Free YouTube Transcribe

Video transcript

KULIAH 1 Prof Marsigit, MA RABU 13 AGUST 2025 TOPIK : ONTOLOGI

Muhammad Wahid · 4,683 words · 22 min read

Want to search this transcript, jump the video from any line, or download it as TXT, SRT, or VTT?

Open in the transcript tool

Full transcript

0:00zaman sekarang

0:02sudah banyak pembicaraan

0:05belum direkam tapi enggak apa-apa lebih

0:07baik terlambat daripada tidak gitu ya.

0:10Oke.

0:12Baik.

0:14Nah, jadi

0:17itu Bapak Ibu ee kalau sekarang

0:21kalau sudah perkenalan tadi ya sebagian

0:25saya sudah kenal. Sekarang Bapak Ibu

0:26kalau ingin mengenal saya

0:29ya, kalau Pak Said Bunoka tentu sudah

0:31lah ya. Silakan Bapak Ibu buka

0:36apa Google

0:40kemudian search Marsigit gitu. Search

0:43Marsigit.

0:46Pak, saya itu mau belajar filsawat kok

0:48disuruh mencari marsikit.

0:52Apa hubungannya filsawat dengan

0:53marsikit? Iya.

0:56Sebenar-benar filsafat adalah olah

0:58pikir. Ya, Bapak, Ibu belajar filsafat

1:02Pak Marsigit, maka saya bisa

1:04mendefinisikan sebenar-benar filsafat

1:06adalah pikiran Pak Marsikit.

1:10Oh, gitu enak ya, Pak ya. Ya, gitulah

1:14ya, Pak Sahid

1:17ya. Besok mendahului ya. Besok kalau

1:20diteruskan Pak Sahid, ya sebenar-benar

1:21firsa adalah pikiranku ya.

1:24Pak Sahid kan begitu.

1:27Sudahlah kalau terpaksa memang kok

1:29gitu-gitu ya sudahlah sebenar-benar

1:32adalah pikiran Ibnu Noka. Boleh boleh ya

1:36sebenar-benar filsawat adalah pikiran

1:38Anda masing-masing. Kenapa tidak bisa

1:41begitu sudah semuanya lega kan

1:46ya?

1:47Silakan dicari Google Marsikit yang all

1:51file. Kemudian juga mungkin klik image

1:54gitu

1:56ya.

1:57Ya, alhamdulillah track track record-nya

2:00tidak ada yang membahayakan

2:05ya gitu. Kalau sudah silakan dibuka

2:10YouTube kemudian search di YouTube itu

2:13Marsikit juga ya

2:16di YouTube buka Masikit.

2:20Kalau saya sih Facebook juga ada tapi

2:23sekarang sudah tidak efektif lagi ya,

2:26tidak terlalu aktif Facebook saya

2:30ya. Sudah mulai capek ya. Sudah ada

2:34saingannya cucu saya.

2:38Ya, saya baca saja Facebook-nya cucu

2:40saya sudah asik gitu.

2:44Tapi Instagram juga punya aku, tapi

2:47enggak pernah saya manfaatkan.

2:50Terus Twitter juga ada, tapi enggak

2:52pernah saya manfaatkan.

2:55Bahkan

2:56yang Telegram juga ada, tapi enggak

2:59enggak pernah saya manfaatkan

3:02ya. Cuma

3:04YouTube sama

3:07ini aja apa?

3:10YouTube sama apa?

3:15Yang ada di Google itu ya.

3:21Nah,

3:24kita sampai jam berapa, Bapak Ibu nanti?

3:2819.40, Prof.

3:311940.

3:37Nah,

3:39sekarang saya akan kirimkan lagi ke WA

3:43Bapak seperti yang aku lakukan tadi di

3:46kelas A.

3:50Di kelas A yang saya lakukan di kelas A

3:54ya.

3:57Baik.

3:592000 ee

4:022025

4:052025

4:0725

4:112025

4:15loh.

4:17Oh, 25 kok

4:2125

4:24gasal pemat B 25 gasal

4:28A. Oke,

4:32sekarang

4:34saya kirimkan

4:37gambar

4:38video saya.

4:40Pamat 2000 gasal pat 2000 gasal pat

4:46mana?

4:502025

4:52gasal primat B mana tadi?

4:5625 gasal primat AAT

5:03B.

5:08Jadi kalau Bapak Ibu lihat di

5:14lihat di YouTube ada salah satu video

5:17ini ya kan ya.

5:24Kemudian

5:26saya kirimkan

5:29narasi berikutnya

5:33yaitu Nah,

5:37jadi

5:38yang sudah bisa diperkirakan Bapak Ibu

5:42sama juga Bapak Ibu jadi dosen ya juga

5:46sama ya hanya saatnya beda peran saja ya

5:51peran sebagai dosen.

5:53peran sebagai mahasiswa

5:57ini satu kecanggihan suatu kecerdasan

6:00emosional dan kecerdasan sosial ya.

6:04Ya. Jadi saya berperan sebagai dosen

6:09pada saat itu juga umur saya sudah 50

6:12tahun. Saya S3-nya lulus umur 50 tahun

6:19ya. 40, umur saya sudah 409

6:23gitu ya. Masih bersusah-susah cari

6:26pembimbing ya, sulit ya belum tentu

6:30gampang ketemu dan sebagainya. Jadi bisa

6:32merasakan susahnya mencari pembimbing

6:34begitu ya.

6:37Oleh karena itu saya sebagai pembimbing

6:40sekarang juga kalau bisa jangan membuat

6:42mahasiswa tuh susah lah ya. Maka saya

6:45bikin WA grup untuk bimbingan.

6:49Saya di WA itu saya tayangkan jadwal

6:51saya. Silakan kalau menemui saya

6:54kejarlah saya itu di mana gitu ya. Di

6:57kuliah mau masuk kuliah setelah kuliah

6:59boleh setiap saat ya gitu. sehingga

7:03mahasiswa

7:05tidak ada yang terhambat urusan

7:07administrasi untuk urusan yudisium

7:10segala macam gitu loh.

7:13itu itulah sebabnya maka sebetulnya ee

7:18semangatnya

7:20dari sisi kemanusiaan ini kan

7:24saya punya semangat membantu Bapak Ibu

7:28semuanya dalam rangka untuk memperoleh

7:30gelar doktor itu. Apa yang bisa

7:34semaksimal

7:36seoptimal yang saya kerjakan sesuai

7:38dengan bidang saya dalam perkuliahan ya

7:40perkuliahan begitu.

7:42Oleh karena itu juga saya tidak

7:44menampilkan sosok seorang yang killer

7:47atau apa. Tidaklah ya.

7:50Saya ingin menampilkan sosok dan sejak

7:53dulu juga begitu berusaha sosok yang

7:56agak soft gitu ya.

7:59Karena terlahir saya penampakan luar itu

8:03sudah kelihatan hard

8:09ya. Maka saya berjuang supaya gimana ya

8:13dirasakan walaupun kelihatannya hard

8:15tapi dirasakan itu soft gitu.

8:20Maka saya menghilangkan unsur-unsur yang

8:23menyebabkan ketegangan-ketegangan di

8:25dalam perkuliahan.

8:28Nah, salah satu ketegangan yang paling

8:30menegangkan

8:33itu adalah ujian gitu loh. Maka saya

8:36tidak menyelenggarakan ujian.

8:39tidak ada ujian tengah dan tidak ada

8:41ujian akhir. Jadi enggak usah khawatir

8:43Bapak Ibu ya, cukup diganti dengan

8:46tugas-tugas saja gitu.

8:49Maka saya menggunakan sistem asesmen

8:52gitu kan, sistem menabung ya,

8:58tugas-tugas Bapak Ibu yang penting angar

9:01yang penting kalau kuliah dijalankan ya

9:03diikuti saja tugas-tugas dikerjakan

9:04selesai sudah diikuti saja sudah terbaik

9:08gitu. gitu. Maka

9:12kuliah itu juga ada semacam semangat,

9:15ada rasa senang, ada harapan. Maka

9:17sebagai semangat, rasa senang dan

9:19harapan belum ketemu apa baru ketemu

9:23pertama kali kepada saya itu sudah saya

9:25kasih nilai A,

9:28Bapak, Ibu. Nilainya sudah A semuanya.

9:31Nah, itu apa amanah?

9:34Ya,

9:36tinggal mempertahankan saja.

9:39sampai akhir semester nanti amanah itu

9:41dijaga.

9:43Karena dalam kehidupan sehari-hari itu

9:45banyak sekali hal-hal yang bisa

9:48mendegradasi amanah itu. Antara lain

9:51tidak mengerjakan tugas,

9:53tidak aktif kuliah, dikurangi,

9:56dikurangi, dikurangi. Jadi ada unsur

9:58pengurangan gitu.

10:01Kalau tugas belum baik ewat

10:05itu kan pikiran kita masing-masing.

10:08Saya tidak memberi standar untuk pikiran

10:12harus begini begini. Tidak lah. Yang

10:13penting dikerjakan tugas

10:17gitu kan. Tugasnya dikerjakan sesuai

10:20dengan kriteria filsafat dan tugas

10:22filsafat beda dengan tugas matematika.

10:26Itu

10:28itu Bapak Ibu.

10:30Nah, kalau riwayat saya sendiri, saya

10:32dulu S1-nya pendidikan matematika sama

10:34dengan Pak Sahid ini. S2-nya kalau Pak

10:37Sahid master sains di Belanda.

10:42Saya dulu S1-nya dengan Prof. Marsigit

10:44juga kok.

10:46Masih ingat enggak? Matematika

10:48belajar basic dulu

10:52pakai pakai komputer Apple layar hitam

10:56tulisan biju

10:59S2-nya Pak Said di Belanda, saya di

11:02Inggris ya, Pak Sahid ya.

11:04Ini Pak Sahid ee ambil dapat MSC, saya

11:07dapat MA gitu ya.

11:10E S3-nya saya yang filsafat gitu.

11:16nya saya filsafat di Gajah Mada ya,

11:17doktornya dokter filsafat saya. Sehingga

11:21agak lengkap saya

11:23dulu S2 S2 di Inggris di University of

11:27London itu saya primary

11:30matematics ini eh

11:33primary matematic

11:35ya

11:38education

11:40primary matematic education. Saya

11:41pikirnya waduh waktu kuliah saking

11:43semangatnya pikiran saya ya sama sajalah

11:45matematic education gitu ada primarynya

11:48apa itu primary enggak begitu paham

11:51primary ya

11:53setelah pulang disuruh ngajar di PGSD

11:55saya

11:57ya loh kok saya disuruh ngajar PGSD

12:00kenapa ya loh Bapak dulu kan proyeknya

12:03ini proyek PGSD

12:04kan proyek PGSD Prof. Iya. Ternyata

12:07primary matematik education itu kalau

12:10diterjemahkan PGSD.

12:13Jadi lucu saya sudah lulus lulus kuliah

12:17belum tahu prodinya.

12:22Ini lucu ya. Oh ya. Saya pikir

12:24pendidikan matematika. Oh iya pendidikan

12:26matematika di SD namanya. PGSD. Oh iya.

12:29Ah, sampai sekarang itu saya ngajar di

12:32SDV VIP itu S1 PGSD, S2 PGSD, S3 PGSD,

12:36mahasiswa PGSD juga sambil lulus gitu

12:38ya. Itu pas cerita saya begitu ya. Ya,

12:45jaya guru besar saya adalah guru besar

12:48dalam bidang ilmu pendidikan matematika

12:52gitu. Tapi saya ternyata punya tugas

12:54pokok di PGSD.

12:57Nah, sedangkan S3-nya adalah doktornya,

13:01doktor filsafat kan begitu.

13:04Ini agak lengkap. Jadi, makanya ya masih

13:06padat ini acara ngajar

13:09entah saya enggak pernah ngitung. Diberi

13:11tugas laksanakan saja baru kalau sudah

13:13capek baru ae gitu gitu.

13:17Baik,

13:19siap.

13:21Sip.

13:24Sudah kalau begitu nih sudah saya

13:26kirimkan

13:28yang

13:30entar

13:33S3

13:36S 25 S3 B 25 S3

13:43BAT B Oh iya ini

13:5025 S3 PMAT ee 25 S3 prat ini saya

13:54kirimkan sekarang kepada Bapak Ibu

13:58omon-omonnya ya toh dari video itu

14:04omon-omonnya dari video itu.

14:06Nah itu

14:10sudah ada tugas satu.

14:15Nah ini

14:19Pak Rid ini dari mana, Pak? Posisi di

14:22mana?

14:24Saya di Klaten, Pak.

14:26Oh, Klaten. Oh, iya.

14:30Pak Rektor Klaten itu dulu lulus ketika

14:33saya jadi direktur Pasca. Ya.

14:35Iya, Ro.

14:36Iya. S3 dari UNY. Ya,

14:40kalau enggak salah PEP, Pak. Ya, itu

14:43Prof. Triono. Nggih.

14:44Iya,

14:45Gigh. P

14:46Oh, sudah profesor ya sekarang?

14:47Sudah.

14:48Oh, iya. Alhamdulillah.

14:50Boleh dibaca, Pak. Tugas satu, Pak. Pak

14:53Nggih. Siap, Bapak.

14:56Tugas satu memutar beberapa kali sampai

14:59paham video kuliah filsafat pertama

15:02Bapak Marsikit ee tanggal 17 Oktober

15:06tahun 2019 dan menerangkan atau

15:09menguraikan

15:10ee ditulis dalam ee format PDF dengan

15:14format bebas dan dikirim ke email

15:16marsigit@ungy.ac.id.

15:20paling lambat tanggal 19 Agustus

15:242025 pukul 24 WIB. Gitu. Jadi itu nanti

15:30sebagai portofolio. Jadi saya

15:33memanfaatkan

15:35kalau di Australia portofolio itu dulu

15:37waktu belum efektif kalau komputer ya

15:41pakai bipet-bipet pakai lemari-lemari

15:44itu ya pakai apa map-map gede itu untuk

15:47menyimpan ya. Kalau sekarang ya pakai

15:50file-file. Nah, kalau saya menggunakan

15:52email,

15:54nah ternyata kenapa? Ternyata emil

15:56enggak pernah hang

15:58itu. Saya suka email gitu daripada

16:01Bismart karena Bismart pernah hang gitu

16:03ya, repot ya.

16:06Ya, Bismart ya besar cuma saking

16:10banyaknya yang menggunakan bersamaan

16:11pula pada saat itu sehingga pelatihan

16:13kebetulan dipakai untuk pelatihan juga

16:15ya. Nah,

16:18ternyata pengalaman saya nyimpan di

16:23email itu ini entah resikonya apa Pak

16:26Sayid yang tapi sampai sekarang

16:27aman-aman saja enggak ada masalah.

16:30File-file itu terkumpul di sana kalau

16:32dibuka kembali ya tetap muncul. Jadi ini

16:34nanti di akhir semester nanti kalau saya

16:36rekap semuanya tugas-tugas muncul siapa

16:39yang belum mengumpulkan tugas, siapa

16:41yang tugasnya terlambat dan sebagainya

16:42akan terrecord di sana di email itu

16:46gitu. Jadi tolong Bapak Ibu jaga amanah

16:49saya ya toh. Bapak Ibu sudah dapat nilai

16:52A semuanya ya toh.

16:56A itu amanah ya. Jangan sampai terkurang

16:59terkurang kemudian jadi error. Error kan

17:02jadi e

17:04ini Pak Said.

17:07Kalau Pak Said kan ini loh kalau

17:10tahu-tahu filsafat temikit kok

17:13bisa-bisanya diomongkan kayak gitu ya.

17:15Aman e error saya. Iya lah ya kita kan

17:18cari-cari aja loh.

17:22Oke.

17:24Baik.

17:26Nah.

17:29gitu.

17:31Nah, sekarang

17:34Bapak Ibu saya persilakan.

17:37Ini ada Ibu yang kelas B enggak yang

17:41tadi mau bergabung ke sini? Ada ya?

17:44Enggak ada, Bu Kristina. Ada ya? Enggak

17:47ada. Oke. Oh, mungkin minggu depan ya.

17:50Baik

17:54Bapak Ibu, saya minta untuk mengajukan

17:58pertanyaan yang simpel pertanyaannya

18:01jangan panjang lebar

18:03tapi kalau mau panjang jalan nanti

18:05diomonkan gitu ya. Dan pertanyaannya itu

18:09silakan

18:10minimal dua lah ya. dua pertanyaan

18:15dikirim ke WA ini juga silakan

18:19dan nanti yang saya tunjuk nanti tinggal

18:21baca saja karena kalau diomonkan kan

18:25jadi lebih. Silakan saya tunggu Bapak

18:27Ibu mau bertanya apa saja silakan

18:31ya boleh

18:34saya nanti melihatnya dari kacamata

18:37filsafat gitu.

18:40Kita tunggu dua pertanyaan Bapak Ibu.

18:43Ya,

18:45silakan dikirim WA

18:47di sini.

19:04Kirim di grup nggih, Prof.

19:05Hah?

19:06Di grup atau pribadi, Prof?

19:08Di anu di grup ini aja.

19:10Oke, siap. saja enggak apa-apa. Iya.

19:33Silakan.

19:38Kalau di grup kan nanti misalnya ada

19:39yang sudah bertanya, oh saya bisa ganti

19:41pertanyaan yang lain gitu. Kalau ini

19:43sudah ditanyakan boleh gitu.

19:47Silakan.

20:26Enggak

20:40usah rumit-rumit bertanya aja, Bu.

20:43Spontan saja

20:45ya. Spontan saja. Tanya sesuai dengan

20:49apa yang ditanyakan gitu.

20:52Kalau memang enggak bisa bertanya,

20:53kenapa, Pak? Saya kok enggak bisa

20:55bertanya gitu.

20:58Itu bisa ditanyakan gitu ya.

21:03Gitu.

21:07Oke.

21:21Oke.

21:42Spontan Bapak Ibu. Langsung saja

21:44waktunya sudah habis-habis. Kapan

21:47jawabnya? Saya nunggu pertanyaan Bapak

21:49Ibu aja lama.

21:53sing pendek-pendek saja.

24:14Baik Bapak Ibu,

24:17saya menjawab secara global dulu

24:22ya.

24:24Jadi

24:27filsafat adalah polah pikir.

24:33Jadi barang siapa yang tidak setuju sama

24:35filsafat berarti dia tidak setuju kepada

24:40orang yang berpikir.

24:44Padahal sebenar-benarnya orang tidak

24:46setuju dia sedang berpikir.

24:52berarti dia sudah mengalami kontradiksi

24:55di dalam dirinya.

24:57Kontradiksi di dalam pikiran memang

24:59dicari, tapi kalau kontr kontradiksi di

25:02dalam hati itu yang berbahaya. Karena di

25:04dalam spiritual ada istilahnya yang

25:07menakutkan yaitu munafik

25:11gitu.

25:13Siap. Ya. Jadi ee fungsi

25:20daripada filsafat adalah mencerdaskan.

25:25Fungsi daripada filsafat adalah

25:26mencerdaskan.

25:28Nah, sebenar-benar orang cerdas adalah

25:30orang yang berilmu.

25:34Dan sebenar-benar orang yang berilmu

25:37adalah orang yang mengetahui

25:40adab atau tata caranya segala sesuatu.

25:46Sebab kalau orang tidak mengetahui adab

25:49atau tidak mengetahui tata cara segala

25:51sesuatu, maka dia menjadi dikatakan

25:56tidak berilmu. Setidaknya ilmu tentang

25:59adab itu sendiri. Begitu.

26:03Maka sebelum saya menjawab itu,

26:07saya ingin menyampaikan tadi objek

26:09filsafat

26:11ada dua, objek formal dan objek

26:14material. Itu objek-objek

26:17secara literal

26:19ya,

26:21secara formal.

26:24Nah, di sini kita sudah mulai mulai ada

26:26kerancuan

26:28secara formal ya. Objek filsafat itu ada

26:32dua, objek formal dan objek material.

26:35Pokok ada dua formal. Iyaah. Nanti kan

26:37dengan sendirinya menempatkan diri

26:39masing-masing.

26:42Nyatanya Bapak Ibu kan sekarang

26:43mahasiswa sekaligus dosen. Oh saya itu

26:46dosen. Nah, sekarang mahasiswa. Oh,

26:47sekarang mahasiswa saya itu dosen. Yang

26:50benar yang mana sama gitu tadi kan?

26:54Nah, secara metafisik

26:57ya objek filsafat adalah yang meliputi

27:00yang ada dan yang mungkin ada.

27:04Begitu

27:06secara metafisik

27:08objek filsafat adalah yang ada dan yang

27:11mungkin ada.

27:14Metode berfilsafat

27:16ada dua, yaitu intensif dan ekstensif.

27:22intensif itu apa? Dalam

27:24didalam-dalamkan.

27:27Ekstensif itu apa? Luas diluas-luaskan.

27:32Itu cara berfilsafat itu kayak gitu.

27:36Dalam didalam-dalamkan di mana tidak

27:39setiap orang mau

27:42dan mampu mendalam-dalamkan segala

27:45sesuatu.

27:46luas diluas-luaskan di mana tidak setiap

27:49orang mau dan mampu meluas-luaskan

27:52segala sesuatu.

27:55Maka filsafat dimulai dengan

27:59pertanyaan.

28:02Sebab apa? Pertanyaan itu menggugah

28:04kesadaran dan kesadaran itu adalah

28:06landasan daripada berpikir.

28:11Karena filsafat itu adalah dimulai

28:14daripada pertanyaan. Filsafat adalah

28:17dalam rangka untuk membangun ilmu.

28:23Maka awal daripada ilmu adalah

28:25pertanyaan. Kalau tidak ada pertanyaan,

28:27maka tidak akan ada ilmu. Itulah

28:30sebabnya saya bertanya kepada Bapak dan

28:33Bapak bertanya kepada saya. Minggu depan

28:35akan ada kuis-kuis yang banyak

28:38supaya kita selalu ada

28:41pertanyaan-pertanyaan itu kan begitu.

28:44Tapi masalahnya ialah tidak setiap

28:46perkara bisa ditanya

28:51kan begitu dan tidak setiap pertanyaan

28:54bisa dijawab.

28:58Ya, Bapak dengan Ibu dan Bapak Kok tadi

29:01bertengkar kenapa, Bu? Es enggak usah

29:02ngomong. Ayo kita pergi ke mall.

29:06Ya, ibunya ditanya sama anaknya enggak

29:09jawab dia. Ya memang secara filsafat

29:12tidak semua pertanyaan bisa dijawab

29:16dan tidak perlu dijawab. bisa begitu ya

29:19toh.

29:20Maka artinya pertanyaan juga ada

29:23batasnya, menjawab pertanyaan juga ada

29:25batasnya.

29:27Loh, Pak, kok pertanyaan ada batasnya?

29:30Batas daripada pertanyaan itu apa?

29:33Tetangga kita misalnya. Apakah Bapak Ibu

29:36bisa sembarang bertanya kepada tetangga?

29:39Eh, Pak, kenapa ribut sama istri weh?

29:43Bapak campur tangan sama tetangga. Sini,

29:45Pak. Gue gambar L

29:50nanti kalau mau praktik filsawat boleh

29:51Pak silakan coba tanya kepada tetangga

29:54segala urusan ditanyakan

29:58itu baru tetangga saja sudah enggak bisa

29:59melampaui kok tanya batas filsawat tuh

30:03mana.

30:04Ya ada di hati dalam pikiran ya toh. Di

30:07mana-mana batasnya maka sebenar-benar

30:10orang cerdas adalah yang mengetahui

30:13batas-batas itu. G.

30:18Nah, ini kalau diungkap nanti banyak ya

30:20persoalannya.

30:22Kemudian alatnya ada alatnya filsafat

30:26itu adalah olah pikir. Pikiran itu lebih

30:30lembut daripada udara,

30:33lebih cepat daripada sinar, dari lebih

30:36cepat daripada kilat pikiran itu. Tek

30:39aku sekarang sudah sampai di London. Tek

30:42Melbourne, tek Tokyo, tek New York.

30:46Enggak ngomong sudah ke mana-mana

30:48tentang perenang yang pernah aku

30:50singgahi dulu. Aku teringat semuanya ya.

30:54Cepat sekali kejadiannya.

30:57Lebih cepat daripada kilat.

31:00Ya, selembut udara, lebih lembut

31:03daripada udara.

31:05Maka filsafat itu ya, filsafat itu

31:10penyakitnya

31:13kendala atau penyakitnya orang

31:14berfilsafat itu kalau enggak ada

31:16hambatan.

31:19Angin itu kalau enggak ada hambatan,

31:22enggak akan ada angin akhirnya

31:25begitu. Diam saja. Tapi kalau ada

31:28hambatan sedikit, ada tembok ah naik

31:30dia. Nah, menggulung-gulung kan begitu.

31:34Maka musuh orang berpisa diamkan saja.

31:38Ngomong sendiri di saja nanti kan biar

31:40nanti kan diam sendiri gitu

31:44kan gitu. Itu musuhnya orang berfilsafat

31:49ya jadi gitu jadi begitu.

31:55Baik. Nah,

31:58jadi

32:00apa namanya?

32:02Ee

32:05sekarang

32:06pikiran ya. Pikiran itu

32:11ya.

32:13Pikiran itu

32:15kan ada kedudukannya ya, kedudukan

32:18pikiran. Kedudukan itu dibandingkan

32:21dengan kedudukan yang lain. Misalnya

32:23dengan hati. Apa sih hubungannya antara

32:25pikiran dan hati?

32:28Apakah

32:30hati mampu merasakan pikiran dan apakah

32:34pikiran mampu memikirkan hati?

32:37Kan begitu.

32:40Saya pikir tidak berlaku sebaliknya ya.

32:44Kalau hati mungkin bisa merasakan

32:45pikiran, bahkan bisa merasakan ucapan,

32:49bahkan bisa merasakan tulisan, bisa

32:52merasakan tindakan dan seterusnya.

32:55Tapi kalau pikiran

32:57memikirkan hati bisalah. Tapi apakah

32:59bisa semuanya?

33:02Sulit ternyata ya.

33:04Karena kejadian

33:07ya kejadian

33:10apa?

33:13Cinta itu ya

33:15jatuh jatuh cinta itu pandang pertama

33:18langsung

33:19turun ke dengkul. Turun ke dengkul.

33:22Turun ke hati maksud saya.

33:26Pandang pertama turun ke hati. Wah, itu

33:28cinta toh. Aku enggak ngerti apa

33:29sebabnya kok jadi bergetar hati saya.

33:31Ya. Nah, itu

33:34itu artinya apa? Aku enggak ngerti. Ini

33:37pengakuan pertama tuh artinya apa?

33:40Pikiran kita tuh tidak bisa diandalkan

33:42untuk mengetahui hati gitu loh. Nah,

33:46maka di sini ada namanya alat

33:48berfilsafat.

33:51alatnya berfilsafat itu adalah bahasa

33:54analog

33:56ya.

33:57Suatu zarah, suatu zat yang begitu

34:00lembut, selembut udara lebih lembut

34:03daripada udara itu harus setara

34:05kendaraannya.

34:08Kendaraan yang bisa dipakai adalah

34:10bahasa analog,

34:13gitu.

34:15Bahasa analog itu

34:18ya pangkat 1000 daripada

34:21kiasan. Kiasan itu aja masih masih hard

34:25ya, belum soft.

34:28Tapi untuk kata-kata sehari-hari kiasan

34:30sudah soft, sudah lembut.

34:34Maka ketika aku bicara

34:38Pak Kiai, Pak Ustaz bicara doa spiritual

34:44ketuhanan, dia pegang hatinya sini di

34:46dada. Begitu

34:50itu artinya apa?

34:52itu menunjukkan pada kita ada suatu

34:57apa ee analogi antara hati dengan

35:02spiritual

35:05ya. Jadi artinya iman dan takwa, agama

35:09spiritual itu domisilinya di hati,

35:14ranah hati.

35:17Sedangkan logika semua itu ranah

35:20pikiran. Dan ternyata setinggi-tinggi

35:24orang,

35:26secerdas-cerdas orang, setinggi-tinggi

35:28filsafat tidak akan pernah mampu

35:32mengungkap relung secara sempurna,

35:35mengetahui relung hatinya.

35:39Itulah menjadi adab pertama orang

35:42belajar filsafat, yaitu

35:45kuatkan dan tetapkan iman kita terlebih

35:49dulu

35:50sebelum kita belajar filsafat.

35:53Ya, sebab filsafat adalah mengembarakan

35:57pikiran.

36:00Kalau hati kita tidak kokoh,

36:03dikhawatirkan pikiran yang mengembara ke

36:06mana-mana itu tidak bisa kembali.

36:10Jadi kita akan menjadi orang yang

36:11hilang.

36:13Berbahaya

36:15kan begitu kan tuh.

36:20Nah

36:22dalam perkembangannya

36:24pikiran itu dengan matematika itu

36:27perkembangannya itu paralel

36:30ya.

36:31Paralelisme

36:33dalam kata bahasa analog tadi, analogi

36:36itu kalau di dalam bahasa matematika

36:39mungkin ada yang namanya isomorfisme ya

36:44atau relasi ya. Jadi berfilsafat itu

36:49adalah ingin mengetahui relasi antar

36:52dunia-dunia.

36:55Di dalam pikiran Bapak Ibu ada ibu kota

36:58Jepang.

37:01Pak Wahid, ibukota Jepang di mana Pak

37:03Wahid?

37:06Tokyo.

37:08Ah, betul. Sama itu apa yang saya

37:10pikirkan. Bukankah itu contoh dan

37:12teladan dan kasus

37:15bahwa sebetulnya antara pikiranku dan

37:17pikiran Pak Wahid itu ada hubungan.

37:21Siapa yang peduli itu?

37:24Siapa yang peduli? Bukankah ketika kita

37:27jadi guru sebetulnya sedang mengelola

37:30hubungan antara pikiran guru dan pikiran

37:33siswa dan pikiran antar siswa. Itulah

37:36yang namanya isomorfisme antar dunia.

37:41Dunia itu apa? Semua.

37:45Sebab apa? Sebab dunia bisa diletakkan

37:48di semuanya.

37:51dunia komputer, dunia perkuliahan,

37:55dunia

37:57Zoom,

37:59dunia kurikulum, dunia pertanyaan, dunia

38:03filsafat, dunia perempuan, dunia

38:05laki-laki.

38:07Apa yang tidak bisa ditaruh di depannya

38:09itu dunia? Enggak ada

38:12ya toh.

38:14Nah,

38:18jadi

38:19isomorfisme itulah sebabnya muncul

38:22istilah arkitek.

38:25Arkitektonik menurut Immanuel Khan itu

38:28arkitektonik. Kita dalam rangka

38:30membangun dunia yang makro, makrokosmos,

38:34dunia yang mikro, mikrokosmos.

38:37Makro yang mana tergantung.

38:40Nanti yang suatu saat ini dimakrokan,

38:43suatu saat ini dimikrokan

38:46tergantung konteksnya.

38:49Nah, tadi keparalelan tadi ya

38:56banyak sebetulnya yang terjadi semua

38:58matematikawan itu adalah filsuf

39:02ya. Sebetulnya semua matematikan adalah

39:05filsuf walaupun tidak semua mengakuinya.

39:10Ya,

39:12tapi tidak semua filsuf adalah

39:15matematikawan.

39:17Karena banyak filsuf yang enggak

39:18mempelajari matematika gitu.

39:22Dan

39:25keparalelan antara matematika dan

39:27filsafat, matematika itu adalah mencari

39:31metode.

39:33Ada matematika adalah metode untuk

39:35mencari kebenaran.

39:39Dan itu adalah salah satu daripada

39:43metode di dalam filsafat.

39:46Karena metode dalam filsafat banyak cara

39:48untuk mencari kebenaran.

39:54Oleh karena itu

39:56mengalami sejarah perkembangan

39:58ya.

40:00secara perkembangan

40:02yaitu

40:04bangsa Yunani yang mendobrak

40:07ya yang mendobrak

40:10mitos-mitos itu kemudian

40:13dia akhirnya memperoleh logos.

40:17Mitos itu apa?

40:19Mitos itu adalah kondisi dalam keadaan

40:23kita tidak berpikir.

40:25Logos apalah logos itulah kondisi dalam

40:29kita sedang memikirkannya.

40:32Jadi di sini mitos hanya dipakai untuk

40:36filsafat saja. Kita jangan gunakan mitos

40:39di agama. Kalau orang awam itu mitos di

40:43kehidupan sehari-hari ssah saja silakan.

40:46Tapi kita jangan menggunakan mitos untuk

40:48agama.

40:50Sebab mitos itu adalah keadaan tidak

40:52berpikir.

40:54Maka sebetulnya

40:56berfilsafat, belajar filsafat adalah

40:59transformasi dari keadaan tidak berpikir

41:01menjadi keadaan berpikir.

41:06Begitu. Nah,

41:10kalau

41:11berpikir ini berpikir ya.

41:15Kalau sekarang kita ngomong tentang

41:17berpikir itu sebetulnya kalau

41:18dibandingkan dengan matematika

41:23itu ada pikiran atas, ada pikiran bawah.

41:28Pikiran atas yang disebut dengan logika,

41:31pikiran bawah yang disebut dengan

41:33realita,

41:35logika atau rasionalisme,

41:38realita atau empirisisme kan seperti itu

41:44ya.

41:46Nah, jadi

41:49apakah bisa dipakai? Pertanyaan tadi Pak

41:52Sahid juga bertanya, apakah bisa dipakai

41:54untuk pengambilan keputusan atau

41:56judgement?

42:00Nah,

42:03dalam bukunya The Critic of Poorison

42:05Emmanuel Kh ya.

42:08Ya, tujuan berfilsafat adalah the critic

42:11of poor kritik itu apa? Kalau di Barat

42:14kritik itu adalah mencari dalam rangka

42:17untuk membangun.

42:20Kalau di Indonesia kritik itu apa?

42:22Mencari dalam rangka untuk menjatuhkan.

42:25Kalau bisa menghancurkan

42:28kan begitu. Kalau di Barat kritik adalah

42:31mencari dalam rangka untuk membangun ya.

42:34Dalam bukunya Immanuel Kh mengatakan the

42:36critic of poor reason. Poor itu murni.

42:40Reason itu akal. Akal murni. Pikiran

42:42murni.

42:44Maka yang dicari di dalam filsafat

42:46adalah pikiran yang murni yang tidak

42:50penuh dengan motif-motif itu. Jadi

42:52berfilsafat itu bertolak belakang dengan

42:55politik.

42:57Karena berfilsafat itu mencari pikiran

42:59murni. Sedangkan beran politik itu

43:03adalah mencari pikiran kepentingan.

43:07Dan pikiran kepentingan itu ya jelas

43:11tidak murni, tidak apa-apa.

43:15Hoak tidak apa-apa, palsu tidak apa-apa

43:20dan itu sebenar-benar musuh filsafat

43:23kan begitu.

43:27Nah, ada empat indikator ini karena ada

43:29pertanyaan-pertanyaan tadi. Ada empat

43:31indikator berpikiran murni. Yang pertama

43:33tadi ya

43:35adalah logika. Berpikiran murni itu

43:38adalah kejujuran. Jadi berfilsafat

43:40adalah mencari orang-orang jujur di

43:43dalam pikiran. Kita bisa membedakan

43:46jujur dalam pikiran dan jujur dalam

43:48hati.

43:49Kalau jujur di dalam hati itu

43:51keikhlasan.

43:54Tapi kalau jujur di dalam pikiran adalah

43:56matematika atau logika.

43:59Maka semua orang matematika ketika dia

44:01masih sedang bermatematika, dia adalah

44:03orang-orang jujur.

44:07Maka kebanyakan sebagian besar orang

44:09matematika itu sebetulnya baik-baik

44:11semua

44:12karena didominasi dengan logika-logika

44:15itu dan menuntun kejujuran gitu loh.

44:18Tapi begitu dia masuk ke dalam politik,

44:22nah sudah mematematikakan ketidakjujuran

44:27ya. Jadi ketidakjujuran yang paling

44:30hebat di situ ya. Sama saja filsafat.

44:35Filsafat itu mencerdaskan. Barang barang

44:37siapa orang jahat berfilsafat, jahatnya

44:40menjadi hebat.

44:42Orang baik berfilsafat, baiknya menjadi

44:44hebat. Orang kafir berfilsafat, kafirnya

44:47menjadi hebat.

44:49Ya, karena cerdas seperti itu. Nah,

44:52indikator orang jujur itu apa? Satu,

44:55logikanya sehat.

44:59Jelaslah dia. L dia jujur enggak? Ya

45:02jelas dia logis enggak ngomongnya

45:04begitu. Oh ngomongnya kok lompat-lompat

45:08terputus dan tidak logis. Ah tanda tidak

45:11jujur itu gitu gampang.

45:15Itu indikator yang pertama

45:18gitu.

45:21Indikator yang kedua dia jujur enggak

45:25adalah sesuai enggak dengan faktanya.

45:29Oh, cocok dengan faktanya. Ya sudah,

45:31jujur dia.

45:34Itu dua indikator utama

45:38kejujuran

45:40dalam pikiran. Jadi

45:43orang matematik biasanya jujur karena

45:46logikanya sehat dan juga berdasarkan

45:49kenyataan

45:51kan begitu.

45:56Maka dari situ lahirlah berbagai macam

45:59kebenaran.

46:02Kebenaran absolut adalah hanya milik

46:04Tuhan.

46:06Tapi Tuhan menciptakan aturan-aturanatur

46:08aturan-aturan.

46:12Maka di langit sudah ada aturannya.

46:16Aturan di langit itu adalah aturan

46:19identitas.

46:21Identitas itu artinya A = A.

46:26Silogisme.

46:29Itulah matematika. Matematika murni.

46:32Prinsipnya identitas. Enggak pergi ke

46:34mana-mana dia.

46:36Teorema 1, teorema 2, teorema 1000 harus

46:39identik.

46:41Itulah prinsip A = A

46:45dan itu permanen, abadi

46:49dan itu ideal

46:51dan sempurna. Itulah kerjanya orang

46:53matematika murni.

46:57Tapi kalau kita begitu kita turun ke

46:59realita

47:02ya menjadi realita,

47:05realita itu adalah contoh

47:08yang tidak sempurna, maka tidaklah ada

47:12dua realita yang sama.

47:15Coba Pak Marsikit yang mana Bu Linda?

47:20Ayo Bu Linda. Pak Marikit yang mana?

47:24Tunjukin pakai gini, pakai tangan enggak

47:25apa-apa. Bukan berarti anu enggak

47:29apa-apa. Oh, itu kan mata itu.

47:32Itu kan mata

47:35gini itu kan telinga

47:37ini. Ini kan jedak

47:40marik kita yang mana?

47:44Jadi komunikasi kita adalah komunikasi

47:46melalui bentuknya

47:50ya.

47:51Jangankan Bu Linda, Bu Linda tidak akan

47:54pernah menunjuk saya.

47:57Wong saya di depan komputer itu bukan

47:59saya kok. Itu

48:01itu hanya contoh saja

48:05ya. Saya itu di mana

48:08ya?

48:10Saya ini. Saya ini. Oh bukan. Ini kan

48:13dada pundak gitu ya.

48:17Saya baru, saya akan menunjuk saya

48:19sendiri ini loh. Nah, ini loh. Nah, ini

48:22ya.

48:24Belum selesai aku tunjuk diriku sudah

48:26berubah. Diriku yang tadi berubah jadi

48:29diriku yang sekarang.

48:32Itu mah beda. Kalau diriku yang tadi mah

48:35aku belum haus. Sekarang sedangkan

48:37diriku yang sekarang mah aku sudah haus

48:40gitu ya.

48:45Jangankan orang lain,

48:48maka realita itu enggak akan ada dua

48:52perkara yang sama.

48:55Itulah prinsip kontradiksi.

48:59Hukumnya adalah A tidak sama dengan A.

49:03Jadi di dalam realita Marsikit tidak

49:05sama dengan Marsikit.

49:07Sebab akan ada dua marsikit,

49:10Marsikit pertama dan Marsikit kedua.

49:13Kalau ditulis marsikit kiri dan marsikit

49:15kanan mah beda. Jadi matematika yang

49:18ditulis itu masalah.

49:22Jadi enggak ada tulis ditulis di 4 = 4

49:25itu enggak akan ada.

49:28Sebab ada empat kiri dan empat kanan.

49:31Empat kiri mah dekat AC, 4 kanan mah

49:34dekat WC.

49:37Kok dianggap sama?

49:40sama kalau dia dinaikkan menjadi ideal

49:44ya toh menjadi ideal yaitu A sama A.

49:48Itulah kerjaan orang matematika.

49:51Sedangkan di realitas, nah makanya ada

49:54hukum identitas, ada hukum kontradiksi.

49:58Kalau dijadikan politik, maka lahirlah

50:00politik identitas.

50:03Kalau politik identitas semestinya hanya

50:06mengelola ideal. Jangan pernah menyentuh

50:09realita.

50:11Tapi kalau politik identitas kok mau

50:13menyentuh realita, mau menyamakan semua

50:15perkara di realita, itu sudah menyalahi

50:18kodrat,

50:21maka tidak akan pernah bisa berjalan.

50:23Pasti akan terjadi kehancuran. Kalau di

50:26Indonesia diterapkan politik identitas.

50:29Sebab realitanya plural.

50:33Jelas sekali dari sisi politik, dari

50:35sisi filsaat mau meneropong politik

50:37gampang banget.

50:39Dengan dua prinsip itu aja bisa.

50:43Maka orang matematikawan itu enggak bisa

50:45ke mana-mana, cuma begitu aja. Dia

50:47terikat oleh hukum identitas.

50:51Kalau berubah sedikit tidak identitas,

50:53artinya terjadi kontradiksi bertentangan

50:55dengan hukum matematika. Matematika

50:57adalah ilmu yang disusun secara deduktif

51:00yang di dalamnya memuat

51:01definisi-definisi teorema-teorema yang

51:04tidak boleh bertentangan atau tidak

51:05boleh kontradiksi. Selesai. Itu artinya

51:08hukum identitas.

51:10Itulah sebabnya

51:12Immanuel kan menggambarkan bahwa ilmu

51:15itu harus ada dua

51:18ya. Yaitu ilmu itu harus logis

51:21yaitu matematika dan ilmu harus sesuai

51:24dengan realita.

51:28Kan begitu. Jadi, maaf ya, bagi orang

51:32pendidikan orang matematika murni, orang

51:35matematika murni dari Imanuel kan

51:37mengatakan bahwa itu baru separuh ilmu,

51:43kan begitu.

51:45Baik itu Ibu, Bapak. Jadi banyak sekali

51:48yang dapat saya ceritakan, tapi waktunya

51:50kan sudah habis masalahnya dan

51:54apa itu kalau saya borong semua enggak

51:57akan selesai

51:59kuliah ini. Nanti saya akan ngomong

52:01Bapak Ibu, saya akan bersifat dominan

52:06berbicara terus di dalam 16 kali

52:08perkuliahan itu.

52:12Itu kalau kuliahnya itu tidak kreatif.

52:17tidak menggunakan cara yaitu apa?

52:21Supaya kreatif dengan menggunakan cara

52:23yaitu diekstensikan dan diintensifkan.

52:27Siapa yang mengekstensikan? Ya, Bapak

52:29Ibu masing-masing. Apa kegiatannya di

52:32luar perkuliahan? Apa membaca buku dan

52:35memutar video.

52:39Jadi saya kelihatannya ceramah terus di

52:41sini tapi Bapak Ibu memutar video dan

52:43mencari buku di sana lebih banyak lagi

52:44kalau digabungkan.

52:47omong-omonnya Pak Mariki cuma kecil

52:50jadi terbebas aku jadi guru yang

52:52otoriter.

52:56Sah toh? Iya sah. Jadi demokratis akuah.

53:01Jadi ternyata aku tidak tidak jadi

53:02mendominasi

53:04ya. Oh dalam 1 minggu Bapak Ibu mencari.

53:08Itulah sebabnya saya tidak terlalu suka

53:11menunjuk suatu referensi. Sebab

53:13referensi apapun selalu mempunyai

53:14kelemahan. Silakan baca apa saja Bapak

53:17Ibu.

53:19Karena dalam filsafat semua yang ada dan

53:21yang mungkin ada itu adalah

53:22laboratorium.

53:25Bisa kita bahas gitu. Batasannya tadi

53:30ada hati, ada pikiran, ada ruang dan

53:33waktu gitu. Baik, itu itu saja dulu

53:36Bapak Ibu dari saya karena waktu sudah

53:39habis sepertinya semangat saya kalau ya

53:43yang bikin awet muda barangkali karena

53:45selalu semangat kalau ketemu sama orang

53:47gitu ya. Ya, saya sekarang kalau di

53:51kampus naik motor ya motornya tril lagi

53:54ya.

53:57Ya kalau di jalan hukumnya harus jadi

53:58orang muda, Pak Sayid. Kalau di jalan

54:01jadi orang tua, wah membahayakan nyawa

54:03itu. Aku naik motor sudah tua ya. Ya

54:08gini ya gini ya gini. Nanti apa-apa

54:11pasrah ya. Mau keserepet motor pasrah.

54:13Mau ada truk lewat pasrah. Wah gimana

54:16ya di jalan jalannya seperti itu ya di

54:19jalan tuh raya tuh harus lincah selincah

54:21anak muda begitu Pak Said. Maka saya

54:24naik trail itu

54:27supaya lincah. Wing wing wing wing wing.

54:30Wah, tadi STI pagi Pak saya itu ya 10

54:33menit dari rumah sayaut

54:38tengok kiri kanan mana ada mahasiswa

54:39saya rajak balapan

54:45menyesuaikan keadaan kalau pakai mobil

54:47ada 1 seteng jam baru sampai di kampus

54:48coba

54:50terlambatlah ya pulang juga ini

54:52terlambatlah ya

54:55luar biasa kemacetannya jalan itu ya

54:56sekarang harus harus diantisipasi Ya.

55:00Ya. Ini saya 2 tahun lagi mau pensiun

55:01malah jadi pembalap sekarang.

55:06Mogenya masih Prof.

55:07Hah?

55:08Mogenya masih

55:09masih.

55:10Baik Ibu dan Bapak sekalian mohon maaf

55:13kalau ada kesalahan dan kekurangannya.

55:15Ini sekedar motivasi aja.

55:18Minggu depan tolong disiapkan

55:19pertanyaan-pertanyaan lagi. Nanti ini

55:21pertanyaan juga akan saya respon satu

55:23demi satu lagi. Dan saya akan

55:25menyampaikan atau mengirimkan kuis-kuis

55:27kepada Bapak Ibu ya untuk dijawab. Jadi

55:30enggak usah khawatir ya

55:32karena jawaban filsafat itu ya bersifat

55:35ideal sekaligus kontekstual. Berjalan

55:38antara ideal dan kontekstual nanti

55:40tergantung arahnya yang mana. Begitu.

55:42Baik, saya mengucapkan selamat kepada

55:44Bapak Ibu semuanya. Mudah-mudahan selalu

55:46dalam keadaan sehat, lancar, sukses, dan

55:49barokah. Amin ya rabbal alamin.

55:51Marilah kita akhiri k kita dengan

55:54berdoa. Disilakan. Alhamdulillah.

55:58Cukup. Asalamualaikum warahmatullahi

55:59wabarakatuh.

56:01Waalaikumsalam.

56:01Waalaikumsalam warahmatullahi

56:03wabarakatuh.

56:04Sampai jumpa minggu depan. I

56:09terima kasih Prof.

56:11Segang istirahat.

56:12Terima kasih, Prof.

Recently added transcripts

Browse the whole transcript library

This transcript was generated from the captions YouTube publishes for this video. Get the transcript of any YouTube video atfreeyoutubetranscribe.com, free, unlimited, no sign-up.