Full transcript
0:00zaman sekarang
0:02sudah banyak pembicaraan
0:05belum direkam tapi enggak apa-apa lebih
0:07baik terlambat daripada tidak gitu ya.
0:10Oke.
0:12Baik.
0:14Nah, jadi
0:17itu Bapak Ibu ee kalau sekarang
0:21kalau sudah perkenalan tadi ya sebagian
0:25saya sudah kenal. Sekarang Bapak Ibu
0:26kalau ingin mengenal saya
0:29ya, kalau Pak Said Bunoka tentu sudah
0:31lah ya. Silakan Bapak Ibu buka
0:36apa Google
0:40kemudian search Marsigit gitu. Search
0:43Marsigit.
0:46Pak, saya itu mau belajar filsawat kok
0:48disuruh mencari marsikit.
0:52Apa hubungannya filsawat dengan
0:53marsikit? Iya.
0:56Sebenar-benar filsafat adalah olah
0:58pikir. Ya, Bapak, Ibu belajar filsafat
1:02Pak Marsigit, maka saya bisa
1:04mendefinisikan sebenar-benar filsafat
1:06adalah pikiran Pak Marsikit.
1:10Oh, gitu enak ya, Pak ya. Ya, gitulah
1:14ya, Pak Sahid
1:17ya. Besok mendahului ya. Besok kalau
1:20diteruskan Pak Sahid, ya sebenar-benar
1:21firsa adalah pikiranku ya.
1:24Pak Sahid kan begitu.
1:27Sudahlah kalau terpaksa memang kok
1:29gitu-gitu ya sudahlah sebenar-benar
1:32adalah pikiran Ibnu Noka. Boleh boleh ya
1:36sebenar-benar filsawat adalah pikiran
1:38Anda masing-masing. Kenapa tidak bisa
1:41begitu sudah semuanya lega kan
1:46ya?
1:47Silakan dicari Google Marsikit yang all
1:51file. Kemudian juga mungkin klik image
1:54gitu
1:56ya.
1:57Ya, alhamdulillah track track record-nya
2:00tidak ada yang membahayakan
2:05ya gitu. Kalau sudah silakan dibuka
2:10YouTube kemudian search di YouTube itu
2:13Marsikit juga ya
2:16di YouTube buka Masikit.
2:20Kalau saya sih Facebook juga ada tapi
2:23sekarang sudah tidak efektif lagi ya,
2:26tidak terlalu aktif Facebook saya
2:30ya. Sudah mulai capek ya. Sudah ada
2:34saingannya cucu saya.
2:38Ya, saya baca saja Facebook-nya cucu
2:40saya sudah asik gitu.
2:44Tapi Instagram juga punya aku, tapi
2:47enggak pernah saya manfaatkan.
2:50Terus Twitter juga ada, tapi enggak
2:52pernah saya manfaatkan.
2:55Bahkan
2:56yang Telegram juga ada, tapi enggak
2:59enggak pernah saya manfaatkan
3:02ya. Cuma
3:04YouTube sama
3:07ini aja apa?
3:10YouTube sama apa?
3:15Yang ada di Google itu ya.
3:21Nah,
3:24kita sampai jam berapa, Bapak Ibu nanti?
3:2819.40, Prof.
3:311940.
3:37Nah,
3:39sekarang saya akan kirimkan lagi ke WA
3:43Bapak seperti yang aku lakukan tadi di
3:46kelas A.
3:50Di kelas A yang saya lakukan di kelas A
3:54ya.
3:57Baik.
3:592000 ee
4:022025
4:052025
4:0725
4:112025
4:15loh.
4:17Oh, 25 kok
4:2125
4:24gasal pemat B 25 gasal
4:28A. Oke,
4:32sekarang
4:34saya kirimkan
4:37gambar
4:38video saya.
4:40Pamat 2000 gasal pat 2000 gasal pat
4:46mana?
4:502025
4:52gasal primat B mana tadi?
4:5625 gasal primat AAT
5:03B.
5:08Jadi kalau Bapak Ibu lihat di
5:14lihat di YouTube ada salah satu video
5:17ini ya kan ya.
5:24Kemudian
5:26saya kirimkan
5:29narasi berikutnya
5:33yaitu Nah,
5:37jadi
5:38yang sudah bisa diperkirakan Bapak Ibu
5:42sama juga Bapak Ibu jadi dosen ya juga
5:46sama ya hanya saatnya beda peran saja ya
5:51peran sebagai dosen.
5:53peran sebagai mahasiswa
5:57ini satu kecanggihan suatu kecerdasan
6:00emosional dan kecerdasan sosial ya.
6:04Ya. Jadi saya berperan sebagai dosen
6:09pada saat itu juga umur saya sudah 50
6:12tahun. Saya S3-nya lulus umur 50 tahun
6:19ya. 40, umur saya sudah 409
6:23gitu ya. Masih bersusah-susah cari
6:26pembimbing ya, sulit ya belum tentu
6:30gampang ketemu dan sebagainya. Jadi bisa
6:32merasakan susahnya mencari pembimbing
6:34begitu ya.
6:37Oleh karena itu saya sebagai pembimbing
6:40sekarang juga kalau bisa jangan membuat
6:42mahasiswa tuh susah lah ya. Maka saya
6:45bikin WA grup untuk bimbingan.
6:49Saya di WA itu saya tayangkan jadwal
6:51saya. Silakan kalau menemui saya
6:54kejarlah saya itu di mana gitu ya. Di
6:57kuliah mau masuk kuliah setelah kuliah
6:59boleh setiap saat ya gitu. sehingga
7:03mahasiswa
7:05tidak ada yang terhambat urusan
7:07administrasi untuk urusan yudisium
7:10segala macam gitu loh.
7:13itu itulah sebabnya maka sebetulnya ee
7:18semangatnya
7:20dari sisi kemanusiaan ini kan
7:24saya punya semangat membantu Bapak Ibu
7:28semuanya dalam rangka untuk memperoleh
7:30gelar doktor itu. Apa yang bisa
7:34semaksimal
7:36seoptimal yang saya kerjakan sesuai
7:38dengan bidang saya dalam perkuliahan ya
7:40perkuliahan begitu.
7:42Oleh karena itu juga saya tidak
7:44menampilkan sosok seorang yang killer
7:47atau apa. Tidaklah ya.
7:50Saya ingin menampilkan sosok dan sejak
7:53dulu juga begitu berusaha sosok yang
7:56agak soft gitu ya.
7:59Karena terlahir saya penampakan luar itu
8:03sudah kelihatan hard
8:09ya. Maka saya berjuang supaya gimana ya
8:13dirasakan walaupun kelihatannya hard
8:15tapi dirasakan itu soft gitu.
8:20Maka saya menghilangkan unsur-unsur yang
8:23menyebabkan ketegangan-ketegangan di
8:25dalam perkuliahan.
8:28Nah, salah satu ketegangan yang paling
8:30menegangkan
8:33itu adalah ujian gitu loh. Maka saya
8:36tidak menyelenggarakan ujian.
8:39tidak ada ujian tengah dan tidak ada
8:41ujian akhir. Jadi enggak usah khawatir
8:43Bapak Ibu ya, cukup diganti dengan
8:46tugas-tugas saja gitu.
8:49Maka saya menggunakan sistem asesmen
8:52gitu kan, sistem menabung ya,
8:58tugas-tugas Bapak Ibu yang penting angar
9:01yang penting kalau kuliah dijalankan ya
9:03diikuti saja tugas-tugas dikerjakan
9:04selesai sudah diikuti saja sudah terbaik
9:08gitu. gitu. Maka
9:12kuliah itu juga ada semacam semangat,
9:15ada rasa senang, ada harapan. Maka
9:17sebagai semangat, rasa senang dan
9:19harapan belum ketemu apa baru ketemu
9:23pertama kali kepada saya itu sudah saya
9:25kasih nilai A,
9:28Bapak, Ibu. Nilainya sudah A semuanya.
9:31Nah, itu apa amanah?
9:34Ya,
9:36tinggal mempertahankan saja.
9:39sampai akhir semester nanti amanah itu
9:41dijaga.
9:43Karena dalam kehidupan sehari-hari itu
9:45banyak sekali hal-hal yang bisa
9:48mendegradasi amanah itu. Antara lain
9:51tidak mengerjakan tugas,
9:53tidak aktif kuliah, dikurangi,
9:56dikurangi, dikurangi. Jadi ada unsur
9:58pengurangan gitu.
10:01Kalau tugas belum baik ewat
10:05itu kan pikiran kita masing-masing.
10:08Saya tidak memberi standar untuk pikiran
10:12harus begini begini. Tidak lah. Yang
10:13penting dikerjakan tugas
10:17gitu kan. Tugasnya dikerjakan sesuai
10:20dengan kriteria filsafat dan tugas
10:22filsafat beda dengan tugas matematika.
10:26Itu
10:28itu Bapak Ibu.
10:30Nah, kalau riwayat saya sendiri, saya
10:32dulu S1-nya pendidikan matematika sama
10:34dengan Pak Sahid ini. S2-nya kalau Pak
10:37Sahid master sains di Belanda.
10:42Saya dulu S1-nya dengan Prof. Marsigit
10:44juga kok.
10:46Masih ingat enggak? Matematika
10:48belajar basic dulu
10:52pakai pakai komputer Apple layar hitam
10:56tulisan biju
10:59S2-nya Pak Said di Belanda, saya di
11:02Inggris ya, Pak Sahid ya.
11:04Ini Pak Sahid ee ambil dapat MSC, saya
11:07dapat MA gitu ya.
11:10E S3-nya saya yang filsafat gitu.
11:16nya saya filsafat di Gajah Mada ya,
11:17doktornya dokter filsafat saya. Sehingga
11:21agak lengkap saya
11:23dulu S2 S2 di Inggris di University of
11:27London itu saya primary
11:30matematics ini eh
11:33primary matematic
11:35ya
11:38education
11:40primary matematic education. Saya
11:41pikirnya waduh waktu kuliah saking
11:43semangatnya pikiran saya ya sama sajalah
11:45matematic education gitu ada primarynya
11:48apa itu primary enggak begitu paham
11:51primary ya
11:53setelah pulang disuruh ngajar di PGSD
11:55saya
11:57ya loh kok saya disuruh ngajar PGSD
12:00kenapa ya loh Bapak dulu kan proyeknya
12:03ini proyek PGSD
12:04kan proyek PGSD Prof. Iya. Ternyata
12:07primary matematik education itu kalau
12:10diterjemahkan PGSD.
12:13Jadi lucu saya sudah lulus lulus kuliah
12:17belum tahu prodinya.
12:22Ini lucu ya. Oh ya. Saya pikir
12:24pendidikan matematika. Oh iya pendidikan
12:26matematika di SD namanya. PGSD. Oh iya.
12:29Ah, sampai sekarang itu saya ngajar di
12:32SDV VIP itu S1 PGSD, S2 PGSD, S3 PGSD,
12:36mahasiswa PGSD juga sambil lulus gitu
12:38ya. Itu pas cerita saya begitu ya. Ya,
12:45jaya guru besar saya adalah guru besar
12:48dalam bidang ilmu pendidikan matematika
12:52gitu. Tapi saya ternyata punya tugas
12:54pokok di PGSD.
12:57Nah, sedangkan S3-nya adalah doktornya,
13:01doktor filsafat kan begitu.
13:04Ini agak lengkap. Jadi, makanya ya masih
13:06padat ini acara ngajar
13:09entah saya enggak pernah ngitung. Diberi
13:11tugas laksanakan saja baru kalau sudah
13:13capek baru ae gitu gitu.
13:17Baik,
13:19siap.
13:21Sip.
13:24Sudah kalau begitu nih sudah saya
13:26kirimkan
13:28yang
13:30entar
13:33S3
13:36S 25 S3 B 25 S3
13:43BAT B Oh iya ini
13:5025 S3 PMAT ee 25 S3 prat ini saya
13:54kirimkan sekarang kepada Bapak Ibu
13:58omon-omonnya ya toh dari video itu
14:04omon-omonnya dari video itu.
14:06Nah itu
14:10sudah ada tugas satu.
14:15Nah ini
14:19Pak Rid ini dari mana, Pak? Posisi di
14:22mana?
14:24Saya di Klaten, Pak.
14:26Oh, Klaten. Oh, iya.
14:30Pak Rektor Klaten itu dulu lulus ketika
14:33saya jadi direktur Pasca. Ya.
14:35Iya, Ro.
14:36Iya. S3 dari UNY. Ya,
14:40kalau enggak salah PEP, Pak. Ya, itu
14:43Prof. Triono. Nggih.
14:44Iya,
14:45Gigh. P
14:46Oh, sudah profesor ya sekarang?
14:47Sudah.
14:48Oh, iya. Alhamdulillah.
14:50Boleh dibaca, Pak. Tugas satu, Pak. Pak
14:53Nggih. Siap, Bapak.
14:56Tugas satu memutar beberapa kali sampai
14:59paham video kuliah filsafat pertama
15:02Bapak Marsikit ee tanggal 17 Oktober
15:06tahun 2019 dan menerangkan atau
15:09menguraikan
15:10ee ditulis dalam ee format PDF dengan
15:14format bebas dan dikirim ke email
15:16marsigit@ungy.ac.id.
15:20paling lambat tanggal 19 Agustus
15:242025 pukul 24 WIB. Gitu. Jadi itu nanti
15:30sebagai portofolio. Jadi saya
15:33memanfaatkan
15:35kalau di Australia portofolio itu dulu
15:37waktu belum efektif kalau komputer ya
15:41pakai bipet-bipet pakai lemari-lemari
15:44itu ya pakai apa map-map gede itu untuk
15:47menyimpan ya. Kalau sekarang ya pakai
15:50file-file. Nah, kalau saya menggunakan
15:52email,
15:54nah ternyata kenapa? Ternyata emil
15:56enggak pernah hang
15:58itu. Saya suka email gitu daripada
16:01Bismart karena Bismart pernah hang gitu
16:03ya, repot ya.
16:06Ya, Bismart ya besar cuma saking
16:10banyaknya yang menggunakan bersamaan
16:11pula pada saat itu sehingga pelatihan
16:13kebetulan dipakai untuk pelatihan juga
16:15ya. Nah,
16:18ternyata pengalaman saya nyimpan di
16:23email itu ini entah resikonya apa Pak
16:26Sayid yang tapi sampai sekarang
16:27aman-aman saja enggak ada masalah.
16:30File-file itu terkumpul di sana kalau
16:32dibuka kembali ya tetap muncul. Jadi ini
16:34nanti di akhir semester nanti kalau saya
16:36rekap semuanya tugas-tugas muncul siapa
16:39yang belum mengumpulkan tugas, siapa
16:41yang tugasnya terlambat dan sebagainya
16:42akan terrecord di sana di email itu
16:46gitu. Jadi tolong Bapak Ibu jaga amanah
16:49saya ya toh. Bapak Ibu sudah dapat nilai
16:52A semuanya ya toh.
16:56A itu amanah ya. Jangan sampai terkurang
16:59terkurang kemudian jadi error. Error kan
17:02jadi e
17:04ini Pak Said.
17:07Kalau Pak Said kan ini loh kalau
17:10tahu-tahu filsafat temikit kok
17:13bisa-bisanya diomongkan kayak gitu ya.
17:15Aman e error saya. Iya lah ya kita kan
17:18cari-cari aja loh.
17:22Oke.
17:24Baik.
17:26Nah.
17:29gitu.
17:31Nah, sekarang
17:34Bapak Ibu saya persilakan.
17:37Ini ada Ibu yang kelas B enggak yang
17:41tadi mau bergabung ke sini? Ada ya?
17:44Enggak ada, Bu Kristina. Ada ya? Enggak
17:47ada. Oke. Oh, mungkin minggu depan ya.
17:50Baik
17:54Bapak Ibu, saya minta untuk mengajukan
17:58pertanyaan yang simpel pertanyaannya
18:01jangan panjang lebar
18:03tapi kalau mau panjang jalan nanti
18:05diomonkan gitu ya. Dan pertanyaannya itu
18:09silakan
18:10minimal dua lah ya. dua pertanyaan
18:15dikirim ke WA ini juga silakan
18:19dan nanti yang saya tunjuk nanti tinggal
18:21baca saja karena kalau diomonkan kan
18:25jadi lebih. Silakan saya tunggu Bapak
18:27Ibu mau bertanya apa saja silakan
18:31ya boleh
18:34saya nanti melihatnya dari kacamata
18:37filsafat gitu.
18:40Kita tunggu dua pertanyaan Bapak Ibu.
18:43Ya,
18:45silakan dikirim WA
18:47di sini.
19:04Kirim di grup nggih, Prof.
19:05Hah?
19:06Di grup atau pribadi, Prof?
19:08Di anu di grup ini aja.
19:10Oke, siap. saja enggak apa-apa. Iya.
19:33Silakan.
19:38Kalau di grup kan nanti misalnya ada
19:39yang sudah bertanya, oh saya bisa ganti
19:41pertanyaan yang lain gitu. Kalau ini
19:43sudah ditanyakan boleh gitu.
19:47Silakan.
20:26Enggak
20:40usah rumit-rumit bertanya aja, Bu.
20:43Spontan saja
20:45ya. Spontan saja. Tanya sesuai dengan
20:49apa yang ditanyakan gitu.
20:52Kalau memang enggak bisa bertanya,
20:53kenapa, Pak? Saya kok enggak bisa
20:55bertanya gitu.
20:58Itu bisa ditanyakan gitu ya.
21:03Gitu.
21:07Oke.
21:21Oke.
21:42Spontan Bapak Ibu. Langsung saja
21:44waktunya sudah habis-habis. Kapan
21:47jawabnya? Saya nunggu pertanyaan Bapak
21:49Ibu aja lama.
21:53sing pendek-pendek saja.
24:14Baik Bapak Ibu,
24:17saya menjawab secara global dulu
24:22ya.
24:24Jadi
24:27filsafat adalah polah pikir.
24:33Jadi barang siapa yang tidak setuju sama
24:35filsafat berarti dia tidak setuju kepada
24:40orang yang berpikir.
24:44Padahal sebenar-benarnya orang tidak
24:46setuju dia sedang berpikir.
24:52berarti dia sudah mengalami kontradiksi
24:55di dalam dirinya.
24:57Kontradiksi di dalam pikiran memang
24:59dicari, tapi kalau kontr kontradiksi di
25:02dalam hati itu yang berbahaya. Karena di
25:04dalam spiritual ada istilahnya yang
25:07menakutkan yaitu munafik
25:11gitu.
25:13Siap. Ya. Jadi ee fungsi
25:20daripada filsafat adalah mencerdaskan.
25:25Fungsi daripada filsafat adalah
25:26mencerdaskan.
25:28Nah, sebenar-benar orang cerdas adalah
25:30orang yang berilmu.
25:34Dan sebenar-benar orang yang berilmu
25:37adalah orang yang mengetahui
25:40adab atau tata caranya segala sesuatu.
25:46Sebab kalau orang tidak mengetahui adab
25:49atau tidak mengetahui tata cara segala
25:51sesuatu, maka dia menjadi dikatakan
25:56tidak berilmu. Setidaknya ilmu tentang
25:59adab itu sendiri. Begitu.
26:03Maka sebelum saya menjawab itu,
26:07saya ingin menyampaikan tadi objek
26:09filsafat
26:11ada dua, objek formal dan objek
26:14material. Itu objek-objek
26:17secara literal
26:19ya,
26:21secara formal.
26:24Nah, di sini kita sudah mulai mulai ada
26:26kerancuan
26:28secara formal ya. Objek filsafat itu ada
26:32dua, objek formal dan objek material.
26:35Pokok ada dua formal. Iyaah. Nanti kan
26:37dengan sendirinya menempatkan diri
26:39masing-masing.
26:42Nyatanya Bapak Ibu kan sekarang
26:43mahasiswa sekaligus dosen. Oh saya itu
26:46dosen. Nah, sekarang mahasiswa. Oh,
26:47sekarang mahasiswa saya itu dosen. Yang
26:50benar yang mana sama gitu tadi kan?
26:54Nah, secara metafisik
26:57ya objek filsafat adalah yang meliputi
27:00yang ada dan yang mungkin ada.
27:04Begitu
27:06secara metafisik
27:08objek filsafat adalah yang ada dan yang
27:11mungkin ada.
27:14Metode berfilsafat
27:16ada dua, yaitu intensif dan ekstensif.
27:22intensif itu apa? Dalam
27:24didalam-dalamkan.
27:27Ekstensif itu apa? Luas diluas-luaskan.
27:32Itu cara berfilsafat itu kayak gitu.
27:36Dalam didalam-dalamkan di mana tidak
27:39setiap orang mau
27:42dan mampu mendalam-dalamkan segala
27:45sesuatu.
27:46luas diluas-luaskan di mana tidak setiap
27:49orang mau dan mampu meluas-luaskan
27:52segala sesuatu.
27:55Maka filsafat dimulai dengan
27:59pertanyaan.
28:02Sebab apa? Pertanyaan itu menggugah
28:04kesadaran dan kesadaran itu adalah
28:06landasan daripada berpikir.
28:11Karena filsafat itu adalah dimulai
28:14daripada pertanyaan. Filsafat adalah
28:17dalam rangka untuk membangun ilmu.
28:23Maka awal daripada ilmu adalah
28:25pertanyaan. Kalau tidak ada pertanyaan,
28:27maka tidak akan ada ilmu. Itulah
28:30sebabnya saya bertanya kepada Bapak dan
28:33Bapak bertanya kepada saya. Minggu depan
28:35akan ada kuis-kuis yang banyak
28:38supaya kita selalu ada
28:41pertanyaan-pertanyaan itu kan begitu.
28:44Tapi masalahnya ialah tidak setiap
28:46perkara bisa ditanya
28:51kan begitu dan tidak setiap pertanyaan
28:54bisa dijawab.
28:58Ya, Bapak dengan Ibu dan Bapak Kok tadi
29:01bertengkar kenapa, Bu? Es enggak usah
29:02ngomong. Ayo kita pergi ke mall.
29:06Ya, ibunya ditanya sama anaknya enggak
29:09jawab dia. Ya memang secara filsafat
29:12tidak semua pertanyaan bisa dijawab
29:16dan tidak perlu dijawab. bisa begitu ya
29:19toh.
29:20Maka artinya pertanyaan juga ada
29:23batasnya, menjawab pertanyaan juga ada
29:25batasnya.
29:27Loh, Pak, kok pertanyaan ada batasnya?
29:30Batas daripada pertanyaan itu apa?
29:33Tetangga kita misalnya. Apakah Bapak Ibu
29:36bisa sembarang bertanya kepada tetangga?
29:39Eh, Pak, kenapa ribut sama istri weh?
29:43Bapak campur tangan sama tetangga. Sini,
29:45Pak. Gue gambar L
29:50nanti kalau mau praktik filsawat boleh
29:51Pak silakan coba tanya kepada tetangga
29:54segala urusan ditanyakan
29:58itu baru tetangga saja sudah enggak bisa
29:59melampaui kok tanya batas filsawat tuh
30:03mana.
30:04Ya ada di hati dalam pikiran ya toh. Di
30:07mana-mana batasnya maka sebenar-benar
30:10orang cerdas adalah yang mengetahui
30:13batas-batas itu. G.
30:18Nah, ini kalau diungkap nanti banyak ya
30:20persoalannya.
30:22Kemudian alatnya ada alatnya filsafat
30:26itu adalah olah pikir. Pikiran itu lebih
30:30lembut daripada udara,
30:33lebih cepat daripada sinar, dari lebih
30:36cepat daripada kilat pikiran itu. Tek
30:39aku sekarang sudah sampai di London. Tek
30:42Melbourne, tek Tokyo, tek New York.
30:46Enggak ngomong sudah ke mana-mana
30:48tentang perenang yang pernah aku
30:50singgahi dulu. Aku teringat semuanya ya.
30:54Cepat sekali kejadiannya.
30:57Lebih cepat daripada kilat.
31:00Ya, selembut udara, lebih lembut
31:03daripada udara.
31:05Maka filsafat itu ya, filsafat itu
31:10penyakitnya
31:13kendala atau penyakitnya orang
31:14berfilsafat itu kalau enggak ada
31:16hambatan.
31:19Angin itu kalau enggak ada hambatan,
31:22enggak akan ada angin akhirnya
31:25begitu. Diam saja. Tapi kalau ada
31:28hambatan sedikit, ada tembok ah naik
31:30dia. Nah, menggulung-gulung kan begitu.
31:34Maka musuh orang berpisa diamkan saja.
31:38Ngomong sendiri di saja nanti kan biar
31:40nanti kan diam sendiri gitu
31:44kan gitu. Itu musuhnya orang berfilsafat
31:49ya jadi gitu jadi begitu.
31:55Baik. Nah,
31:58jadi
32:00apa namanya?
32:02Ee
32:05sekarang
32:06pikiran ya. Pikiran itu
32:11ya.
32:13Pikiran itu
32:15kan ada kedudukannya ya, kedudukan
32:18pikiran. Kedudukan itu dibandingkan
32:21dengan kedudukan yang lain. Misalnya
32:23dengan hati. Apa sih hubungannya antara
32:25pikiran dan hati?
32:28Apakah
32:30hati mampu merasakan pikiran dan apakah
32:34pikiran mampu memikirkan hati?
32:37Kan begitu.
32:40Saya pikir tidak berlaku sebaliknya ya.
32:44Kalau hati mungkin bisa merasakan
32:45pikiran, bahkan bisa merasakan ucapan,
32:49bahkan bisa merasakan tulisan, bisa
32:52merasakan tindakan dan seterusnya.
32:55Tapi kalau pikiran
32:57memikirkan hati bisalah. Tapi apakah
32:59bisa semuanya?
33:02Sulit ternyata ya.
33:04Karena kejadian
33:07ya kejadian
33:10apa?
33:13Cinta itu ya
33:15jatuh jatuh cinta itu pandang pertama
33:18langsung
33:19turun ke dengkul. Turun ke dengkul.
33:22Turun ke hati maksud saya.
33:26Pandang pertama turun ke hati. Wah, itu
33:28cinta toh. Aku enggak ngerti apa
33:29sebabnya kok jadi bergetar hati saya.
33:31Ya. Nah, itu
33:34itu artinya apa? Aku enggak ngerti. Ini
33:37pengakuan pertama tuh artinya apa?
33:40Pikiran kita tuh tidak bisa diandalkan
33:42untuk mengetahui hati gitu loh. Nah,
33:46maka di sini ada namanya alat
33:48berfilsafat.
33:51alatnya berfilsafat itu adalah bahasa
33:54analog
33:56ya.
33:57Suatu zarah, suatu zat yang begitu
34:00lembut, selembut udara lebih lembut
34:03daripada udara itu harus setara
34:05kendaraannya.
34:08Kendaraan yang bisa dipakai adalah
34:10bahasa analog,
34:13gitu.
34:15Bahasa analog itu
34:18ya pangkat 1000 daripada
34:21kiasan. Kiasan itu aja masih masih hard
34:25ya, belum soft.
34:28Tapi untuk kata-kata sehari-hari kiasan
34:30sudah soft, sudah lembut.
34:34Maka ketika aku bicara
34:38Pak Kiai, Pak Ustaz bicara doa spiritual
34:44ketuhanan, dia pegang hatinya sini di
34:46dada. Begitu
34:50itu artinya apa?
34:52itu menunjukkan pada kita ada suatu
34:57apa ee analogi antara hati dengan
35:02spiritual
35:05ya. Jadi artinya iman dan takwa, agama
35:09spiritual itu domisilinya di hati,
35:14ranah hati.
35:17Sedangkan logika semua itu ranah
35:20pikiran. Dan ternyata setinggi-tinggi
35:24orang,
35:26secerdas-cerdas orang, setinggi-tinggi
35:28filsafat tidak akan pernah mampu
35:32mengungkap relung secara sempurna,
35:35mengetahui relung hatinya.
35:39Itulah menjadi adab pertama orang
35:42belajar filsafat, yaitu
35:45kuatkan dan tetapkan iman kita terlebih
35:49dulu
35:50sebelum kita belajar filsafat.
35:53Ya, sebab filsafat adalah mengembarakan
35:57pikiran.
36:00Kalau hati kita tidak kokoh,
36:03dikhawatirkan pikiran yang mengembara ke
36:06mana-mana itu tidak bisa kembali.
36:10Jadi kita akan menjadi orang yang
36:11hilang.
36:13Berbahaya
36:15kan begitu kan tuh.
36:20Nah
36:22dalam perkembangannya
36:24pikiran itu dengan matematika itu
36:27perkembangannya itu paralel
36:30ya.
36:31Paralelisme
36:33dalam kata bahasa analog tadi, analogi
36:36itu kalau di dalam bahasa matematika
36:39mungkin ada yang namanya isomorfisme ya
36:44atau relasi ya. Jadi berfilsafat itu
36:49adalah ingin mengetahui relasi antar
36:52dunia-dunia.
36:55Di dalam pikiran Bapak Ibu ada ibu kota
36:58Jepang.
37:01Pak Wahid, ibukota Jepang di mana Pak
37:03Wahid?
37:06Tokyo.
37:08Ah, betul. Sama itu apa yang saya
37:10pikirkan. Bukankah itu contoh dan
37:12teladan dan kasus
37:15bahwa sebetulnya antara pikiranku dan
37:17pikiran Pak Wahid itu ada hubungan.
37:21Siapa yang peduli itu?
37:24Siapa yang peduli? Bukankah ketika kita
37:27jadi guru sebetulnya sedang mengelola
37:30hubungan antara pikiran guru dan pikiran
37:33siswa dan pikiran antar siswa. Itulah
37:36yang namanya isomorfisme antar dunia.
37:41Dunia itu apa? Semua.
37:45Sebab apa? Sebab dunia bisa diletakkan
37:48di semuanya.
37:51dunia komputer, dunia perkuliahan,
37:55dunia
37:57Zoom,
37:59dunia kurikulum, dunia pertanyaan, dunia
38:03filsafat, dunia perempuan, dunia
38:05laki-laki.
38:07Apa yang tidak bisa ditaruh di depannya
38:09itu dunia? Enggak ada
38:12ya toh.
38:14Nah,
38:18jadi
38:19isomorfisme itulah sebabnya muncul
38:22istilah arkitek.
38:25Arkitektonik menurut Immanuel Khan itu
38:28arkitektonik. Kita dalam rangka
38:30membangun dunia yang makro, makrokosmos,
38:34dunia yang mikro, mikrokosmos.
38:37Makro yang mana tergantung.
38:40Nanti yang suatu saat ini dimakrokan,
38:43suatu saat ini dimikrokan
38:46tergantung konteksnya.
38:49Nah, tadi keparalelan tadi ya
38:56banyak sebetulnya yang terjadi semua
38:58matematikawan itu adalah filsuf
39:02ya. Sebetulnya semua matematikan adalah
39:05filsuf walaupun tidak semua mengakuinya.
39:10Ya,
39:12tapi tidak semua filsuf adalah
39:15matematikawan.
39:17Karena banyak filsuf yang enggak
39:18mempelajari matematika gitu.
39:22Dan
39:25keparalelan antara matematika dan
39:27filsafat, matematika itu adalah mencari
39:31metode.
39:33Ada matematika adalah metode untuk
39:35mencari kebenaran.
39:39Dan itu adalah salah satu daripada
39:43metode di dalam filsafat.
39:46Karena metode dalam filsafat banyak cara
39:48untuk mencari kebenaran.
39:54Oleh karena itu
39:56mengalami sejarah perkembangan
39:58ya.
40:00secara perkembangan
40:02yaitu
40:04bangsa Yunani yang mendobrak
40:07ya yang mendobrak
40:10mitos-mitos itu kemudian
40:13dia akhirnya memperoleh logos.
40:17Mitos itu apa?
40:19Mitos itu adalah kondisi dalam keadaan
40:23kita tidak berpikir.
40:25Logos apalah logos itulah kondisi dalam
40:29kita sedang memikirkannya.
40:32Jadi di sini mitos hanya dipakai untuk
40:36filsafat saja. Kita jangan gunakan mitos
40:39di agama. Kalau orang awam itu mitos di
40:43kehidupan sehari-hari ssah saja silakan.
40:46Tapi kita jangan menggunakan mitos untuk
40:48agama.
40:50Sebab mitos itu adalah keadaan tidak
40:52berpikir.
40:54Maka sebetulnya
40:56berfilsafat, belajar filsafat adalah
40:59transformasi dari keadaan tidak berpikir
41:01menjadi keadaan berpikir.
41:06Begitu. Nah,
41:10kalau
41:11berpikir ini berpikir ya.
41:15Kalau sekarang kita ngomong tentang
41:17berpikir itu sebetulnya kalau
41:18dibandingkan dengan matematika
41:23itu ada pikiran atas, ada pikiran bawah.
41:28Pikiran atas yang disebut dengan logika,
41:31pikiran bawah yang disebut dengan
41:33realita,
41:35logika atau rasionalisme,
41:38realita atau empirisisme kan seperti itu
41:44ya.
41:46Nah, jadi
41:49apakah bisa dipakai? Pertanyaan tadi Pak
41:52Sahid juga bertanya, apakah bisa dipakai
41:54untuk pengambilan keputusan atau
41:56judgement?
42:00Nah,
42:03dalam bukunya The Critic of Poorison
42:05Emmanuel Kh ya.
42:08Ya, tujuan berfilsafat adalah the critic
42:11of poor kritik itu apa? Kalau di Barat
42:14kritik itu adalah mencari dalam rangka
42:17untuk membangun.
42:20Kalau di Indonesia kritik itu apa?
42:22Mencari dalam rangka untuk menjatuhkan.
42:25Kalau bisa menghancurkan
42:28kan begitu. Kalau di Barat kritik adalah
42:31mencari dalam rangka untuk membangun ya.
42:34Dalam bukunya Immanuel Kh mengatakan the
42:36critic of poor reason. Poor itu murni.
42:40Reason itu akal. Akal murni. Pikiran
42:42murni.
42:44Maka yang dicari di dalam filsafat
42:46adalah pikiran yang murni yang tidak
42:50penuh dengan motif-motif itu. Jadi
42:52berfilsafat itu bertolak belakang dengan
42:55politik.
42:57Karena berfilsafat itu mencari pikiran
42:59murni. Sedangkan beran politik itu
43:03adalah mencari pikiran kepentingan.
43:07Dan pikiran kepentingan itu ya jelas
43:11tidak murni, tidak apa-apa.
43:15Hoak tidak apa-apa, palsu tidak apa-apa
43:20dan itu sebenar-benar musuh filsafat
43:23kan begitu.
43:27Nah, ada empat indikator ini karena ada
43:29pertanyaan-pertanyaan tadi. Ada empat
43:31indikator berpikiran murni. Yang pertama
43:33tadi ya
43:35adalah logika. Berpikiran murni itu
43:38adalah kejujuran. Jadi berfilsafat
43:40adalah mencari orang-orang jujur di
43:43dalam pikiran. Kita bisa membedakan
43:46jujur dalam pikiran dan jujur dalam
43:48hati.
43:49Kalau jujur di dalam hati itu
43:51keikhlasan.
43:54Tapi kalau jujur di dalam pikiran adalah
43:56matematika atau logika.
43:59Maka semua orang matematika ketika dia
44:01masih sedang bermatematika, dia adalah
44:03orang-orang jujur.
44:07Maka kebanyakan sebagian besar orang
44:09matematika itu sebetulnya baik-baik
44:11semua
44:12karena didominasi dengan logika-logika
44:15itu dan menuntun kejujuran gitu loh.
44:18Tapi begitu dia masuk ke dalam politik,
44:22nah sudah mematematikakan ketidakjujuran
44:27ya. Jadi ketidakjujuran yang paling
44:30hebat di situ ya. Sama saja filsafat.
44:35Filsafat itu mencerdaskan. Barang barang
44:37siapa orang jahat berfilsafat, jahatnya
44:40menjadi hebat.
44:42Orang baik berfilsafat, baiknya menjadi
44:44hebat. Orang kafir berfilsafat, kafirnya
44:47menjadi hebat.
44:49Ya, karena cerdas seperti itu. Nah,
44:52indikator orang jujur itu apa? Satu,
44:55logikanya sehat.
44:59Jelaslah dia. L dia jujur enggak? Ya
45:02jelas dia logis enggak ngomongnya
45:04begitu. Oh ngomongnya kok lompat-lompat
45:08terputus dan tidak logis. Ah tanda tidak
45:11jujur itu gitu gampang.
45:15Itu indikator yang pertama
45:18gitu.
45:21Indikator yang kedua dia jujur enggak
45:25adalah sesuai enggak dengan faktanya.
45:29Oh, cocok dengan faktanya. Ya sudah,
45:31jujur dia.
45:34Itu dua indikator utama
45:38kejujuran
45:40dalam pikiran. Jadi
45:43orang matematik biasanya jujur karena
45:46logikanya sehat dan juga berdasarkan
45:49kenyataan
45:51kan begitu.
45:56Maka dari situ lahirlah berbagai macam
45:59kebenaran.
46:02Kebenaran absolut adalah hanya milik
46:04Tuhan.
46:06Tapi Tuhan menciptakan aturan-aturanatur
46:08aturan-aturan.
46:12Maka di langit sudah ada aturannya.
46:16Aturan di langit itu adalah aturan
46:19identitas.
46:21Identitas itu artinya A = A.
46:26Silogisme.
46:29Itulah matematika. Matematika murni.
46:32Prinsipnya identitas. Enggak pergi ke
46:34mana-mana dia.
46:36Teorema 1, teorema 2, teorema 1000 harus
46:39identik.
46:41Itulah prinsip A = A
46:45dan itu permanen, abadi
46:49dan itu ideal
46:51dan sempurna. Itulah kerjanya orang
46:53matematika murni.
46:57Tapi kalau kita begitu kita turun ke
46:59realita
47:02ya menjadi realita,
47:05realita itu adalah contoh
47:08yang tidak sempurna, maka tidaklah ada
47:12dua realita yang sama.
47:15Coba Pak Marsikit yang mana Bu Linda?
47:20Ayo Bu Linda. Pak Marikit yang mana?
47:24Tunjukin pakai gini, pakai tangan enggak
47:25apa-apa. Bukan berarti anu enggak
47:29apa-apa. Oh, itu kan mata itu.
47:32Itu kan mata
47:35gini itu kan telinga
47:37ini. Ini kan jedak
47:40marik kita yang mana?
47:44Jadi komunikasi kita adalah komunikasi
47:46melalui bentuknya
47:50ya.
47:51Jangankan Bu Linda, Bu Linda tidak akan
47:54pernah menunjuk saya.
47:57Wong saya di depan komputer itu bukan
47:59saya kok. Itu
48:01itu hanya contoh saja
48:05ya. Saya itu di mana
48:08ya?
48:10Saya ini. Saya ini. Oh bukan. Ini kan
48:13dada pundak gitu ya.
48:17Saya baru, saya akan menunjuk saya
48:19sendiri ini loh. Nah, ini loh. Nah, ini
48:22ya.
48:24Belum selesai aku tunjuk diriku sudah
48:26berubah. Diriku yang tadi berubah jadi
48:29diriku yang sekarang.
48:32Itu mah beda. Kalau diriku yang tadi mah
48:35aku belum haus. Sekarang sedangkan
48:37diriku yang sekarang mah aku sudah haus
48:40gitu ya.
48:45Jangankan orang lain,
48:48maka realita itu enggak akan ada dua
48:52perkara yang sama.
48:55Itulah prinsip kontradiksi.
48:59Hukumnya adalah A tidak sama dengan A.
49:03Jadi di dalam realita Marsikit tidak
49:05sama dengan Marsikit.
49:07Sebab akan ada dua marsikit,
49:10Marsikit pertama dan Marsikit kedua.
49:13Kalau ditulis marsikit kiri dan marsikit
49:15kanan mah beda. Jadi matematika yang
49:18ditulis itu masalah.
49:22Jadi enggak ada tulis ditulis di 4 = 4
49:25itu enggak akan ada.
49:28Sebab ada empat kiri dan empat kanan.
49:31Empat kiri mah dekat AC, 4 kanan mah
49:34dekat WC.
49:37Kok dianggap sama?
49:40sama kalau dia dinaikkan menjadi ideal
49:44ya toh menjadi ideal yaitu A sama A.
49:48Itulah kerjaan orang matematika.
49:51Sedangkan di realitas, nah makanya ada
49:54hukum identitas, ada hukum kontradiksi.
49:58Kalau dijadikan politik, maka lahirlah
50:00politik identitas.
50:03Kalau politik identitas semestinya hanya
50:06mengelola ideal. Jangan pernah menyentuh
50:09realita.
50:11Tapi kalau politik identitas kok mau
50:13menyentuh realita, mau menyamakan semua
50:15perkara di realita, itu sudah menyalahi
50:18kodrat,
50:21maka tidak akan pernah bisa berjalan.
50:23Pasti akan terjadi kehancuran. Kalau di
50:26Indonesia diterapkan politik identitas.
50:29Sebab realitanya plural.
50:33Jelas sekali dari sisi politik, dari
50:35sisi filsaat mau meneropong politik
50:37gampang banget.
50:39Dengan dua prinsip itu aja bisa.
50:43Maka orang matematikawan itu enggak bisa
50:45ke mana-mana, cuma begitu aja. Dia
50:47terikat oleh hukum identitas.
50:51Kalau berubah sedikit tidak identitas,
50:53artinya terjadi kontradiksi bertentangan
50:55dengan hukum matematika. Matematika
50:57adalah ilmu yang disusun secara deduktif
51:00yang di dalamnya memuat
51:01definisi-definisi teorema-teorema yang
51:04tidak boleh bertentangan atau tidak
51:05boleh kontradiksi. Selesai. Itu artinya
51:08hukum identitas.
51:10Itulah sebabnya
51:12Immanuel kan menggambarkan bahwa ilmu
51:15itu harus ada dua
51:18ya. Yaitu ilmu itu harus logis
51:21yaitu matematika dan ilmu harus sesuai
51:24dengan realita.
51:28Kan begitu. Jadi, maaf ya, bagi orang
51:32pendidikan orang matematika murni, orang
51:35matematika murni dari Imanuel kan
51:37mengatakan bahwa itu baru separuh ilmu,
51:43kan begitu.
51:45Baik itu Ibu, Bapak. Jadi banyak sekali
51:48yang dapat saya ceritakan, tapi waktunya
51:50kan sudah habis masalahnya dan
51:54apa itu kalau saya borong semua enggak
51:57akan selesai
51:59kuliah ini. Nanti saya akan ngomong
52:01Bapak Ibu, saya akan bersifat dominan
52:06berbicara terus di dalam 16 kali
52:08perkuliahan itu.
52:12Itu kalau kuliahnya itu tidak kreatif.
52:17tidak menggunakan cara yaitu apa?
52:21Supaya kreatif dengan menggunakan cara
52:23yaitu diekstensikan dan diintensifkan.
52:27Siapa yang mengekstensikan? Ya, Bapak
52:29Ibu masing-masing. Apa kegiatannya di
52:32luar perkuliahan? Apa membaca buku dan
52:35memutar video.
52:39Jadi saya kelihatannya ceramah terus di
52:41sini tapi Bapak Ibu memutar video dan
52:43mencari buku di sana lebih banyak lagi
52:44kalau digabungkan.
52:47omong-omonnya Pak Mariki cuma kecil
52:50jadi terbebas aku jadi guru yang
52:52otoriter.
52:56Sah toh? Iya sah. Jadi demokratis akuah.
53:01Jadi ternyata aku tidak tidak jadi
53:02mendominasi
53:04ya. Oh dalam 1 minggu Bapak Ibu mencari.
53:08Itulah sebabnya saya tidak terlalu suka
53:11menunjuk suatu referensi. Sebab
53:13referensi apapun selalu mempunyai
53:14kelemahan. Silakan baca apa saja Bapak
53:17Ibu.
53:19Karena dalam filsafat semua yang ada dan
53:21yang mungkin ada itu adalah
53:22laboratorium.
53:25Bisa kita bahas gitu. Batasannya tadi
53:30ada hati, ada pikiran, ada ruang dan
53:33waktu gitu. Baik, itu itu saja dulu
53:36Bapak Ibu dari saya karena waktu sudah
53:39habis sepertinya semangat saya kalau ya
53:43yang bikin awet muda barangkali karena
53:45selalu semangat kalau ketemu sama orang
53:47gitu ya. Ya, saya sekarang kalau di
53:51kampus naik motor ya motornya tril lagi
53:54ya.
53:57Ya kalau di jalan hukumnya harus jadi
53:58orang muda, Pak Sayid. Kalau di jalan
54:01jadi orang tua, wah membahayakan nyawa
54:03itu. Aku naik motor sudah tua ya. Ya
54:08gini ya gini ya gini. Nanti apa-apa
54:11pasrah ya. Mau keserepet motor pasrah.
54:13Mau ada truk lewat pasrah. Wah gimana
54:16ya di jalan jalannya seperti itu ya di
54:19jalan tuh raya tuh harus lincah selincah
54:21anak muda begitu Pak Said. Maka saya
54:24naik trail itu
54:27supaya lincah. Wing wing wing wing wing.
54:30Wah, tadi STI pagi Pak saya itu ya 10
54:33menit dari rumah sayaut
54:38tengok kiri kanan mana ada mahasiswa
54:39saya rajak balapan
54:45menyesuaikan keadaan kalau pakai mobil
54:47ada 1 seteng jam baru sampai di kampus
54:48coba
54:50terlambatlah ya pulang juga ini
54:52terlambatlah ya
54:55luar biasa kemacetannya jalan itu ya
54:56sekarang harus harus diantisipasi Ya.
55:00Ya. Ini saya 2 tahun lagi mau pensiun
55:01malah jadi pembalap sekarang.
55:06Mogenya masih Prof.
55:07Hah?
55:08Mogenya masih
55:09masih.
55:10Baik Ibu dan Bapak sekalian mohon maaf
55:13kalau ada kesalahan dan kekurangannya.
55:15Ini sekedar motivasi aja.
55:18Minggu depan tolong disiapkan
55:19pertanyaan-pertanyaan lagi. Nanti ini
55:21pertanyaan juga akan saya respon satu
55:23demi satu lagi. Dan saya akan
55:25menyampaikan atau mengirimkan kuis-kuis
55:27kepada Bapak Ibu ya untuk dijawab. Jadi
55:30enggak usah khawatir ya
55:32karena jawaban filsafat itu ya bersifat
55:35ideal sekaligus kontekstual. Berjalan
55:38antara ideal dan kontekstual nanti
55:40tergantung arahnya yang mana. Begitu.
55:42Baik, saya mengucapkan selamat kepada
55:44Bapak Ibu semuanya. Mudah-mudahan selalu
55:46dalam keadaan sehat, lancar, sukses, dan
55:49barokah. Amin ya rabbal alamin.
55:51Marilah kita akhiri k kita dengan
55:54berdoa. Disilakan. Alhamdulillah.
55:58Cukup. Asalamualaikum warahmatullahi
55:59wabarakatuh.
56:01Waalaikumsalam.
56:01Waalaikumsalam warahmatullahi
56:03wabarakatuh.
56:04Sampai jumpa minggu depan. I
56:09terima kasih Prof.
56:11Segang istirahat.
56:12Terima kasih, Prof.