorikan
41:25menyita perhatian dan melupakan tujuan
41:27mencari kebenaran. Jadilah Bu Dewi punya
41:30prinsip alah Pak Allah Ma hidup itu yang
41:35penting bahagia satu. Dan yang setara
41:38dengan itu bermiliar-miliar. Alamak
41:42hidup yang penting selamat.
41:44Alamak hidup itu yang penting kenyang.
41:47Alamak yang hidup itu yang penting punya
41:49tabungan. Alamak yang hidup itu yang
41:52penting sehat. Terus enggak akan selesai
41:55itu bermiliar-miliar.
41:58Dan salah satunya kena pada Bu Dewi
42:02ini bertanya malah jadi tertuduh.
42:09Itu baru
42:11baru kendala satu, Ibu
42:15ya.
42:17Itu baru kendala satu. Kendala yang lain
42:19ada kendala panggung.
42:23Kendala yang lain lagi ada kendala
42:25pasar.
42:26viral. Wah, ini viral pasti benar. Itu
42:30kendala pasar.
42:33Belum tentu yang viral itu benar.
42:37Belum tentu yang viral itu jujur.
42:40Ya,
42:42viral. Terus kendala berikutnya kendala
42:45panggung ya toh. Ada pejabat ngomong di
42:48panggung tinggi sana. Apapun yang
42:50diomongkan
42:52setuju aku 100% pasrah aku ya.
42:56Ya, mau diminta sumbangan berapapun
42:58kalau gak ngomong dia aku pasrah aku
43:01serahkan jiwa ragaku. Ah, itu belum
43:05sampai kepada kebenaran yang akan
43:07dituju. Di tengah-tengah ada panggung
43:09penta seperti itu tersesat dia.
43:14Ya, kebenaran pasar ada viral ini. Viral
43:18itu viral bahwa sebenar-benar hidup
43:21adalah bahagia. Viral itu ya. Ah,
43:24teresat dia
43:27ya.
43:30Nah, begitu.
43:33Dan yang lain yang bisa dicari Bu ya.
43:38Ada kebenaran berikutnya adalah
43:40kebenaran apa? Kendala berikutnya adalah
43:43kendala genetika
43:46turun-temurun.
43:48Kebenaran yang diturun-temurunkan
43:50yang sebetulnya tidak benar.
43:55silakan dicari sendiri
43:58ya. Nah, inilah pentingnya move on.
44:02Artinya apa? Guru-guru itu punya potensi
44:06menurunkan kebenaran-kebenaran kepada
44:08muridnya.
44:10Yang muridnya percaya pada gurunya,
44:11padahal yang dipercaya itu salah. Ya,
44:13inilah kendala apa? Kendala genetika
44:17itu.
44:20Ah, begitu. Oleh sebabnya, oleh sebabnya
44:22itu kita harus berpikir jih apa kriteria
44:28ya orang berpikir jujur itu ya toh.
44:32Orang berpikir benar di sini jujur itu
44:34identik dengan benar.
44:37Satu logika logis dua sesuai dengan
44:42realita. Ya sudah
44:45dua kalau mau ditambah dua yang lagi
44:47yang lain apa, Pak? Oh bolehlah. Boleh
44:49daripada nunggu besok ya toh.
44:54Yang di atas logika itu punya teman.
44:59Yang namanya logika itu bersifat ariori.
45:07Karena saya berjalan-jalan bersama
45:10logika,
45:11maka karena logika bisa dipegang,
45:16maka aku tidak perlu mendampinginya
45:20sampai finish.
45:23Cukup aku berhenti di tengah jalan
45:25karena aku capek.
45:28Tapi aku tahu
45:30walaupun sampai finish aku tidak bisa
45:32mendampingi, tetapi aku tahu hasilnya.
45:38Nanti
45:39di Jakarta kereta ini sampai pukul 5.00.
45:43Kalau itu berangkat dari Jogja pukul
45:4509.00 malam. Sebab apa? Sebab masinisnya
45:49berupa robot yang sudah dimasuki dengan
45:52logika.
45:53Aku tinggal tidur aja sampai di Jakarta
45:56nanti jam .00.
45:59Oh, betul ya, Pak. Pak Wi. Oh, Bapak kok
46:01hebat kok tahu kok cocok banget ya
46:05sesuai dengan realita ya. Bawa keretanya
46:08aku ikuti terus sampai di Jakarta tepat
46:10jam .00. Kok bisa, Pak? Nah, itu
46:14karena menggunakan logika. Itulah
46:16kehebatan orang matematika
46:20yang namanya bisa memproyeksikan ke
46:23depan.
46:24atau bisa bikin proposal
46:29ya. Sebenar-benar proposal itu adalah
46:33ariori
46:35kok bisa-bisanya mengitung biaya
46:39R9 juta ya habisnya kok bisa-bisanya loh
46:43palang belum dikerjakan loh ya. Wah ini
46:47pakai logika Pak. Loh kenapa pakai
46:49logika ini? Karena ini logika bersifat
46:51aiori Pak. bisa diketahui bahwa walaupun
46:53belum dijalankan
46:56ini berdalih ya
47:00kan gitu.
47:01Nah, yang realita
47:04pikiran murni,
47:06pikiran jujur itu kalau cocok juga
47:08dengan realita. Realita punya teman.
47:12Teman daripada realita itu apa? belajar
47:15dari pengalaman yang disebut dengan
47:18aposterior,
47:22belajar dari pengalaman
47:25apostori
47:29kan begitu.
47:31Siap.
47:33Nah, jelas ya toh kita itu kalau soal
47:38apa ngomong tertentu itu sensitif
47:40diulangi lagi berarti dia tidak belajar
47:43dengan pengalaman
47:45dicurigai pikirannya tidak jujur
47:50akan mengendalikan suasana menabrak dia
47:53enggak mau belajar dari pengalaman
47:56jelaslah
47:58ya kalau menari atau berjoget Ya toh di
48:03depan orang yang menderita itu
48:05menyinggung perasaan berdasarkan
48:07pengalaman.
48:10Nah, ini pentas di seluruh negeri
48:13berjoget riap ya toh. Dia tidak belajar
48:16dari pengalaman. Artinya apa? Pikirannya
48:19jelas tidak jujur secara filsafat
48:23secara kenapa tidak jujur? Punya motif
48:27mungkin supaya dinaikkan lagi gajinya.
48:32Mungkin,
48:34tapi secara filsafat begitu loh.
48:38Orang jujur itu pintar belajar dari
48:41pengalaman. Itu yang namanya a
48:43posteriori.
48:46Sama halnya seekor kucing.
48:50Kucing itu enggak bisa bikin proposal.
48:54Iya, karena dia tidak bisa berpikir
48:56logis.
48:58Tapi dia pandai belajar dari pengalaman.
49:02Begitu ada seekor tikus langsung dia
49:07ekornya berkipas bergerak-gerak.
49:11Dia akan tubruk tikus itu akan dimakan
49:14oleh kucing.
49:16Level kucing itu kuat di pengalaman,
49:20lemah di logika.
49:24Maka
49:25level anak-anak
49:27juga seperti itu.
49:30Masih belajar dari pengalaman, masih
49:33belajar logika.
49:36Kayak gitu mau disamakan belajar
49:37matematika, DD sama SMP sama SMA dan
49:40perguruan tinggi itu namanya tidak adil.
49:44Artinya apa? Tidak peduli ruang dan
49:46waktu. Artinya apa? Dia itu
49:48sebenar-benar si bodoh
49:51di dalam filsafat. Maka sebenar-benar
49:55filsafat, sebenar-benar ilmu,
49:56setinggi-tinggi ilmu adalah sopan dan
49:59santun.
50:02Gitu. Begitu ya, Bu Dewi. Aduh,
50:06pertanyaannya satu sudah megap-megap
50:08saya.
50:08Iya, Prof. Karena kemarin Prof. ee
50:11selesai kita perkuliahan. Jadi saya ada
50:14kumpul dengan teman ee di dekat rumah
50:19mereka suka bicara gini kadang kan ee
50:22habis ee menerima pengajian, habis ee
50:27mendengarkan ceramah. Jadi diskusi
50:28dengan saya seperti ini. Ee hidup kita
50:31itu tujuannya satu cuman bahagia. Jadi
50:34saya teringat dengan materi Prof. yang
50:37ee setinggi-tingginya filsafat gitu.
50:39Apakah dengan konsep mereka menyatakan
50:42memang iya hidup kita mau bahagia? Saya
50:44bilangkan seperti itu kan ee jadi ee
50:47mengajak argumen. Ee jadi saya teringat
50:49tadi pas pula Prof menanyakannya jadi
50:52lebih baik saya pertanyakan kan apa
50:54benar itu
50:55benar-benar orang cerdas itu kalau dia
50:58mengetahui kedudukan ruang dan waktunya.
51:02Ruangnya ngaji ya ngajilah.
51:04Ruangnya kuliah filsafat ya berfilsafat
51:08begitu.
51:09M saya kalau ngaji juga dapat lagi.
51:12Hidup itu adalah ibadah.
51:15Buat apa bahagia kalau enggak pernah
51:17ibadah? Maka kebahagiaan itu tidak
51:21rahmah. Kan begitu.
51:24Ah lebih ada yang lebih tinggi lagi toh.
51:27Iya.
51:28Iya. Makanya ya
51:33campur ya antara idol ya dengan panggung
51:37dan pasar bisa bercampur aduk ya. Maka
51:42kalau kita ingin cerdas ya sesuai dengan
51:46kalau mau ngaji ya ngaji
51:49ya benarlah hidup itu bahagia
51:53ya. Secara psikologi nanti prinsipnya
51:55ada lagi ya.
51:58Jadi secara psikologi ya, keluarga
52:01bahagia itu ada tiga perkara. Jangan
52:04punya persoalan pada pekerjaan,
52:07jangan punya persoalan pada agama, ya.
52:12Dan jangan punya persoalan pada istri
52:17atau suami.
52:19Larinya kayaknya ke jujur ya, Prof.
52:20kalau sama suami ya, Prof.
52:22Iya. Ya gitu loh. Itu secara psikologi.
52:26Nanti kalau ketemu jalan-jalan nanti
52:27tetangga sebelah lagi orang psikologi
52:29nanti ngomongnya kayak gitu Bu. Waspada
52:32ya bisa berinteraksi beberapa kendala
52:35itu jadi berputar-putar
52:38ya. Interaksi kendala satu dan kendala
52:40dua.
52:44Bisa diteliti ya apakah efektif atau
52:46tidak.
52:49Baik.
52:50Oke terima kasih Prof. Ya,
52:55berikutnya
52:57ya mengenai fatal dan vital
53:02ya. Itu kan referensi yang saya
53:06lemparkan yang saya lontarkan. Silakan
53:08Bapak Ibu mencarinya.
53:12Kalau Bapak Ibu total
53:14ya
53:16totalitas ya. Kemudian obedience ya
53:21kepada apa yang saya katakan nanti
53:23kembali lagi Bapak Ibu terjerat oleh
53:27kendala atau idol-idol yang ada.
53:31Silakan dicari sebetulnya makna fatal
53:34makna vital itu apa. Nah, ini ada
53:37pertanyaannya gitu kan.
53:40Ada pertanyaannya tadi mengenai mohon
53:44maaf awalnya saya e mengenai
53:49apakah apakah fatal itu negatif. Jadi
53:53begini bergeser-geser makna itu.
53:58Y kalau dikatakan bisa fatal itu takdir.
54:02Ini manusia loh ya dari perspektif
54:05manusianya atau perspektif ciptaannya.
54:09Kalau dari perspektif sang pencipta,
54:12aduh jangan sampailah kita berpikir ke
54:14sana. Masa kita mau mau mau
54:17menyama-nyamain atau sampai dekat-dekat
54:19ke sana berperspektif sama ya hanya sang
54:21pencipta sendiri yang mengetahui kan
54:23begitu.
54:25Tapi setidaknya kalau dari perspektif
54:27manusianya atau yang diciptanya itu
54:31bahwa
54:33fatal itu takdir, fital itu ikhtiar.
54:37Kalau hidup hanya berdasarkan kepada
54:39takdir saja dan tidak mau berusaha,
54:43makan tidak makan, menunggu datangnya
54:46takdir,
54:47menunggu datangnya bantuan, tinggal buka
54:50mulut saja mengengadah ke atas, apapun
54:52yang jatuh itu yang akan dimakan. Itu
54:56negatif atau positif?
55:00Ini pertanyaan
55:03pertanyaan Bu Kristina.
55:05Iya, Prof.
55:07Kalau gitu negatif atau positif?
55:10Negatif, Prof. Kalau hanya menunggu dan
55:11tidak berusaha kan kalau hanya
55:14mengandalkan takdir saja kan negatif kan
55:17negatif jadinya kan ada istilah hablum
55:20minallah hablum minanas
55:22kan begitu yang vertikal dan yang
55:25horizontal
55:27ada takdir ada ikhtiarnya
55:31kan begitu ya. Ada takdir ada ikhtiar.
55:34Tapi sebaliknya kalau ikhtiar saja
55:38dan dia enggak percaya pada takdir
55:41dan dia enggak percaya ekstremnya dia
55:43enggak percaya pada kuasa Tuhan ngeri.
55:46Ngeri. Itu
55:48apa ada saja di antara di antara banyak
55:51orang
55:53gitu.
55:54Nah, maka sebenar-benar hidup adalah
55:58bergoyang-goyang.
56:00Ya, dari takdir ke ikhtiar, ikhtiar ke
56:02takdir. Di antara takdir dan ikhtiar.
56:06Kapan dia mengandalkan takdirnya? Kapan
56:09dia didominasi pada ikhtiarnya?
56:13Loh, terus terang saja
56:16saya jadi profesor itu ya lebih banyak
56:19ke fatalnya saya.
56:23Jangankan bercita-cita, jadi profesor
56:25tuh sulit kok, enggak mudah, syaratnya
56:27sukar. Itu urusan prodi, urusan jurusan,
56:31urusan fakultas, urusan universitas,
56:34urusan menteri jadi Jakarta.
56:37Maka saya enggak berani punya cita-cita
56:39jadi profesor itu.
56:41Ya, aku bersikap fatal
56:45tapi tetap ikhtiar. Tapi ikhtiarnya
56:47tidak langsung menuju kepada aku ingin
56:50jadi profesor. Enggak.
56:52Pokoknya kalau ada kegiatan dapat kom
56:55aku simpan. Dapat poin aku simpan. Gitu
56:58aja.
57:00Saya bikin manual gitu secara otomatis.
57:03Enggak usah mikir yang lain-lain.
57:06Tahu-tahu saya umur 53 ditegur saya sama
57:09karyawan, "Pak nomor sikit apa Pak Sit
57:13itu kalau mau ngurus 2 tahun yang lalu
57:14sudah bisa profesor, Pak." Oh apa iya
57:20gitu loh. Itu berarti aku dominan pada
57:24fatalitas saya. Jadi ada ada tempatnya
57:27fatal itu
57:30begitu kan. Nah jadi pandai-pandailah ya
57:33mengatur porsinya ya antara doa dan
57:37ikhtiar. Doa saja kalau enggak
57:39diikhtiarkan ya itu keyakinan kita kan
57:42seperti itu kan begitu.
57:46Baik.
57:47Kemudian
57:51berikutnya
57:52Sahrina Anisa tentang
57:56konsep dunia modern
57:59agama dan filsafat. Begini ya.
58:04Perkembangan filsafat secara
58:07umum dulu ya.
58:09pertama kali itu kan
58:12orang zaman dulu terutama di Yunani ini
58:16sejarah memang dari Yunani.
58:19Orang Yunani itu pikirannya didominasi
58:22oleh mite-mite atau mitos.
58:27Mitos itu apa? Mitos itu menerima
58:31kebenaran begitu saja tanpa memikirkan.
58:37Maka enggak usah zaman Yunani sekarang
58:40ini, enggak usah sekarang ini, enggak
58:42sekarang yang sedang tatap muka ini.
58:44Kalau Bapak, Ibu serta-merta percaya
58:46kepada saya dan tidak memikirkannya,
58:50maka Bapak Ibu belajar filsafat
58:52menggunakan metode mitos.
58:55Menerima begitu saja kebenaran harusnya
58:58dikonfirmasi dengan referensi-referensi.
59:03Sebab apa? Sebenar-benar mitos artinya
59:06ialah keadaan
59:10kondisi ketika kita sedang tidak
59:13memikirkannya.
59:17Kan begitu Bapak Ibu guru, Bapak Ibu
59:21karena ini matematika
59:23bisa membuktikan dalil Pythagoras berapa
59:27buah, berapa macam
59:32ada yang
59:35di atas lima. Lima metode membuktikan
59:38dalil Pythagoras. Tunjukkan jari di atas
59:40lima.
59:43Enggak ada di atas empat.
59:47ini calon doktor pendidikan matematika
59:50loh.
59:52Di atas tiga membuktikan dalil
59:54Pythagoras. Di atas tiga
59:58tiga macam.
1:00:01Di atas dua dua macam.
1:00:04Membuktikan dari Pythagoras.
1:00:09Oke, saya katakan misal dua dua cara ya.
1:00:14Artinya selama ini Bapak Ibu tak sadar
1:00:18belajar matematika menggunakan mitos.
1:00:22Sejak mempelajari dalil Pythagoras di
1:00:24SMP ya begitu, di SMA ya begitu, di
1:00:28mahasiswa ya begitu. S1 ya begitu, S2 ya
1:00:31begitu.
1:00:33Tidak ada perubahan. Itu artinya Bapak,
1:00:36Ibu menerima dalil Pythagoras
1:00:39itu sebagai suatu kebenaran
1:00:42tanpa memikirkannya.
1:00:48Padahal sekarang cek Bapak Ibu, ayo
1:00:53di Google.
1:00:57Bermacam-macam bukti
1:01:00dalil Pythagoras
1:01:02ada berapa? Ada yang bisa menemukan
1:01:04berapa?
1:01:07Bermacam-macam bukti dalil Pythagoras.
1:01:11Coba cari di Google
1:01:16ada yang bisa menemukan ada berapa?
1:01:19Judulnya saja enggak apa-apa.
1:01:22Enam, Prof.
1:01:26Bu Ramadani berapa?
1:01:27Enam, Prof.
1:01:28Enam. Hm.
1:01:31Enam cukup banyak toh Ramadani kan baru
1:01:34satu. Nah berarti selama ini belajar
1:01:38Pythagoras menggunakan pendekatan mitos.
1:01:42Jadi tidak sadar Bu Ramadani sudah
1:01:44termakan mitos
1:01:47kan begitu. Yang lain
1:01:54ini ada 25 pembuktian dari Pythagoras
1:01:57katanya, Prof.
1:01:5825?
1:01:59Iya. Wah, itu
1:02:01judulnya saja tapi belum saya buka ini
1:02:03karena dari script enggak bisa
1:02:04di-download sepertinya.
1:02:05Nah, 25 saya pernah buka ada sampai 100.
1:02:11Nah, itulah
1:02:14jadi
1:02:15orang Yunani dulu
1:02:18terbelenggu dengan pengertian
1:02:21pelangi.
1:02:24Di mana pelangi itu adalah jembatan
1:02:27bidadari,
1:02:29jembatan bagi bidadari yang akan turun
1:02:32dari langit ke bumi.
1:02:35bertahun-tahun diyakini sebagai suatu
1:02:37kebenaran oleh orang Yunani.
1:02:41Ketika kemudian menemukan bahwa pelangi
1:02:44itu bisa dibuat dengan cermin,
1:02:46dicelupkan dari air, pantulkan sinar ke
1:02:50dalam ke tembok, terjadi juga pelangi.
1:02:53Baru disadari ternyata pelangi itu bukan
1:02:56jembatan.
1:02:58Pelangi itulah pembiasaan sinar.
1:03:04Orang Yunani baru sadar itu selama ini
1:03:07dia termakan mitos.
1:03:10Sekali lagi ini adabnya berfilsafat.
1:03:14Jangan sekali-kali gunakan mitos untuk
1:03:16urusan agama.
1:03:19Kalau Anda tidak ingin terjebak di dalam
1:03:21masalah. Aku sudah warning ya. Ini sudah
1:03:25direkam sebagai bukti ya.
1:03:29Aku tidak menyarankan kalau Anda mau
1:03:32menantang ya boleh ya silakan menantang
1:03:35aja tak resiko tanggung sendiri gitu.
1:03:40Sebab apa? Agama itu
1:03:43keyakinan
1:03:45dasarnya keyakinan.
1:03:47Cak saya dalam ketika salat saya dalam
1:03:51keadaan tidak berpikir. Ya betul.
1:03:54Ah, salat kok mikir untung dan rugi
1:03:57berapa menit, sekian menit berapa rupiah
1:04:01ruginya ya. Nah, ya salatnya enggak
1:04:05khusyuk.
1:04:07Bahkan kaum sufi ketika dia berzikir
1:04:11ya dia setengah enggak sadar
1:04:14kan begitu.
1:04:16Berdikir lama sekali dia rasakan
1:04:18sebentar
1:04:20kan gitu kan. Nah, artinya apa?
1:04:24matilah pikirannya. Kan begitu
1:04:28ya toh. Nah, kan begitu ketika doanya
1:04:33dipanjatkan seperti itu. Nah, tidak
1:04:36beserta pikirannya tapi hatinya yang
1:04:38bergerak berjalan kan seperti itu.
1:04:43Baik,
1:04:47itu
1:04:49pertanyaan tentang
1:04:53dunia. Jadi
1:04:55sekali lagi saya katakan tadi
1:05:00struktur dunia ada empat. Struktur
1:05:02kasar, struktur material paling bawah,
1:05:06struktur formal di atasnya, struktur
1:05:09normatif
1:05:11di atasnya lagi yang paling atas adalah
1:05:13struktur spiritual.
1:05:18Normatif ialah ilmunya. Segala macam
1:05:21ilmu termasuk filsafat.
1:05:24itu adalah dunianya normatif
1:05:29kan begitu
1:05:31secara
1:05:33apa? Kalau di bawah dunia normatif
1:05:35adalah dunia bentuk
1:05:38yaitu dunia formal. Forma itu bentuk
1:05:44dan paling bawah sebagai isinya,
1:05:48paling tinggi sebagai spiritualnya.
1:05:53Maka berlaku hukum
1:05:56tidaklah
1:05:58setinggi-tinggi matematika,
1:05:59setinggi-tinggi filsafat. Tidaklah
1:06:01mungkin dia bisa mengetahui relung
1:06:04hatinya
1:06:07secara penuh, secara tuntas.
1:06:12Sehebat-hebat
1:06:14matematika, sehebat-hebat
1:06:17filsafat.
1:06:20Kalau diturunkan lagi di bawah pikiran
1:06:23itu adalah wacana atau ucapan.
1:06:26Sehebat-hebat omon-omon,
1:06:29sehebat-hebat wacana, sehebat-hebat
1:06:32ucapan,
1:06:33tidak akan pernah bisa mengejar
1:06:35pikirannya.
1:06:38Lah wong saya sedang sudah
1:06:40berkeliling-keliling sampai London,
1:06:43Netherland, Paris
1:06:46yang pernah saya kunjungi Makkah, Tokyo,
1:06:48Melbourn.
1:06:51Sementara saya kalau ngomong orang
1:06:54ngomong itu kan gantian
1:06:57bersifat seri.
1:07:00Seri
1:07:04kalau saya panggil ibu kan gantian. Bu
1:07:06Purwaning Rom. Om om. Bu Murdali
1:07:10Murdalilah Lah Lah lah Pak Mulyarna na
1:07:18Alfuzan Zanan.
1:07:20Bu Kartikasari
1:07:23Pak Karudah
1:07:26gantian
1:07:29biar efektif
1:07:31ya. Jadi ngomong itu seri enggak bisa
1:07:34paralel. Aku ingin saya paksakan aku
1:07:38ingin memanggil nama Bapak Ibu semua
1:07:40dalam satu ucapan.
1:07:43Ret
1:07:44[Musik]
1:07:46Bapak Ibu paham enggak?
1:07:51Bu Kristina paham enggak?
1:07:56Iya, Prof. Berurutan, Prof. Enggak bisa
1:07:58manggil berbarengan.
1:08:00Ah, iya. Aku juga enggak paham itu.
1:08:04Bapak, Ibu enggak paham. Aku juga enggak
1:08:06paham.
1:08:09Maka supaya paham
1:08:12dibikin kemampuan berkata manusia itu
1:08:15terbatas.
1:08:19Seri saja.
1:08:21Kalau kau bisa paralel, wah gawat.
1:08:24Apalagi aku bisa ngomong secara
1:08:26sempurna. Wah,
1:08:29bisa bicara kok secara sempurna. Ketika
1:08:33bicara semua bisa mendengar, termasuk
1:08:35binatang-binatang, batu-batuan,
1:08:37tumbuh-tumbuhan semua mendengar
1:08:39kata-kata saya. Wah.
1:08:42Maka dia langsung seketika itu enggak
1:08:44bisa hidup. Maka supaya bisa hidup
1:08:48manusia memang dibikin tidak sempurna.
1:08:53Itulah sebabnya dikatakan manusia itu
1:08:55tidak sempurna sekaligus sempurna.
1:08:58Sempurna sekaligus tidak sempurna
1:09:02atau sempurna dalam ketidaksempurnaan.
1:09:05Tidak sempurna dalam kesempurnaan.
1:09:07Itulah manusia.
1:09:10Coba kalau penglihatan kita dibikin
1:09:12sempurna, woh ngeri aku langsung pingsan
1:09:15aku melihat semua kutu-kutu ya,
1:09:18bakteri-bakteri
1:09:19ya virus-virus. Kok Bapak Ibu dikerumuni
1:09:24virus seperti raksasa coba? Apa enggak
1:09:26ngeri aku? Langsung pingsan saya enggak
1:09:28bisa hidup ya stres saya. Karena apa?
1:09:32Saya punya kemampuan melihat secara
1:09:34sempurna. Coba itu baru penglihat lah
1:09:37pendengaran.
1:09:39Ingin Bapak Ibu menjadi manusia
1:09:41sempurna?
1:09:44Ya kalau ingin dicoba dinyanyikan saja.
1:09:47Aku ingin anakku sempurna.
1:09:50Aku ingin anakku sempurna.
1:09:53Silakan kalau berani. Kalau aku enggak
1:09:55berani
1:09:57ya aku ingin hidupku dan anakku ya
1:10:00bersahaja saja padanya. Udahlah
1:10:04menjalani kodrat hidupnya sebagai
1:10:06manusia yang tidak sempurna. begitu.
1:10:11Nah, gitu. Maka
1:10:15di bawah wacana, di bawah omon-omon itu
1:10:19ada tulisan.
1:10:23Sehebat-hebat orang menulis, tidak akan
1:10:25pernah dia tulisan bisa mengejar suara
1:10:28atau ucapan.
1:10:31Ya,
1:10:33coba sekarang tulislah. Nah, saya mau
1:10:36ngomong ini
1:10:43bentar dulu. Ya sudah tulis
1:10:46tulis.
1:10:48Oh, terbukti toh Bapak Ibu. Enggak bisa
1:10:50nulis toh
1:10:52ungkapan saya.
1:10:55Woh ini Pak ada panah ke atas. Apa
1:10:57maksudnya Bu? Ini Bapak sedang
1:10:58tersengal. Woh,
1:11:01kayak gitu. Enggak percaya saya ya. Ini
1:11:04tulisan sembarang itu enggak ada
1:11:06maknanya. Oh, yang turun. Wah, ini turun
1:11:08kita Bapak tadi itu tersumbat hidungnya.
1:11:11Wah,
1:11:17dan sehebat-hebat seorang pendekar ahli
1:11:20bela diri ya toh ya. Si Satria baja
1:11:26Hitam ya. Ya, Satria Sakti itu tidak
1:11:30akan pernah bisa mengejar tulisannya.
1:11:35itu hukumnya apa? Hukum daripada
1:11:38dimensi atau ber hidup itu dunia itu
1:11:42bermakam-makam.
1:11:44Makamnya material, makamnya formal,
1:11:47makamnya normatif, dan makamnya
1:11:49spiritual.
1:11:53Ya. Oh, saya kalau ke kampus naik motor
1:11:56saya.
1:11:59Saya pakai motornya anak muda. Saya
1:12:00pakai super moto itu yang tril yang
1:12:03rodanya halus untuk jejalan aspal supaya
1:12:05apa? Supaya lincah. Zaman sekarang
1:12:07antisipasi naik mobil pasti terlambat.
1:12:10Karena kalau mau naik mobil dari rumah
1:12:12ke kampus 1 seteng jam tapi naik motor
1:12:15bisa 10 menit. Coba, Pak. Oh,
1:12:18saya mau pensiun malah jadi pembalap.
1:12:19Gimana
1:12:24ya? Dan itu
1:12:25jiwa muda, Prof. Iya. Dan itu memang ya
1:12:28harusnya seperti itu karena apa kalau
1:12:30dimanjakan penyakitnya pada datang
1:12:33kolesterol tinggi, gula tinggi ya darah
1:12:36tinggi kan begitu kan.
1:12:38Nah maka tidak bisa dimanjakan. Kalau
1:12:41Bapak Ibu hidup enak, enak itu apa? Enak
1:12:44itu kalau duduk manis ya. Makan datang
1:12:46sendiri, minum datang sendiri. Oh,
1:12:48silakan saja. Nanti ketemu tidak enaknya
1:12:50nanti penyakit pada berdatangan.
1:12:55Harus kerja keras.
1:12:58Ya,
1:13:00motor saya saya kasih bensin ya. Pertama
1:13:03turbo ya pangkat 10. Wah, supaya jos ya.
1:13:08Saya kasih pelumas ya pangkat 10. Wah,
1:13:10supaya bisa terbang.
1:13:13Tapi sama-sama jam 15.
1:13:1630
1:13:18ya.
1:13:21Satu mengajar di MIPA, satu mengajar di
1:13:24pasca.
1:13:26Mana yang saya jalani?
1:13:28Dua-duanya mentang-mentang motornya
1:13:30baru.
1:13:36Alah pesan sama pabrik.
1:13:39Eh, pabrik aku mau bikin pesan pontor.
1:13:41Harganya ikut mahal enggak apa-apa yang
1:13:43penting ya bisa mengejar tulisan. Nah,
1:13:48gitu. Aku menunggu itu ada pabrik motor
1:13:51yang bisa mengejar tulisan.
1:13:55Jam 09.00 eh jam 15.30 aku ngajar di
1:13:58MIPAP. Sementara jam 15.30 juga aku
1:14:02ngajar pasca. Gimana dua-duanya aku bisa
1:14:04hadir? Silakan pabrik bikin motor. Aku
1:14:08berani bayar mahal. R juta saya bayar
1:14:10kalau bisa.
1:14:14Itulah sebenar-benar
1:14:16aktivitas tidak mampu mengejar tulisan.
1:14:20Tulisan tidak bisa mengejar suara atau
1:14:23ucapan. Ucapan tidak bisa mengejar
1:14:26pikiran. Pikiran tidak bisa mengejar
1:14:29hati.
1:14:32Apalagi tindakan
1:14:34mau mengejar hati. Wah, sudah saya sudah
1:14:38saya beri sarana loh. Saya jalan kaki
1:14:40loh dari Jogja ke Jakarta loh dalam
1:14:42rangka ketemu Anda. Kenapa Anda juga
1:14:44tidak pernah jatuh cinta pada saya? Nah,
1:14:47itu ya
1:14:49e jalan kaki e punya nadar ya ya dalam
1:14:54rangka supaya dicintai ya. Nah ya
1:14:57jangankan jalan kaki pakai ya sudahlah
1:15:00kalau begitu aku tingkatkanlah aku pakai
1:15:02surat ya aku bikin bukulah isinya
1:15:05tentang puja-puji kamu semua gitu toh.
1:15:08Tapi aku mengharapkan supaya kamu bisa
1:15:10mencintaiku. Walah,
1:15:14tulisan tidak akan bisa mengejar hati.
1:15:20Ya sudah, kalau begitu aku tingkatkan.
1:15:22Aku ingin kursus pidato ya. Pidato
1:15:26bergaya
1:15:28presiden ya toh. Pidato bergaya gubernur
1:15:31atau pidato bergaya bupati yang sekarang
1:15:34didemo.
1:15:37Kamu milih aku pidato seperti apa? Yang
1:15:39penting kamu nanti kalau aku sudah
1:15:41pidato, kamu cinta sama saya. Ya, gitu.
1:15:50Itulah adabnya orang berfilsafat.
1:15:55Jadi jelas sekali.
1:15:58Itulah sebabnya kenapa saya
1:16:01menggariskan bahwa jangan sekali-kali
1:16:04gunakan pikiran atau logika untuk
1:16:06mengejar hati,
1:16:08untuk berusaha mengungkap misteri
1:16:10ketuhanan.
1:16:12Karena misteriuhan itu ranah yang
1:16:14berbeda, dimensi dan makamnya lebih
1:16:16tinggi.
1:16:18Gunakan pikiran kita boleh,
1:16:22gunakan ucapan kita boleh, gunakan
1:16:25tindakan kita boleh. Dan kadang-kadang
1:16:27diwajibkan. Nah, kalau kita salat
1:16:31maka salat itu menjadi lengkap
1:16:35ya. Ada tindakannya
1:16:38ya. Ada tulisannya enggak ya? Adalah
1:16:41jadwalnya ada kok ya enggak sembarang
1:16:44salat itu. Ada tulisannya, ada
1:16:46ucapannya. Jelas ya. Allahu Akbar.
1:16:50Ada ucapannya ya. Ada pikirannya ya
1:16:53jelas pikiran itu setidaknya menuntun
1:16:55supaya kita tidak lupa berapa rakaat
1:16:58toh. Nah
1:17:00hatinya ya jelas dong kita sedang olah
1:17:02hati.
1:17:04Coba itulah hebatnya ya beragama Islam
1:17:09ya satu hari lima kali kita digodok di
1:17:13laboratorium
1:17:15menginteraksikan struktur dunia ni
1:17:17secara filsafat apa enggak hebat itu kan
1:17:20berarti belajar filsafat di sini sumber
1:17:22daripada kita banyak mensyukuri segala
1:17:24sesuatu
1:17:26kan begitu
1:17:29kita sampai jam berapa Hah.
1:17:345 17 10, Prof.
1:17:36Oh, 17 10. Entar ini meneruskan
1:17:39pertanyaan-pertanyaan itu.
1:17:44Oh, iya. Ini kaitannya dengan konsep
1:17:48dunia tadi. Di awal zaman Yunani itu
1:17:53kemudian pikiran orang ingin mengetahui
1:17:56apa yang dibuat.
1:17:59Api dibuat dari apa? Bumi dibuat dari
1:18:02apa? Gunung dibuat dari apa? Batu-batuan
1:18:04dibuat dari apa?
1:18:08Artinya ternyata dia menyimpulkan bahwa
1:18:11bumi itu dibuat dari api, angin, udara,
1:18:13dan air. Kan begitu.
1:18:17Setelah periode berikutnya adalah
1:18:20periode di mana ya kemudian ingin
1:18:24mengetahui tentang diri manusia maka
1:18:27lahirlah filsafat manusia.
1:18:30Terus yang sudah saya terangkan di dalam
1:18:31video
1:18:33ada kemudian filsafat tengah yaitu zaman
1:18:36gelap.
1:18:38Zaman gelap abad ke-12 itu ketika
1:18:43kebenaran
1:18:44hanya bisa ditegakkan dan hanya bisa
1:18:48dibuka dan hanya bisa diluncurkan
1:18:50diucapkan oleh gereja.
1:18:55Orang biasa kalau mau mengungkap
1:18:57kebenaran bisa dihukum bahkan dibunuh.
1:19:00abad ke-12. Kira-kira seperti itu. Nah,
1:19:04salah satunya yang kemudian menjadi
1:19:06kontroversi
1:19:08lahirnya periode berikutnya yaitu
1:19:11dari gereja ada namanya kebenaran
1:19:14geosentris.
1:19:17Geosentris itu artinya gereja punya
1:19:19pendapat
1:19:21bahwa
1:19:23bumi itu sebagai pusat perputaran alam
1:19:27semesta.
1:19:29bulan-bulan, bintang, matahari, planet
1:19:33ya ya semuanya itu berputar mengelilingi
1:19:37bumi,
1:19:39kan begitu.
1:19:42Nah,
1:19:44kemudian
1:19:46dalam pemikiran selanjutnya karena
1:19:48pengamatan, karena adanya alat dan
1:19:50sebagainya mulai Galilea, Galilei, Bruno
1:19:54sampai kepada Kopernikus
1:19:57menemukan kebenaran baru yang disebut
1:20:00heliosentris.
1:20:02Bukan bumi yang sebagai pusat melainkan
1:20:05matahari.
1:20:07Nah, itu bisa menjadi masalah. Bahkan
1:20:10Galileo Bruno itu dihukum mati
1:20:13ya. Kopernikus juga kalau enggak salah
1:20:16selamat karena bukunya disimpan setelah
1:20:18itu dibaca. Maka terjadilah revolusi
1:20:21koernikan
1:20:22itu.
1:20:25Nah, baru terbitlah zaman pencerahan di
1:20:29mana kebenaran menjadi hak lagi warga
1:20:32biasa, tidak didominasi oleh gereja.
1:20:36Kalau ada orang gereja, saya di sini
1:20:38bisa memberi solusi karena saya tanya
1:20:41dari orang gereja katanya sekarang juga
1:20:43masih punya pendapat semacam itu. Tapi
1:20:45saya dari solusi saya adalah kebenaran
1:20:49berdimensi dan berkonteks-konteks
1:20:51dari kacamata mata. Nah, itu ya dari
1:20:56kacamata mata ada kacamata telinga
1:21:00ya. dari kacamata-mata
1:21:04ya semua apa enggak apa ada apa semua
1:21:08apa ada yang tidak setuju bahwa bumi itu
1:21:11apa matahari terbit di timur
1:21:15dan dia terbenam di barat semua setuju
1:21:17toh
1:21:20bulan-bulan setuju setuju
1:21:22bintang-bintang setuju ya sudah itu
1:21:25artinya apa itu artinya bumi sebagai
1:21:28pusat
1:21:30dan bintang-bintang bulan-bulan matahari
1:21:32mengelilingi bumi dari kacamata mata
1:21:37pada level itu. Karena kebenaran itu
1:21:39berdimensi dan untuk kepentingan
1:21:41masyarakat pada saat itu level itu
1:21:46pikiran saya mungkin salah gitu ya,
1:21:50sekedar mencari ee pembenaran dalam hati
1:21:53supaya supaya ada pendinginan suasana
1:21:56gitu ya kan begitu.
1:21:59Tapi kalau kita lihat ke sini, semua
1:22:02teknologi,
1:22:04ruang angkasa, pesawat,
1:22:07ilmu bumi saintifik, semuanya itu
1:22:09kelihatannya
1:22:11yang menggunakan yang heliosentris
1:22:14berpusat kepada matahari.
1:22:17Itu contoh ya. Nah, maka beda keyakinan
1:22:22tadi jawabannya beda keyakinan kalau itu
1:22:25level
1:22:27spiritual.
1:22:29itu urusan Tuhan,
1:22:32kebenarannya
1:22:33itu kuasa Tuhan. Tapi kalau urusan
1:22:36manusia
1:22:38itu ikhtiar mencari verifikasi,
1:22:43triangulasi
1:22:45atau contoh-contoh
1:22:47itulah sebetulnya ya.
1:22:51Baik, yang berikutnya
1:22:54ini sudah jam .00
1:22:57Ee
1:22:58yang berikutnya
1:23:04ee kemudian masih ya masih pertanyaan Bu
1:23:07Sahrina ini.
1:23:09Yang berikutnya
1:23:12orang beromon-omon berfilsafat itu kan
1:23:14omon-nomon. Dia adalah omon-omon kalau
1:23:17kalau enggak ada filsafat. Dia adalah
1:23:19filsafat kalau enggak ada omon-omon. Ya,
1:23:21sebenar filsafat adalah ilmu omon-omon.
1:23:25Maka ilmu omon-omon itu separuh dunia,
1:23:28separuh kebenaran, separuh yang lain
1:23:31adalah
1:23:33ilmu tindakan.
1:23:35Kalau dalam bahasa Jawa,
1:23:37ilmu itu kalakone, kanti laku. Ilmu itu
1:23:40tercapainya
1:23:42dengan dikerjakan.
1:23:44Ini fenomena pilpres politik di
1:23:46Indonesia
1:23:48ya toh ya. Presiden calon presiden yang
1:23:52pertama banyak omon-nomonnya dikatakan
1:23:55begitu kira-kira di medsos. Kalau saya
1:23:57salah ya tolong dikoreksi ya. Capres
1:24:00yang lain dikatakan hanya kerja, kerja
1:24:03dan kerja gitu ya. Entah periode kemarin
1:24:08atau periode sebelumnya kan begitu
1:24:10antara omon-omon dan kerja-kerja. Mau
1:24:11mencari manusia kan tidak sempurna,
1:24:13sulit. Yang cang sini ini hanya
1:24:16omong-omon saja banyaknya. Yang sini
1:24:18hanya kerja kerja kerja saja kurang
1:24:20omon-nomon ya
1:24:22kan begitu. Yang ngomong-nomon dicari
1:24:25mana kerjamu gitu. Sedangkan yang
1:24:27kerja-kerja dicari ya dihujat ya toh ee
1:24:30dibantah dan seterusnya difitnah dan
1:24:32seterusnya. Maka kalau mau benar ya
1:24:35digabungkan saja. Yang ngomong-omong
1:24:37bekerja sama dengan yang kerja-kererja
1:24:39kerja kan begitu.
1:24:41Tapi kan sulit dalam politik ya toh.
1:24:44Maunya yang ngomong-nomon ya omon-omon
1:24:46yang kerja-kerja yang minggir kan begitu
1:24:48kan. Namanya politik sesuai dengan
1:24:50kebutuhannya kan begitu. Maka diprotes
1:24:56oleh Aguste Komte. Aguste Komte protes
1:25:01sama orang filsafat. Eh orang filsafat
1:25:04hanya omong-omon saja.
1:25:06Kapan ya kontribusinya? Enggak ada
1:25:08manfaatnya. Kayak gitu kayak gitu. Kalau
1:25:11mau bermanfaat sekarang konkret
1:25:12tindakannya. Ah, ini
1:25:15ini pro kepada kerja-kerja dan kerja.
1:25:22Akhirnya dia bikin paradigma baru
1:25:24membuat buku yang namanya positif.
1:25:27Yang namanya positif
1:25:29ya menjadi tercengang orang itu terus
1:25:33mentak. Karena apa?
1:25:36Karena agama ditaruh di bawah
1:25:40paling bawah agama di atasnya itu baru
1:25:42filsafat.
1:25:44Di atas sendiri itu metode saentifik.
1:25:46Wah itu geger itu seluruh dunia
1:25:52ya. Yang biasanya agama kan taruh di
1:25:54atas
1:25:55karena kok taruh di bawah.
1:25:58Nah pertanyaannya begini.
1:26:01Bapak-bapak ini yang sudah punya
1:26:04pengalaman membangun rumah siapa? Pak
1:26:06Ulia
1:26:07pernah membangun rumah?
1:26:09Saya
1:26:10pernah, Prof.
1:26:11Ah, pernah. Bu Dewi pernah bangun rumah?
1:26:14Sudah, Prof. Pernah.
1:26:16Saya tanya
1:26:17yang paling bawah daripada
1:26:20pondasi
1:26:23yang paling bawah daripada rumah itu
1:26:25namanya apa, Bu?
1:26:27Pondasi.
1:26:28Pondasi. Baik. Saya tanya sekarang di
1:26:31bawah pondasi itu kalau Bapak Ibu teliti
1:26:33diselidiki itu ada apa coba kalau
1:26:35diamati di bawah pondasi
1:26:38tanah Prof. Tanah, Bu Dewi
1:26:41ada tanahnya campur pasir, ada ininya
1:26:44episan tanah ya.
1:26:46Itu namanya ilmu pertukangan belum
1:26:49berfilsafat.
1:26:51Lapisan tanah ya, Prof.
1:26:52Itu namanya ilmu pertukangan belum
1:26:53berfilsafat. Kalau mau berfilsafat di
1:26:56bawah pondasi itu ada doa.
1:26:59Oh, iya.
1:27:01Ikhtiar, Prof.
1:27:02Langsung setuju toh.
1:27:04Langsung setuju toh. Lah ya
1:27:05setuju, Prof. Doa sebelumnya didoain
1:27:07dulu. Itu artinya apa? Itu artinya apa?
1:27:11Doa aku letakkan di bawah pondasi.
1:27:15Sebab sebenar-benar pondasi yang paling
1:27:17kuat itu doa
1:27:19atau agama, gitu loh.
1:27:23Jadi kalau kita mau membangun
1:27:26segala sesuatu, membangun ide, membangun
1:27:28pikiran, membangun ilmu, maka agama
1:27:30ditaruh di bawah. Apa sih sulitnya?
1:27:33Apa sedihnya? Apa buruknya?
1:27:38Kalau kita mau melaksanakan,
1:27:40mengamalkan, oh bagaimana cara menikah,
1:27:44bagaimana hubungan suami dan istri,
1:27:46anak-anak dan sebagainya. Ah, kita
1:27:48mengamalkan agama. Namanya mengamalkan
1:27:50agama, agama ditaruh di atas
1:27:54kemudian kita jabarkan tarik-tarik ke
1:27:56bawah. Ini dalilnya, ini ayatnya, ini
1:27:59sunahnya.
1:28:01Kan begitu. Jadi itu namanya dinamis.
1:28:05Orang cerdas mah dinamis.
1:28:07Kadang-kadang di atas, kadang-kadang di
1:28:09bawah. Kan begitu. Yang di atas itu
1:28:12adalah sedang dijabarkan atau namanya
1:28:15metode analitik. Yang di bawah
1:28:18dikonstruksikan
1:28:20namanya disintetiskan.
1:28:23Jadi benar
1:28:26yang disampaikan oleh Aguste Konte.
1:28:28Kenapa pada ribut? Aku juga pertama kali
1:28:31belajar pisawat juga ribut aku.
1:28:34Tapi setelah saya renungkan begitu ya,
1:28:38oh iya, oh iya, oh iya ya, ya. Iya.
1:28:41Memang orang itu harus sesuai dengan
1:28:43ruang dan waktunya gitu. Sesuai dengan
1:28:48konteksnya. Apa konteksnya?
1:28:51Nah, itulah ini pertanyaan Bu siapa nih
1:28:56tadi?
1:28:58Darina. Prof.
1:28:59Sarina mana? Bu Sarina
1:29:01saya, Prof.
1:29:01Di mana posisinya, Bu?
1:29:03Di Medan, Prof.
1:29:04Oh, di Medan, ya. Jadi, itulah.
1:29:09Nah, kemudian setelah itu bergeser zaman
1:29:13kontemporer dengan struktur lima
1:29:15struktur itu.
1:29:18Yang paling bawah adalah
1:29:22arkaik.
1:29:25Arkaik manusia batu.
1:29:28di atasnya adalah tribal, manusia tribal
1:29:32di atasnya adalah manusia tradisional.
1:29:37Tiga ya. Di atasnya adalah manusia
1:29:40feudal, di atasnya adalah manusia
1:29:42modern.
1:29:44Paling atas adalah kontemporer. Nah,
1:29:47kita itu kontemporer.
1:29:50Sekarang saya tanya, manusia batu itu
1:29:53berada di mana?
1:29:56sudah ada dalam video saya.
1:30:00Eh, ini berarti ini nyetelnya enggak
1:30:03kafah ini ya. Muternya enggak kafah.
1:30:07Manusia batu itu berada di mana, Pak? Di
1:30:10pedalaman Afrika atau Amerika Latin?
1:30:14Jangan di Indonesia lah, ya.
1:30:18Ini berarti muternya ini belum
1:30:20berkali-kali.
1:30:23Nanti diputar lagi, Pak videonya,
1:30:26ya.
1:30:28Manusia batu itu adalah kita sendiri
1:30:34ya, yang sudah diberi sarana untuk
1:30:38mengetahui
1:30:39menuju ke arah kebenaran menjadi manusia
1:30:43jujur tapi tetap bebal. Dikasih bacaan
1:30:46enggak mau membaca, dikasih video enggak
1:30:47mauemar, itulah sebenar-benar manusia
1:30:50batu.
1:30:56Itu aja kok repot yah. Nyari sampai di
1:30:59Afrika
1:31:02ya. Pegang diri sendirilah ya. Ya. Nah,
1:31:06begitu. Jadi manusia kontemporer juga
1:31:08saya sendiri.
1:31:11Jadi sebenar-benar filsafat itu siapa
1:31:13sih? Diriku sendiri telah filsafat.
1:31:16Loh, otoriter ya aku yang sedang
1:31:18bersifat otoriter.
1:31:20Demokratis ya aku yang sedang bersikap
1:31:22demokratis. Ah, ketika tanggal muda ya
1:31:25masih banyak uang, aku bersifat
1:31:27demokratis.
1:31:30Tapi tanggal tua ya ah duit menipis ya.
1:31:33Kalau demokratis ya habis uangku ya.
1:31:35Sudahlah aku otoriter sedikit.
1:31:36Sedikit-dikit dilarang. Sedikit-dikit
1:31:38dilarang. Dilarang cuma sedikit
1:31:42ya.
1:31:44Otoriter aku. Nah, jadi otoriter
1:31:49demokratis enggak usah cari-cari sampai
1:31:51Amerika ya. Pegang aja di dat kita
1:31:53masing-masing.
1:31:56Oh, saya pikir-pikir ini saya sekarang
1:31:58demokratis ya. Ya, maklum Pak ini
1:32:02tanggal muda
1:32:04ya. Toleransi aku dengarkan yaitu kan.
1:32:09Ya, begitu tanggal tua belum kajian
1:32:11duitnya diminta sama anak macam-macam
1:32:14untuk membayar ini sebagainya sudah
1:32:15mulai menipis g uring-uringan toh.
1:32:18Sedikit-dikit dilarang dikit-dikit
1:32:19dilarang. Dilarang cuma sedikit jadi
1:32:22pelawak.
1:32:25Baik itu aja Bapak Ibu masih banyak
1:32:28pertanyaan yang kalau diteruskan jadi
1:32:32heboh ini kita padahal jam 18.00 Ada
1:32:35jadwal yang jam kedua nanti seperti ini
1:32:38sama pertanyaannya
1:32:41ya. Makanya perlu direkam toh ya. Tolong
1:32:44Pak siapa Bu? Siapa nih Bu Sahina? Ya.
1:32:50Tolong aku dikirimi rekamannya
1:32:53ya video ini supaya dikirimi di anu saja
1:32:56di WA ini saja supaya kita bisa buka
1:32:59bareng-bareng lain juga kalau itu
1:33:01bermanfaat
1:33:02ya. Apakah yang lain ee apa ada yang
1:33:07keberatan enggak ya kira-kira ya? Toh
1:33:09ini tidak mengenai siapa-siapa toh. Kita
1:33:11bersifat Om kalau bisa bermanfaat kita
1:33:13YouTubek-an enggak apa-apa nanti ya kan
1:33:16begitu. Kalau di YouTube-kan lebih
1:33:18mudah, lebih ringan muternya
1:33:21dan
1:33:22tersimpan jaminannya tersimpan gitu dan
1:33:24bisa dipakai seperti video-video saya
1:33:26yang dulu juga aku YouTube-kan supaya
1:33:28bisa dibaca orang lain gitu. Baik, itu
1:33:31saja Ibu dan Bapak sekalian. Pas banget
1:33:34175 ee 10. Saya minta maaf kalau ada
1:33:37kesalahan dan kekurangannya. Saya
1:33:39mengucapkan selamat berkarya, tetap
1:33:41semangat, semoga tetap sehat, yang
1:33:44penting barokah ya.
1:33:46Amin. Amin.
1:33:47Ini Bu siapa ini?
1:33:48Yang penting bahagia sekarang. Kalau
1:33:50sayaab
1:33:52yang penting barokah. Ya Allah. Bahagia
1:33:54kalau enggak berkah. Iya.
1:33:58Semoga kita tetap selamat di dunia dan
1:34:00akhirat ya. Amin.
1:34:04Allah Subhanahu wa taala.
1:34:05Amin.
1:34:06Kita tutup dengan baca hamdalah.
1:34:09Alham alhamdulillahabbil alamin.
1:34:12Asalamualaikum warahmatullahi
1:34:14wabarakatuh. Sampai jumpa.
1:34:15Waalaikumsalam warahmatullahi
1:34:17wabarakatuh. Warahmatullahi wabarakatuh.
1:34:18Selamat sore, Prof.
1:34:20Yeah.