Full transcript
0:00Sabar saya pusing ini. Jadi begini ya.
0:02Heh.
0:03Mama Cina.
0:04Cina.
0:04Bapak Flores.
0:05Flores.
0:06Lahir di Makassar.
0:07Lahir di Makassar.
0:07Tapi pas besar merantau ke Kalimantan.
0:10Iya.
0:10Ah,
0:11jawab. [tertawa]
0:12Sabar sabar sabar sabar.
0:14Orang korban kita jangan kau gesek-gesek
0:17begitu.
0:18Anu apa? Iya [tertawa] bisa di anu apa
0:20maksudnya? Maksudnya apa? Bagaimana?
0:21Iya maksudnya saya pelan-pelan.
0:24Ya heranlah kenapa sampai ini orang gak
0:25salat.
0:26Ditanya kenapa gak gak salat?
0:29Eh, saya jujurlah saya bilang saya
0:31nonmuslim.
0:32Oke.
0:33Belum masuk
0:34dibakarlah.
0:36Oh,
0:38tidak.
0:39Islam itu kan ada begitu-begitu
0:43aja. Tapi orang percaya
0:46orang pergi ke sana ini berarti dalam
0:48keadaan sudah kenalan, sudah tahu dia
0:50ada di sana sudah tahu semua ya. Kalau
0:53sor lanjut maksud ke saya toh kita ini
0:56suasana kemerdekaan [tertawa]
0:59kita cerita tidak ada urusan sekali sama
1:02ini terus ngapain semua orang pasang
1:04[tertawa] ini pakai ini ngapain ngapain
1:09saya baru sadar ngapain ada semua
1:11[tertawa] aksesoris 17 cerita tidak ada
1:15tentang nasionalisme ini asistennya
1:18sudah begitu
1:19ini asistennya
1:21tapi dia ke belakang sedikit
1:22Kan patnya depan toko
1:24ini kan begini ini toko ini toko ini ini
1:26di depan sini masuk lorong pukul diri
1:28sendiri [tertawa] begitu dia putar dia
1:30situ.
1:32Iya.
1:33Berkumpul bercanda membawa [musik]
1:36cerita
1:38di titik kumpul sedih [bernyanyi] jadi
1:42bahagia.
1:45Ribut ribut capek. Aduh ribut semua.
1:5117 Agustus [musik] tahun 45 [bernyanyi]
1:55itulah hari kemerdekaan [musik] kita.
1:59Hari merdeka nusa dan bangsa. Hari
2:04lahirnya bangsa Indonesia. [musik]
2:07Merdeka
2:10merdeka merdeka
2:12merdeka.
2:15Merdeka
2:17merdeka.
2:18Gitu aja gitu aja.
2:20Merdeka.
2:20Saya baru tahu ternyata lagu wajib ada
2:22copyright-nya juga. [tertawa]
2:26Nanti kita kena copyright mencintai
2:28bangsa ini aja. Harus copyright.
2:30Wow.
2:32Wow.
2:33Untung bendera bendera mau terlepas itu.
2:36Iya. Tapi memang itulah ya namanya juga
2:38sistem toh.
2:39Sistengnya begitu.
2:39Sudah sistemnya sudah sistemnya itu
2:44[tertawa]
2:45that's right. That's why
2:48that's why itnya begitu.
2:50Saya ini masuk ke begini. Kita ini tugas
2:51kita di sini ronda toh supaya cek
2:54orang-orang yang tidak jelas yang
2:55lewat-lewat di kampung. Kenapa justru
2:57kau orang bawa orang tidak jelas ke sini
3:00[tertawa]
3:00ini saya saya tidak tahu Gilberto yang
3:02bawa dia ke sini
3:03karena memang begitu sistemnya
3:05begitu sistemnya
3:06sistemnya memang dia ini
3:07tapi biasa dari ketidakjelasan itu
3:09iya
3:10sesuatu hal yang jelas muncul
3:13nah
3:13betul
3:14tapi sudah lama saya tidak lihat kok
3:15buaman dari [tertawa]
3:18buaman namanya
3:19siapa namanya
3:22mustaman
3:24berarti panggilannya
3:25busta [tertawa]
3:27atau taman taman taman
3:30taman itu lagu taman pukisa untuk dia
3:32itu. Iya.
3:34Oh,
3:34kenapa baru itu baru kita lihat Ustaz?
3:36Kenapa baru datang ke sini nih?
3:38Lagi ada kesibukan tuh. Biasalah.
3:40Tapi sudah lama kau bertemu sama
3:41Gilberto?
3:42Lama.
3:42Lama sekali dulu apa? Jual-jual buku dik
3:45orang sama-sama jual buku.
3:46Sama-sama jual buku.
3:48Buku apa kau orang jual?
3:48Di kapal. Dijual di kapal kali. Di
3:51kapal.
3:51Oh. TTS. TTS yang ada di Punki di depan
3:55gambar-gambar artis Eliza.
3:57Dina Lorenza.
3:59Dina Lorenza di penggigi. Saya kasih
4:01hitam tuh biasanya tuh.
4:02[tertawa]
4:02Bukan anu, bukan Diana masih. Oki eh
4:07yang bota. Oki Saputra yang bota apa?
4:09Yang
4:10itu saya tidak beli. Saya beli yang
4:12cewek-cewek aja. [tertawa]
4:14Ngapain saya beli Ozi Saputra?
4:16Iya. Bukan dia cewek.
4:18Ihh.
4:19Allahu Akbar. O yang botak toh?
4:22Yang si manis jembatan Ancol.
4:24Iya. Yang laki-lakinya toh.
4:26Iya. Laki-laki yang botak toh. Yang
4:28yang botak. Yang botak. Kepalan biasa
4:30terbang.
4:33[tertawa]
4:34ituak laki-laki itu dari mana?
4:37Astaga tahu dari mana lagi? Dari
4:39penamaan Ozi.
4:40Iya. Masa kita jelaskan Ozi Saputra
4:43Putra.
4:44Oh berarti saya yang salah. [tertawa]
4:45Iya memang memang dari tadi sudah salah
4:48ini tinggal di lingkungan kita juga.
4:50Iya cuman dia merantau ini sepupu
4:52saudara mereka ini. Oh suka
4:55datang-datang. Suka datang-datang
4:56sembarang juga dia kerja ke sana.
4:58Oh iya
4:58sembarang dia kerja. Namanya mengadu
5:00nasib kan berantau. Nasib
5:02di mana ki kerja merantau?
5:05Saya keliling imigrasi tuh dari sana ke
5:08sini. Di mana
5:09migrasinya? Kigrasiant [tertawa]
5:13transmigrasi
5:15tah. Iya maksudnya [tertawa]
5:17transmigrasi maksudnya
5:18ada grasi-gerasinya.
5:20Kalau imigrasi antar negara
5:23dari sini pergi tinggal di Australia
5:26migrasi bukan dari
5:29kampung ke kampung apa?
5:30Transmigrasi.
5:31Transmigrasi mungkin
5:32transmigrasi
5:33lebih ke merantau tah ya merantau
5:36[tertawa] saja geras-geras itu
5:38berarti bahasanya imi krampung. I imi
5:41krampung imi
5:42tidak usah [tertawa]
5:43lebih lebih bagus didengar merantau
5:46merantau tanya.
5:47Iya.
5:48Eh
5:49di mana? Di mana dia sebenarnya? Ke
5:50aslimu mana? Asli asli.
5:52Nah, itu kasih jelas kayak
5:53bone.
5:54Jangan semua orang tiba-tiba semua
5:55datang di sini. Bone.
5:57Banyak sekali kampung di sana itu. Tidak
5:58semua bone.
6:00Saya Bapak Flores.
6:02Bapak Flores.
6:03Bapak Flores. Ibu. Ibu
6:04serius.
6:05Mama Cina. Chenes.
6:08Serius?
6:09Serius.
6:10Tidak ada. Tidak ada bonenya sih.
6:11Tidak ada floresnya. Tidak ada cinanya.
6:13Ini di muka
6:14bone sidrap gitu. Tidak ada. Terlalu
6:18goa gak ada minasa
6:20min [tertawa] itu Makassar itu semua
6:22Makassar tidak ada Floresnya gak ada gak
6:24adaani
6:26gak ada juga
6:28[tertawa] ditanya
6:29Mamad aja lah tanya saya lah
6:32siapa
6:34tanya ke sana saja de memang dia ini
6:36Bapak Flores e Cina
6:39oke
6:39nah dia ini belum tahu dia karena
6:41lahirnya di man ki lahir
6:43di Makassar
6:44di Makassar tapi tinggalnya nya pas
6:47besar
6:47di besark
6:49iya
6:49ya di rumah mama di rumah bapak
6:51iya [tertawa] di Makassar
6:53di Makassarupa itu kan
6:54bukan kasih minum air dulu [tertawa]
6:59kasihan
7:01habis jatuh [tertawa] masih kaget habis
7:03jatuh habis jatuh
7:05inilah inilah makanya tidak semua orang
7:08habis jatuh dibawa ke pos ronda jadi
7:11bintang tamu [tertawa]
7:12ada yang dibawa ke pos ronda tuh untuk
7:14kita kita
7:16Tapi kan pernah apa orang habis jatuh
7:19jadi viewers terbanyak di sini.
7:21Siapa itu?
7:22Itu Husein.
7:23Hinfarin.
7:25Oh.
7:26Tapi ini betul-betul tadi saya
7:28itu Habib Husein.
7:29Iya. [tertawa]
7:30Saudara dengan pencipta lagu tadi tuh
7:31Husein Mutahar.
7:32Oh iya sama-sama Husein itu nama namanya
7:35sama. Kita lahir di Makassar.
7:37Makassar.
7:38Makassar. Terus besar di Makassar juga.
7:41Bukannya k lihat video-video teh itu di
7:42Kalimantan. W.
7:43Iya. Macam Tarakan Nundukan?
7:45Iya. Merantau di ee Tarakan tapi bagian
7:48Malinau.
7:49Oke.
7:49Oh Malinau. Malinau. Malinau.
7:51Malinau. Tu dia pulau lagi ya? Pulau
7:52sendiri. Pusing. Sabar saya pusing ini.
7:54Jadi begini ya.
7:56Eh
7:57mama Cina.
7:57Cina.
7:58Bapak Flores.
7:59Flores.
7:59Lahir di Makassar.
8:00Lahir di Makassar.
8:01Tapi pas besar merantau ke Kalimantan.
8:03Iya.
8:04Ah
8:05jawab. [tertawa]
8:06Sabar sabar sabar sabar.
8:08Orang korban kecelaka jangan kau
8:10gesek-gesek begitu.
8:11Anu apa? Iya [tertawa] bisa di anu apa
8:14maksudnya maksudnya apa? Bagaimana
8:15maksudnya jelaskan saya pelan-pelan
8:17jelas loh.
8:18Iya
8:18kok bicara tidak jelas tidak jelas
8:20gini.
8:21He
8:21jadi kita kan lahir di Makassar Jito
8:24i
8:24Makassar betul
8:25tapi mamata orang Cina.
8:27Bapak orang Flores.
8:29Lahir K di Makassar kan?
8:31Nah sudah dua kali mi di Makassar
8:33sudah dua kali itu
8:34pas besar
8:36biar jelasin ni pas besar
8:37gak sudah sudah usia 20.
8:39Iya usia 20 itu besar tidak?
8:42Besar besar
8:42kita 20 kita beli tiket toh?
8:45Tiket kapal pergi ke Kalimantan kan
8:47naik-naik dulu itu di pelabuhan.
8:48Iya betul
8:49betul naik di pelabuhan duduk-duduk
8:50sebentar
8:51Lebon Nusantara toh.
8:52Ih kenapa bisa ditahu ini? [tertawa] Iya
8:54sudah ada komunikasi
8:56ada sistnya.
8:57Iya ada sistnya memangnya.
8:59Terus kita jalan di kapal sampai di
9:00Kalimantan
9:02gak jalan
9:02apa naik kapal. Naik kapal naik kapal
9:06naik sampai di Kalimantan. Iantan
9:08terus sampai di sana turun di bawah
9:11dibawa ke apa [tertawa]
9:13koin garang karang.
9:15Iya cocok dibawa di bawah darat di bawah
9:17darat [tertawa] bawa darat. Betul
9:18darat. Terus ke Malinau
9:20belum?
9:20Belum ke mana itu?
9:21Masih panjang itu.
9:22Panjang itu cerita kita dengar. Kita
9:24dengar
9:24kita jelaskan turun dari
9:26kapal.
9:27Kapal toh ke pelabuhan.
9:30Hm.
9:31Lewat tangga turun maksudnya.
9:33Iya iya iya.
9:34Ada itu buru-buru biasanya naik toh. Ada
9:35buru kita turun. Jadi pelabuhannya itu
9:38panjang jalannya.
9:39I
9:40panjang-panjang
9:41panjang jalannya dari
9:42ada penjual-penjual di pinggir-pinggir.
9:44Ih sekali ada. Iya.
9:47Inilah makanya saya bilang waktu kita
9:49lompat gigit pensil tuh kasih aturan
9:51pensil jangan dimakan. [tertawa] Makan
9:54dia makan pensil 2B lima. Bagaimana?
9:57Terganggu. Terganggu.
9:59Masukin pensil dalam botol wei. Dia
10:01masukin botol di tenggorokan. Jadi
10:03hasilnya begini. Salah. Salah. Harusnya
10:06pensil ke botol,
10:07bukan botol ke
10:09minta maaf karena memang
10:11memang saya ajak ke sini ke saya karena
10:12saya lihat di terminal dia begini.
10:14[tertawa]
10:16Jadi masih ada efek-efeknya kasihan.
10:19Minta maaf ya [tertawa]
10:20saya kira keluar ki mana? Pakai mana
10:24[tertawa]
10:27ya? Jadi ke Kalimantan.
10:29Ke Kalimantan. Kerja di sana Ki?
10:31Belum ada kerja.
10:32Itu marantau pada waktu itu. Kenapa?
10:35Eh,
10:35diajak orangkah? Kalau kerja juga belum
10:37kerja. Apakah sekolahkah untuk diusir
10:40keluarga? Diusir keluarga. [tertawa]
10:42Bukan kayak
10:44tes-tes begitu
10:45kayak tes-tes begitu. Pergi coba pergi
10:47sinioba diarakan
10:49diarakan itu tidak ada tidak ada
10:50keluarga.
10:51Tidak ada.
10:52Nah, dia itu lagi nongkrong di Makassar
10:54ni. Peterani ini lagi nongkrong begini
10:58set
10:59naik kapal.
10:59Naik kapal.
11:00Naik kapal. Iya sudah tiba
11:02saya simpel itu. itu gitu. [tertawa]
11:05Weh,
11:06saya kayak ingat seseorang
11:09atau jangan-jangan
11:10jangan-jangan
11:12ada yang begitu lagi ken [tertawa]
11:14jangan-jangan antar kawan ke kapal
11:17terbawa kapal.
11:18Ada juga kawan begitu tuh.
11:19Ada juga begitu.
11:21Nah, gak ada kawan
11:22gak?
11:23Oh, tidak ada.
11:23Jadi kawan [tertawa] itu teman toh? Gak
11:25ada.
11:25Kenapa Ki coba-coba? Kenapa Ki terpikir
11:27coba-coba Kalimantan? Ah,
11:29lebih ke penasaran.
11:30Oh, penasaran.
11:31Umur 20 itu.
11:32Iya. Eh, Bu. Iya. Umur 20 19 20
11:35tuh kan.
11:36Oke.
11:36Penasaran
11:37sendiri saja berangkat ke sana. Sendi
11:38saja.
11:39Nah, turun kapal apa? Masih ingat kapal
11:41apa?
11:42Labobar K
11:44Dobon Solo
11:44Tampom. Eh,
11:46Tampomas terbakar itu di dalam Anda
11:47terbakarnya. [tertawa]
11:49I tampomas sudah terbakar.
11:52Kalah mutu. Kalau mutu pokoknya itulah
11:56pokoknya
11:58juga
11:58turun pertama di kota apa?
12:00Balipapan atau di mana? Gak turun. Oh,
12:02turun. Sandar boleh.
12:04Iya, sandar ki maksudnya sandar kasihan
12:06sandar di balipapan.
12:07Oh,
12:08turun di situ
12:08belum
12:09diarakannya.
12:11Oh, berarti [tertawa] hanya kita lihat
12:12saja ini kota Balipapan. Oh, ini kota
12:14Balipapan gak turun ki?
12:15Tidak betul.
12:16Hanya lihat dari atas saja.
12:17Kotanya gak lihat cuma bandara
12:20pelabuhannya.
12:20Pelabuhan.
12:21Habis itu naik lagi. Turunnya berarti
12:22ditarakan.
12:23Turunnya ditarakan.
12:24Sendiri kita turun.
12:25Banyak orang kan turun.
12:26Iya, Mas sendiri [tertawa] ya. Iya
12:28sendiri. Kita kasih berangkat tah kita
12:31sendiri ku [tertawa]
12:34keluarga keluarga kasih
12:37hati sakit hati
12:39sedikit lagi abang sedikit lagi
12:41tahu kalau orang ramai-ramai kau tahu
12:43[tertawa]
12:44masa cuma satu penumpang di dalam
12:45kan tadi kita bilang berangkat sendirian
12:48iya kan sama penumpang lain tapi kita
12:49sendirian yang lain itu maksudnya tidak
12:52kenal
12:52iya gak kenal betul
12:53iya sendirian benar benar ini toh betul
12:55nah pas turun di tara kan juga begitu
12:57banyak yang turun ini. Banyak
12:59tapi kita tidak kenal semua.
13:00Gak ada.
13:00Cuma sendiri kita turun.
13:01Iya
13:02banyak
13:03turunnya banyak.
13:04Maksudnya saya sendiri gak sendiri juga
13:06hidup bernapasnya sendiri. Pas turun
13:08[tertawa] pas turun
13:11sendiri kan sendiri. [tertawa]
13:16Penumpang lain tidak bernapas.
13:18Gimana masanya? Maksudnya ada temanku
13:21dari temanku ada temanku
13:23penumpang lain semua gak ada temanta
13:26kita turun ramai-ramai dengan penumpang
13:27lain tapi gak ada temanta
13:30ke mana habis itu
13:30nah iya ke mana
13:32ke masjid
13:33oh masyaallah tidak [tertawa]
13:37karena belum waktunya
13:39karena saya
13:40karena tidak tahu mau ke mana toh jadi
13:42ma
13:42saya dulu ngomong
13:45lempar lempar lempar lempar di lempar di
13:47[tertawa]
13:49Karena saya
13:52bukan muslim.
13:53Eh, sabar dulu. Udah
13:56kenapa ke masjid?
13:57Karena masjid itu
14:00tempat perlindungan dan beristirahat.
14:03Tapi kan Anda bukan muslim. Anda tahu
14:05dari mana?
14:05Kenapa Anda ngatur saya? [tertawa]
14:08I mom saya kan mom saya. Saya mau ke
14:10situ.
14:11Bukan sampai sekarang bukan muslim.
14:13Muslim dong.
14:14Oh.
14:14Oh. Tapi kamu rasa kayak oh kalau di
14:16masjid kayaknya aman deh. Ya udah ke
14:17masjid deh.
14:18Iya. Karena memang waktu di Makassar Ki
14:20kan begitu juga tuh.
14:21Karena lingkungan Makassarnya Bang
14:24teman-teman semua orang muslim.
14:26Oke.
14:27Lalu apa kau bikin di situ?
14:28Bikin apa di situ?
14:30Ya cuma istirahat duduk. Istirahat
14:32tidak ditanya.
14:33Ditanya sama ditanya siapa presiden
14:35pertama Republik Indonesia? Apa
14:38panjang itu? Panjang
14:39paling paling paling ya ini sebenarnya
14:41kita lagi reka ulang remaja masjid itu
14:43yang lagi tanya-tanya dia nih capek juga
14:45ya [tertawa]
14:46itu remaja masjid pasti capek juga si
14:47juga
14:48pasti capek juga si
14:49kita kayak
14:50abang ke sendiri datang ke sini tidak
14:53banyak yang turun
14:54salat tobat habis itu salat tobat remaja
14:56[tertawa] masjid
14:57nah mereka tanya apa
15:02ini [berteriak]
15:03saya ingat karena dia Mas sudah usia 20
15:06ee 20 tahun berlalu. Jadi kan dilupa apa
15:08dia tanya Agung 40 berarti
15:1141 41 tahun5 41
15:1441 menang siapa
15:15bukan bukan skor
15:16bukan bola [tertawa] bukan bola bukan
15:18bola bukan bola bukan bola bola bukan
15:20bola
15:21bukan bola [tertawa]
15:22jadi memang dari kisahnya ini
15:24dia ee mualaf di mualaf
15:27mualaf dia di umur 22 di
15:2921
15:3021
15:31oh 1 tahun kemudian berarti berarti
15:33waktu di situ itu tidak salat tidak wudu
15:36tidak apa-apa ya
15:36tidak ada Cuma buat istirahat saja.
15:38Iya.
15:39Tapi kan orang-orang lihat ini orang di
15:41dalam masjid tapi tidak salat
15:42ya. Kenapa kalau dilihat gak masalah?
15:44Bukan
15:45anu maksudnya bukan jangan terlalu
15:46cepat-cepepat tersinggung ya. [tertawa]
15:49Engak pungguhnya juga.
15:50Iya kayak apa lihat apa lihat kenapa
15:52tanya pasti kan ada ya ada pertanyaan
15:55lah
15:55banyak makan coto ini
15:57ya. Itu remaja-masih su tanya itu banyak
16:00pertanyaan tuh remaja-mis tanya
16:02itu
16:03iya tapi dia lupa
16:04pertanya-pertanyaannya. He
16:06seingat saya itu dia tanya
16:09dari mana.
16:10Oke,
16:11simpel ya. Simpel ya.
16:12Paling basic.
16:13Simpel basic.
16:13Kalau dilupa lagi itu sih [tertawa]
16:15parah memang pasti diingat itu.
16:17Kalau tidak salah
16:18apa kita jawab?
16:19Kita jawab apa?
16:20Saya bilang dari pelabuhan.
16:23[tertawa]
16:24Iya karena memang kita reka ulang siang
16:27bang. Kita reka ulang emosian.
16:29Itu masjid di mana? Itu masjid di mana?
16:31Dekat pelabuhan.
16:32Jauh dari pelabuhan. Jalan kaki ke situ?
16:35Iya, jalan kaki.
16:36Jalan kaki tidak ada tujuan. Kemudian
16:38dapat masjid istirahat.
16:39Tapi ini bagus. Dia istirahat di masjid.
16:41Ada saya punya teman waktu itu dia
16:42istirahat di [tertawa] Pos Jaga Hotel.
16:45Posatpam.
16:45Posatpam hotel.
16:46Posatpam Universitas.
16:47Universitas Sahid.
16:48Oh, Universitas Sahid.
16:49Oh, iya. Satpam Universitas. Jalan dari
16:51Halim sampai Universitas Sahid. Terus
16:53nginap di Universitas Sahid. Di Posat.
16:55Di Posat. Universitas Sahib.
16:57Bukan di masjid. Ini bagus nih. Ini
16:58cerdas.
16:59Itu siapa? Itu siapa? Yang
17:00ada itu Adiar Kiang lah. Siapa lagi?
17:03[tertawa]
17:05Urusan bodoh-bodoh. Urusan bodoh-bodoh.
17:07Sak semua orang percaya sih. Ad
17:11ada kawan di sampingmu itu.
17:13Siapa lagi?
17:14Siapa lagi? [tertawa]
17:15Enggak ada otak kayak gitu. Adar
17:19kalau tahu saya nginp di pos bagus di
17:21tidak usah
17:23[tertawa]
17:23yang ini sudah betul.
17:26Ini sudah betul. Itu terlalu ganggu
17:28satpam. Orang lagi jaga dipakai tidur.
17:30Terus ee setelah dari masjid apa tujuan
17:32tak? Maksudnya sudah sampai minarakan.
17:34Eh oh ini Tarakan ini. Terus ke mana ki?
17:37Saya gak tahu bilang Tarakan.
17:38Oh itu gak tahu Tarakan itu turun saja
17:40ada yang dorong [tertawa] bukan mestinya
17:42di tiketnya itu kan di tiketnya beli
17:44tujuan mana? Dia bilang Tarakan balik
17:46papan kan gak dia tahu bilang ini
17:47Tarakan.
17:48Oke kita itu posisinya waktu itu.
17:50Oh posisinya ya langsung turun toh
17:51turun. Iya.
17:52Ditawari kembali lagi ini di depan ini.
17:55Iya. Ditawari angkot tidak tahu.
17:57Pokoknya jalan saja.
17:58Oke.
17:58Nah, sampai di masjid.
18:00Hm.
18:00Duduk ada anak remaja masjid.
18:03Hm.
18:04Nah, tanya dari mana? Eh, dari
18:07pelabuhan. Oh, bukan maksudnya ee kota
18:10asalnya karena itu [tertawa]
18:13juga.
18:13Oke. Terus jawabannya ini.
18:15Iya. Saya bilang dari Makassar
18:19ee ada keluarga sini yang tadi tanya
18:22tadi.
18:22Iya. Oke, lanjut terus terus terus terus
18:25aja. [tertawa]
18:27Emosi anjing.
18:28Tidak emosi
18:29eh kakak.
18:31Saya bilang saya bilang tidak ada.
18:33[tertawa]
18:35Kalau tidak ada keluarga berarti mau
18:37nginap di mana?
18:38Iya.
18:39E
18:39jadi nginap di mana?
18:41Saya bilang nginap di masjid sini boleh?
18:44Oh.
18:44Oh boleh dia bilang. Oh, diizinkan K
18:46deizinkan.
18:48Alhamdulill.
18:48Oh, tapi mereka belum tahu agama kita
18:51apa.
18:51Belum tahu ya. Waktu masuk azan salat
18:54cerita ini gak apa-apa. Ini
18:55gak apa-apa. [tertawa]
18:57Kita datang sini memang mau cerita bukan
18:58mau kerja tegel.
19:00Tegel tegel mau cerita [tertawa]
19:02kalau kita lagi nanti kita lagi mau
19:05kerja dong. Memang mau cerita-cerita di
19:07sini.
19:07Oke. Terus
19:09pas waktu salat.
19:10Iya. Waktu waktu salat ditanyalah tas
19:13dikasih masuk ke
19:14tempatnya marbot.
19:15Mes. Mes. Marbot.
19:17Tempatnya marbot itu.
19:18Irma. Irma.
19:19Irma apa?
19:21Ikatan remaja masjid. Eh,
19:22betul betul. Remas. Kalau dulu remas.
19:24Remas.
19:25Oke.
19:26Dia heranlah kenapa sampai ini orang gak
19:28salat.
19:29Ditanya kenapa gak gak salat?
19:31Ee saya jujurlah saya bilang saya
19:33nonmuslim.
19:34Oke.
19:35Belum masuk.
19:37Dibakarlah.
19:38Oh. [tertawa] Terus begitu. Tidak Islam
19:41itu kan tidak ada begitu-begitu di
19:44masjid selain aja ini.
19:46Iya. Tapi nanti orang percaya
19:48orang awam percaya kok. Oh di masjid
19:50begitu nanti begitu orang pikir
19:52maksudnya kan ada arkiang toh [tertawa]
19:55maksud saya
19:57kiang pasti berpikir begitu
19:59ya. Bodong-bodok. [tertawa]
20:00Terus terus terus ini apa?
20:02Nanti saya takutnya kalau begini bilang
20:03oh ini titisan Nabi Ismail ini yang
20:05dibakar tidak anu itu.
20:07Eh kok Nabi Ismail? Nabi Ibrahim.
20:08Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim. kita.
20:11Tapi habis itu, habis itu terus akhirnya
20:12dia bilang apa? Irma itu
20:14gak bilang apa-apa. Dia cuma
20:15itu yang pas kita jawab eh saya nonlim
20:18tapi mau masuk Islam. Kita bilang muslim
20:19eh belum
20:20belum masuk Islam.
20:21Jadi saya masuk Islamnya itu
20:23waktu nikah toh? Waktu beli kelapa tuh
20:24toh
20:25bukan-bukan itu itu lain lain
20:26konten gitu konten itu konten
20:29konten
20:30dia nikah ni waktu dia beli kelapa tahu
20:32[tertawa]
20:33masa dia percaya konten
20:35orang ini
20:37tapiang dia percaya
20:38dia percaya kerakti ke barat itu dia
20:40percaya [tertawa]
20:41itu mah konten
20:44lah bodoh keras sakti memang ke barat
20:46kok gila kah kalau keras sakti memang ke
20:49barat
20:50iya
20:50dia percaya modelan begitu persis
20:53lah memang Ada.
20:54Oh ya tidak syuting semua.
20:55Kalau ini sekali-sekali wartek lah.
20:57Percaya itu
20:58io dia di pegawan toh. Jadi ini saya
21:00cerita ya dia pekawan tuh mau masak mie.
21:03Mau masak mie
21:05tuh. Terus dia bilang sekali-sekali war
21:06bukan masak mie mau beli mie.
21:09Mau beli mie.
21:09Mau beli mie.
21:10Mau beli mie.
21:11Terus dia bilang sekali-sekali wartek
21:12lah.
21:13Dah angkat dia langsung
21:14diangkat sama temannya. Ayolah wartek.
21:16Kalau begitu angkat di wartek. Makan di
21:18sampai santak dikasih turun makan-makan
21:20semua orang tu.
21:21Itu viral tuh
21:22sama yang dia nikah tuh gara-gara dia
21:23jual es kelapa [lonceng]
21:25masih itu konten
21:27masih konten konten.
21:28Lanjut dulu Iranjut dulu.
21:30Oke dia tanya eh salat
21:33lanjut yang ini dulu
21:34ya. Bukan bukan
21:35bukan jangan yang ini. Yang ini saja
21:36kan masih ada lanjutan yang
21:37sekali-sekali warung masih bisa
21:41tidak usah
21:41sampai ada yang buka [tertawa]
21:42pembahasan baru tapi cerita kita
21:46kita bakulpukul
21:47nanti aja itu orang bisa nonton sendiri.
21:50Ada yang buka pem
21:50terlalu gampang kistrak gitu [tertawa]
21:53nih. Ee remaja masjid ini tanya
21:57abang dah.
21:57Iya
21:58abang dah tidak salat?
21:59Tidak salat.
22:00Saya nonmuslim.
22:01Oke. Nonmuslim. Apa ini tanggapan dia?
22:04Jawaban dia apa?
22:06Jawaban.
22:09[tertawa]
22:10Oh dia. Oh dia bilang begini di saya
22:13dilempar.
22:15Dia dia bilang gak [tertawa]
22:17dia gak bilang-bilang.
22:19Oh. Dia cuma lihat saja senyum baru
22:21langsung dia kalau begitu saya salat ya
22:23begitu salat.
22:24Tapi dari situ mulai ada penasaran tuh
22:27karena berwudu semua begitu. Nah,
22:30rasanya
22:30masa di Makassar tidak pernah lihat?
22:32Pernah tapi kan beda situasinya lagi
22:36sado. Ini di sini lebih sado sendirian
22:38gitu.
22:38Kalau kalau di Makassar kita lihat
22:39secara ter apa
22:41ramai-ramai orang
22:42tidak bisa kita masuk di masjid alamnya
22:44toh.
22:44Iya. Tapi paling tidak pasti pernah
22:45lihat haji kala wudu.
22:47Tidak Haji Kala siapa juga yang pernah
22:48lihat? Tidak ada yang pernah lihat.
22:50Jauh
22:50orang Makassar.
22:52Tapi tidak semua,
22:53tidak semua orang lihat dia ni loh brand
22:54ambasador kala.
22:57Oh juga
22:58lebih cepat lebih baik.
22:59Pernah lihat toh haji kala wudu toh.
23:01Iya
23:01bagaimana cara wudunya? Sama saya
23:04sama
23:05[tertawa]
23:09ini kayak ikan koi gampang [tertawa]
23:11duik
23:14du detik
23:17[tertawa]
23:22dulu kasihan [tertawa]
23:27ada karang ni
23:28ada karang nih
23:29jalan lagi aku segini nih [tertawa]
23:32ada karang
23:34Lagi lewat lagi. [tertawa]
23:37Bagus ini
23:39dia lupa
23:40ya Allah.
23:41Makanya dia tidak [tertawa] bosan di
23:43situ.
23:44Jadi biar kau taruh di situ gak bosan.
23:46Tapi ikan itu otaknya di luar.
23:48Allahu Akbar.
23:50Oh yang ada di atasya. [tertawa]
23:53Iya kan
23:54di perut juga. Perutnya besar itu.
23:57Maka itu dia gampang lupa koki tadi
23:59yang yang ada begininya tuh. Mas Koki.
24:01Mas Koki itu [berdehem] yang
24:01Oh, itu yang kau maksud itu lohan.
24:03Lohan ada juga
24:05ada [tertawa] juga ikan mas koki yang
24:06begitu
24:07ada ikan mas koki yang begini itu topi
24:09koki kali topi koki
24:12itu yang di dalamnya ada [tertawa] tikus
24:13itu
24:13rata tulis
24:14rata tulis.
24:16Iya
24:17orang rata kanan dia rata tuli.
24:18[tertawa]
24:23Maka itu dia gampang lupa ikan koi tuh
24:26kita
24:27karena otaknya di luar. Selesai. Selesai
24:30di dalam kesendirian sadu nih di
24:32kampungnya orang lihat orang udud merasa
24:34wih
24:35serunya ini orang begitu apa atau apa?
24:38Penasaran.
24:38Penasaran karena waktu itu kalau gak
24:40salah
24:42masuk bulan puasa.
24:43Oke.
24:44Eh sebelum bulan puasa.
24:46Iya. T sebelum mau masuk bulan puasa
24:47tahu. Betul.
24:48Iya mau masuk.
24:48Iya mau masuk ini.
24:49Ah sudah masuk kayaknya.
24:51Iya sudah masuk puasa.
24:53Berarti dong buka puasa dulu. Oh iya,
24:55karena lagi puasa, Ki.
24:56Kalau sudah masuk bulan puasa mereka
24:57buka puasa itu.
24:58Iya kan zuhur ini.
25:00Oh, zuhur.
25:01Zuhur.
25:02Oh, i belum belum buka puasa.
25:04Ini di ditarakan sana tuh ada satu nama
25:06masjid dia lagi nonton [tertawa]
25:08baru ditanya temannya bagaimanakah
25:10sebenarnya. Jangan kita [tertawa]
25:13memang Arif kayak
25:14iya
25:14tidak terbaik ituar [tertawa]
25:18apalagi bertambah masalah tuh. Jadi
25:20tenang saja begitu kalau orang jatuh
25:21begitu.
25:25Agak totos [tertawa] sedikit.
25:26Jadi saya lanjutin to. Saya lanjut. Saya
25:28lihat orang salat. Penasaran saya bangka
25:31penasaran. Jatuh [tertawa]
25:32mau juga coba-coba. Coba coba coba-coba
25:35deh.
25:37Coba-coba
25:39itu di hari ke berapa
25:40baru datang?
25:40Hari pertama
25:41langsung coba-coba salat itu.
25:43Iya.
25:43H.
25:44Masyaallah.
25:45Eh hari hari pertama, hari kedua
25:48pokoknya sekitar itulah.
25:50Coba-coba tah mau salat. Ih, akhirnya
25:53kayak terbiasa baru senang.
25:56Oh, ada perasaan senang ke
25:57ada perasaan senang.
25:59Jadi diajarlah ee karena masih salat tuh
26:02masih ikut-ikutan.
26:03Hakan. Wudu dulu, wudu dulu, wudu dulu.
26:07Ya, wudu
26:07wudu dulu. Masih lihat-lihat
26:08tangan-tangan kumur-kumur gitu.
26:10Kumur tangan kan diajarkan sama anak
26:11remaja masjid itu kalau gak salah
26:13namanya si Heri. Kalau
26:16remaja masjid ini.
26:17Halo Mas Heri.
26:19Selamat pusing.
26:19Mas Heri yang bilang. [tertawa] Mas Heri
26:21di bilang di temannya itu hari-hari kau
26:22hari kau terus
26:24jangan saya bawa-bawa jangan
26:27[tertawa]
26:29Herry
26:29ee diajarlah cara wudu. Kemudian e
26:32setelah itu saya diajari untuk salat.
26:35Cara salat begini ee bangkit dari ruku
26:38seperti ini. Oke.
26:39Oke.
26:39Mulai sudah terbiasa senang dengan salat
26:41kan. Akhirnya salat teruslah sampai
26:4510 Ramadan.
26:47Berarti 10 hari di situ.
26:4810 hari sudah. Oke. Eh, lewatlah
26:51pokoknya ya karena sekitar 10 sampai 12
26:53hari.
26:54Oke. Iya. Oke.
26:55Adalah satu ustaz datang namanya Ustaz
26:58Bakri. Datang dia bilang ee
27:02kalau syarat diterimanya amalan dia
27:06ngomong gitu sama aku.
27:07Oke.
27:08Ada dua dia bilang.
27:10Yang pertama muslim dan yang kedua itu
27:14ee apa? mengucap eh yang pertama
27:17mengucapkan dua kalimat syahadat.
27:20Kemudian yang kedua
27:22kedua apa ya? Syarat
27:24setia pada Prabowo.
27:26[tertawa]
27:31[tertawa]
27:34Saya kaget
27:36juga tidak tahu kasih
27:37bahasa amal diterima janji setia. Ini
27:40mereka nonton sudah tiga [tertawa] orang
27:41ini ada ustaz lagi sama itu kita Ustaz
27:45Ustaz Bakri.
27:45Ustaz Bakri pusing begini Ustaz
27:48gak begitu [tertawa]
27:51berakal.
27:53Berakal betul
27:54berakal. Berakalakal.
27:56Oh berakal sehat.
27:57Iya ini syarat keduanya gagal tuh dites
28:00[tertawa]
28:01ini berakal sehatal sehat
28:03waktu itu. Belum jatuh. Belum [tertawa]
28:06belum jatuh.
28:07Belum jatuh.
28:10Jas. [tertawa]
28:12Astagfirullah.
28:14Jadi sudahlah. Jadi saya bilang
28:16saya bilang ee masa harus syarat begitu.
28:19Bilang iya
28:20betul betul betul cocot.
28:22Oh tiga syarat.
28:24Oke. Yang ketiga
28:26saja lama kita cari [tertawa] nih dia
28:28pertama yang satunya itu di hitan.
28:32Oh i ya ya ya. Disunat disunat.
28:35Disunat.
28:36Okelah. Tapi yang disunat itu tidak bisa
28:39di sini.
28:41Eh, agak agak agak kaget. [tertawa]
28:43Agak kaget
28:44di masjid tidak boleh keluar.
28:45Oh, terlalu capek. Kaget itu ya.
28:49Ee okelah saya bilang hari pertama itu
28:51saya mau diislamkan kan disuruh mandi.
28:55Kalau kalau disuruh mandi seperti
28:57agama sebelumnya lah di
29:00ya saya bilang dicelup dicelup begitu
29:02gak. Dia bilang
29:03mandi wajib biasa. Mandi wajib bukan
29:05mandi. Mandi mandi
29:06mandi mandi. Mandi.
29:07Iya mandi itu membersihkan diri
29:09dalam artian mandi junub itu sebenarnya.
29:11Oke. Iya iya iya.
29:12Gaklah.
29:13Iya. Tapi maksudnya dalam artian itu
29:14karena kita sudah akil balik toh.
29:16Iya. Membersihkan diri
29:17selama ini kita tidak pernah mandi
29:18junub. Begitu masuk Islam ya kita mandi
29:20junub. Sebenarnya itu dimaksudkan untuk
29:22itu
29:22mandi bersih itu ya. Iya.
29:23Mandi wajib.
29:24Mandilah.
29:25Hari pertama mandi mau diislamkan gak
29:27jadi.
29:29Oh
29:29sakit.
29:30Iya sakit.
29:31Oh kita sakit. Sudah mandi nih
29:33ustaz Bakrinya yang sakit. [tertawa]
29:35Sayalah saya saya yang sakit saya
29:39[tertawa]
29:41bilang lagi gak bisa ke kayaknya saya
29:43[tertawa]
29:44lagi
29:46gigi
29:49gig
29:49kalau sakit sakit giginya kalau sakit
29:52[tertawa] giginya syahadatnya tidak
29:53tidak sempurna
29:56tidak bisa tidak boleh [tertawa]
29:59kau ceritakan saya pulang sama
30:03Mus
30:04begini asistennya begini
30:07begini. Jadi e
30:09kita sakit
30:10saya sakit.
30:11Oke.
30:12Ditunda itu.
30:12Oke. Ditunda gak jadi.
30:14Iya.
30:14Terus tapi sudah mandi tuh. Sudah.
30:17Itulah salahnya karena mandi subuh.
30:19Disuruh mandi wajib. Kita mandi subuh.
30:21Saya mandi subuh
30:23baru mandinya itu jam .00.
30:25Terlalu dingin.
30:27Tidak biasa sebelumnya. Seus seharusnya
30:29itu bikin segar sih cuman tubuh tidak
30:31biasa.
30:32Kaget to kaget.
30:33Kaget
30:34naik panasta
30:36harusnya kan jam 5. Demam ki
30:38demam.
30:39Hm.
30:40Tapi masih salat. Kenapa pas salatnya
30:42itu sembuh?
30:43Itu yang kita rasa.
30:45Oh sakit.
30:45Ya memang sembuh. Saya berarti
30:47sakit 2 jam aja berarti
30:49dari jam .00 ke jam 5. Doang kan salat
30:51subuh sakit lagi.
30:52Habis bukan sampai salat salat tarwih.
30:55Salat tarwihnya sembuh. Oh seari turun
30:59saya gak tahu bawa itu apa, tapi yang
31:00jelas itu yang buat saya pas salat itu
31:02sembuh. Ah, hari keduanya baru yakin
31:05sudah mandi mandi lagi hari keduanya.
31:08Iya.
31:09Mandinya itu ee sebelum subuh lagi. Jadi
31:11mandi dua kali harusnya gak usah. Sudah
31:13ya.
31:13Iya. Tapi tidak apa-apa tidak apa-apa
31:15biar segar toh. Satu hari mandi satu
31:16kali
31:17karena kan lebih yakin lagi toh
31:18maksudnya mandi yang sebelum mungkin
31:19masih belum tahu. Mandi yang berikutnya
31:21lebih yakin.
31:22Iya. Berikutnya
31:23mandi
31:23sudah itu pas sudah salat mandi salat
31:26subuh langsung diislamkan sama
31:28habis salat subuh Ustaz Bakri bukan sama
31:32sama Ustaz Bakri di mana [tertawa] di
31:34mana sama Herz Bakri sakit
31:38Ustaz Bakri sudah ganti jadi guru.
31:40Guru Umar Bakri [tertawa]
31:42guru. Guru itu Umar Bakri. Bakri.
31:44Ustaz Bakri itu yang mengisi kultum.
31:47Oke.
31:48Oh. Tapi dia ada di situ ketika
31:50diislamkan.
31:51Ih. Karena dia tahu ini
31:52bukan dia tahu dia tanya [tertawa]
31:55pertanyaan pertanyaan ada tadi
31:58tapi Ustaz Bakri kasih ke mungkin lebih
32:00tua lebih senior yang islamkan.
32:02Iya memang Pak Kiai Janudin Dalila ketua
32:04MUI.
32:06Oh ketua MUI
32:07ketua MUI
32:08langsung Islam
32:09itu ada suratnya tuh habis itu kan
32:11biasanya
32:12belum ada.
32:12Oh belum di
32:13ini baru sebagai salat supaya dia bisa
32:15salat
32:15sampai sekarang belum ada. Oh gak
32:19tidak usah bekal untuk ketua MUI Tarakan
32:21langsung ketua MUI Pak Kiai
32:24sabar ini masjid ni masjid besar berarti
32:27gak besar juga tapi beliau tinggal
32:30tinggal di situ waktu itu dia sudah jadi
32:32ketua MU atau belum
32:33sudah langsung
32:35atau Ustaz Bakri ini memang punya
32:38kenalan-kenalan kayak
32:40Ustaz ini ada
32:41gak ada dia tinggal di situ memang
32:43siapa kiainya
32:44oh kiainya tinggal Oh, dia punya rumah
32:46dekat-dekat situ
32:47kan supaya tidak perdebatan ke mana-mana
32:49langsung bilang begitu [tertawa] supaya
32:51dia tidak tanya.
32:52Ketika Bapak Abdur tanya, Bapak Sisten
32:55lanjut tuh. [tertawa] Tidak tahu juga
32:58langsung masuk bisa.
33:00Langsung masuk bisa.
33:01Oh, begitu.
33:02Izin tanya Ki. Tanya, Ki. Ee waktu itu
33:06kita namanya kita lahir dengan namanya
33:08kita pas masuk Islam sama atau berbeda?
33:10Beda. Nama sebelumnya apa?
33:12Nama asli Cong Cingleng.
33:14Kok bisa? Ada keturunan Cinanya sisteng
33:17ini.
33:18Gak gak semua begitu, Bos. Semua begitu.
33:20Ada juga
33:22ada Ciputranya.
33:23Ciputra.
33:24Jadi namaku itu panjang sebenarnya
33:26karena
33:26waktu lahir.
33:27Iya. Karena kan dua suku toh.
33:28Iya.
33:29Cina sama Flois. Jadi baru anak pertama.
33:32Jadi harus ada farm dari Bapak,
33:34ada farm dari Mama.
33:36Oke.
33:36Maka digabung dua-duanya. Oke,
33:39pokoknya itu nama itu kayak tulis Yosep
33:42Yance, Ciputra, Agata, Dakules. Pokoknya
33:45begitulah panjanglah.
33:46Ciputranya itu mama, Agata, Dak Kulesnya
33:49itu ikut bapak
33:50apa?
33:51Ee
33:53farm.
33:54Farmnya
33:55Farmnya apa?
33:56Dakules. Dakules. Agata. Agat.
33:58Agata. Dik. Iya. I
33:59dakules.
34:01Fak.
34:01Nenek. Nenek.
34:02Oh.
34:02Oh. Berarti nama nama tadi tadi apa yang
34:05paling?
34:05Yosef.
34:06Yosef. Yance. Ciputra, Agata, Dak Kules
34:09pokoknya sekian-sekian disingkat Yenfun.
34:11Yenfun nama nama nama kecil T itu
34:13gak dipanggil biasa di tongkrongan
34:15banyak namaku. Biasa dipanggil Oca,
34:18biasa dipanggil Andi.
34:20Oh. Oh.
34:20Biasa dipanggil biasa namanya
34:23banyak
34:24dipanggil Andi. Oh ada ada ini ada
34:26asistennya. [tertawa] Asistennya
34:27ada Andinya juga
34:29gak adaak. Tapi dipanggil
34:31kalau dulu hari orang dipanggil Andi itu
34:33kayak gagah sekali keturunan raja. Iya,
34:36karena ada keturunan raja ini. Tidak ada
34:37keturunan raja. Kenapa orangil [tertawa]
34:40Andi?
34:40Ini Andi.
34:41Kalau Andi itu kayak
34:43nama gaul.
34:44Iya, kayak Toy Story.
34:45Tulisannya apa? A D I kan.
34:48Ini tadi
34:49eh dia Andi. Kalau Andi kan gelar toh.
34:51Kalau dia tidak ada koma atasnya. Andi
34:53biasa.
34:54Kalau di Sulawesi itu ada komanya. Andi
34:57ada Andi. Andi
34:59iya biasanya begitu.
35:01Walau Andi itu biasa. biasa. Tapi kalau
35:04di Sulawesi keren itu, And
35:05pokoknya dia kalau nama keren itu ada
35:07huruf N-nya di belakang. Andi Kevin, An
35:10Kevin, IKN begitu.
35:13Keren.
35:14Keren juga ada M-nya di belakang toh.
35:16Keren. Iya,
35:17beken juga. Beken juga.
35:20Nah, sampai ke Ramdi ini. Ke Ramdi
35:22[tertawa]
35:23sudah ada kan
35:25Ramdi habis habis Islamlah di situ.
35:28Islam
35:28ganti nama.
35:29Habis itu ke mana? Ganti namanya dulu
35:31dulu. Nama Islam
35:31ganti nama. ganti nama jadi Heri.
35:35Jadi
35:35Bakri.
35:36Ustaz Bakri yang kasih nama.
35:38Ustaz Bakri kasih nama siapa?
35:39Bagi tugas ini.
35:40Bagi tugas.
35:40Baik. Memang Ustaz Bakri.
35:41Ustaz Bakri kasih nama siapa?
35:43Karena itu bulan Ramadan kemudian
35:45bilangnya dapat hidayah. Memang hidayah
35:48kalau begitu ya, Bang.
35:48Hidayah.
35:49Ialah
35:50maksudnya dari salat dari apa
35:53walaupun itu cuma sekedar melihat dulu
35:54pertamanya semua itu hidayah.
35:57Semua yang masuk ke ketukan hati.
35:59Oh,
36:00terus. Terus
36:00jadi nama,
36:02jadi namanya.
36:02Iya, jadi namanya dikasihlah nama
36:06Hidayat Bakri. Eh, Hidayat Ramdi.
36:10[tertawa]
36:12Hidayat anaknya.
36:14Terlalu baik Ustaz Bakri ini [tertawa]
36:16terlalu baik. Langsung diangkat anak
36:19langsung
36:22[tertawa]
36:24dia
36:28gua bilang juga bilang juga kasih bisa
36:31aja [tertawa] juga kasih biar bisa aja
36:35tuangku ini jual-jual itu TV itu TV jual
36:37jual jual [tertawa]
36:38son
36:39jadilah hidayat rambi
36:40hidayat rami karena mendapatkan hidayah
36:44diam ramadan
36:46Ramadan Ramdi
36:47Ramadan Ramdi
36:48Ramdi harusnya itu R A Dhe
36:52tapi
36:52tapi di KTPku R A
36:55M
36:55D A E Ramdi R A M D A I
36:59Oh
37:00kalau ada H-nya kan keren kelihatannya
37:02ini Ramdai berarti di KTP
37:04Ramd
37:05Ramdi biasa tidak ada H
37:07gak ada H-nya
37:08tidak ada hotelnya
37:09tapi tadi ada A
37:10H ha ha
37:11ha dia bilang hotel hotel jadinya
37:12sekarang
37:13Muhamdi
37:16A MDI langsung
37:18MDI ya. Oh, tidak ada di ah
37:21kan Ramadan ada Ramadan ada
37:24Hanya
37:25tapi tidak apa-apa karena dia juga ini
37:26Muhammad Yusram
37:28[tertawa]
37:30harapannya Muhammad Yusran biar keren
37:32salah ketik tapi kebetulan salah ketik
37:34serius
37:35salah ketik itu. Makanya waktu SD ijazah
37:37SD tuh masih pakai N ijazah SMU
37:41[tertawa]
37:42mungkin mengantuk toh mungkin mengantuk
37:44apa
37:44Islam Islam
37:45N dan N dengan kan dekat toh [tertawa]
37:47dek itu diin ketik dulu kan
37:49berarti saya salah ketik juga
37:51bisa jadi
37:52bisa jadi
37:53kurang ketik dia kurang ketuk
37:55kalau enggak salah itu
37:58ketawa
37:58seram [tertawa]
38:01masalah zamannya Mama tuh kan kalau
38:04zamannya Bang Ramdi Kan sudah komputer
38:07ini ber belum
38:09ini 20 tahun lalu
38:10tahun berapa ini? 20 tahun lalu. Tahun
38:1320 tahun lalu sudah komputer lah.
38:14Kalau dihitung dari sini berarti 20
38:16tahun berapa itu? 2005
38:182005 2006 eh tahu ya
38:21awal-awal
38:23mesin ketik sudah Jakarta sudah.
38:26Nah, mama juga masih mesin ketik. Jadi
38:28begitu sudah mam
38:30mamaam kalkulator kalkulator [tertawa]
38:34masa kalkulator ada
38:37memang ada kalkulator
38:38dia sudah yusram mau hapus susah
38:40nama tulis nama pakai kalkulator ada
38:42tidak gitu dia saja yang bicara
38:44ada [tertawa]
38:48ya jadi nama nama
38:50astagfirullah
38:51Hidayat Ramd
38:52Hidayat Ramdi dipanggil sebenarnya
38:54dipanggil setelah itu siapa Ramdi
38:57Dayat
38:58Dayat.
38:58Dayat dipanggilnya.
38:59Habis dari situ sudah Islamlah di masjid
39:02itu. Habis itu ke mana?
39:03Dipanggil tinggal dulu di rumahnya teman
39:06Pak Ustaz Bakri. Ini
39:07teman siapa ini?
39:08Harry.
39:09Oh. Tinggal di rumahnya Harry atau
39:12temannya Harry?
39:13Rumahnya Heri.
39:14Oh, rumahnya Har.
39:15Sekarang saya berteman sama Heri.
39:16Dia marbot di situ itu ya. Remas. Remas.
39:18Remas.
39:19Marbot. Irma. Irma. Irma.
39:20Irma lah. Bukan marbut. Ma tapi
39:22merangkap.
39:23Dia yang ngurus lah. Dia yang ngurus.
39:24Mas. Nah, kita tinggal situ apa dibikin
39:27tinggal
39:28ya? Maksudnya kalau cuma tinggal
39:29kayaknya [tertawa] enggak dulu ya.
39:30Iya. Heri lama-lama ini. 10 hari pertama
39:33Heri kasih piring. [tertawa]
39:3520 hari Heri masih kasih 40 hari ke atas
39:38mualaf sih. [tertawa]
39:41I
39:42kayaknya 40 hari sudah enggak kehitung
39:43mualaf. [tertawa]
39:45Tapi tidur bangun bakatul betul itu
39:48cocok tidak bilang tahu memang.
39:50Iya. Bosan tuh orang juga
39:51betul. Iya. Dia yang dia yang ajak atau
39:54kita yang boleh kah saya tinggal di
39:55rumahmu?
39:56Dia yang ngajak, Kak.
39:57Oh, dia yang ajak.
39:57Karena kan kalau tengah malam ajar-ajar
40:00begitu tuh ajar-ajar baca
40:01agama. Masyaallah. Her orang baik. Jadi
40:04[berdehem]
40:05harus disunat. Hm.
40:07Oke. Heri yang sunat.
40:08Her bukan [tertawa]
40:12bidan. Bidan ke bidan?
40:13Ustaz Bakri.
40:14Ustaz Bakri sun.
40:15Bukan juga [tertawa]
40:17yang beri siapa yang
40:19eh. Jadi dia begini dia kasih ke Heri.
40:20Oh bukan kah ustaz jadi siapa [tertawa]
40:22ini?
40:25Masa gak buka memang
40:28ustaz ini [tertawa] siapa?
40:30Ustaz bakar kanan kiri.
40:34Akhirnya ke dokter, ke dokter.
40:36Menteri masih menteri,
40:37menteri
40:37menteri [tertawa] mantri menteriya.
40:40Itulah itulah menteri itu kayak Pak
40:41Bahlil itu menteri
40:43memang menteri ya waktu itu
40:44memang menteri pertanian waktu itu yang
40:46ini bukan [tertawa] bukan
40:472005 2006
40:512006 mantri mantri
40:53pertama mau disunat tuh gak jadi
40:55patah gunting [tertawa]
40:57bukan terlalu lebat
40:59oh jadi disuruh itu
41:01apa ini ini
41:03cabut rumput dulu
41:04iya disuruh pangkas kan pangkas
41:06[tertawa]
41:06waktu itu
41:08pakai parah pakai parah
41:11[tertawa]
41:13Susah susah [tertawa]
41:16ini rumput di dalam rumput
41:21mana ini dia [tertawa]
41:23mana
41:24asistennya di sebelah begini
41:27susah ini [tertawa] de
41:29terlalu lebat teralu lebat lebat
41:31jadi suruh disuruh [tertawa] dulu kan
41:33disuruh itu jalur
41:35sampai lutut itu waktu itok
41:38kerok
41:41[tertawa]
41:42Orang ini ya tarian hula-hula yang pakai
41:46pakai rafia rafia tuhrafia [tertawa]
41:48tuh
41:52[tertawa]
41:55lagi di dalam dia
41:59bat kalau barang itu emang paling bisa
42:01[tertawa]
42:03paling jago
42:05paling jago sumpah
42:07[tertawa]
42:07Break
42:09tidur baru langsung lanjut lagi. Balik
42:11lagi.
42:12Lanjut gak jadi lagi.
42:14Karena
42:14karena
42:15gak ada uang mau pakai bayar.
42:16Ih harusnya dari awal [tertawa] dari
42:19awal kan terbik
42:22lagi tidur sudah buka [tertawa] tok.
42:27Ustaz ustaz di kanan di kiri sudah
42:31[tertawa] siap-siap baru
42:33sudah setengah jalan.
42:35[tertawa] Bayar setengah apa lebar?
42:39Bayar tengah dulu.
42:42Kenapa?
42:43Kenapa gak ada uan dari awal memang
42:46akhirnya? Akhirnya bagaimana? Menabung
42:47lagi
42:48akhirnya cari dulu.
42:49Bukan jadi
42:50ee proposal
42:52eh
42:53bukan proposal sih kayak ini kali
42:55kitaran massal kali ikut kitaran masal.
42:58Eh bukan mas
42:58kan kalau kitaran masal gratis
43:00Bang. Sumpah ini aja harus tertutup rapi
43:03di arak diga-tega kitaan masal.
43:06[tertawa]
43:07kitaan masal tuh tetap ada bilik-bilik
43:09gitu.
43:09Iya, tapi kan ramai orang.
43:10Tapi kebanyakan anak-anak di kalau
43:13[tertawa] kalau
43:14ada yang mau dewasa yang mau ikut boleh
43:16juga di
43:17terus itu akhirnya apa? Bikin proposal
43:19pengajuan untuk bantuan
43:21sampailah ke warga satu warga tahu.
43:25Oh.
43:25Jadi untuk barang kecil itu semua warga
43:27[tertawa]
43:28ikut dari mulut ke mulut.
43:30Iya.
43:31Pesarnya.
43:31Oh gak ada gak ada uangnya. Akhirnya ada
43:34satu orang maksudnya orang mampu orang
43:36kaya.
43:37Oh siapa namanya itu? Masih diinggak
43:40Haji Kala
43:41Pak Haji Mustofa. Haji
43:43Haji Mustofa
43:43Haji juga.
43:44Haji juga pasti orang kaya lah.
43:45Haji.
43:46Haji Mustofa bantu dia biar misalnya
43:48tanggung
43:49dia yang bayar.
43:49Dia yang bayar.
43:50Betul. Dia yang bayar.
43:51Sunat sunat selesai itu tiga-tiganya
43:53belum dulu datang ya baru mau pergi
43:55sunat [tertawa] begitu kan.
43:56Iya
43:58lalisnya
44:00baru pergi sunat. heran juga sunat ini
44:03kita bicara sunat atau apa ini maksudnya
44:04[tertawa]
44:05maksudnya di sini saja
44:06di sini saja di sini di sini tempat
44:08cerita-cerita
44:09oh iya jadi dia
44:10tidak direkam sini aman aman
44:12gak jito gak j
44:13heran
44:14siapa yang heran
44:15mantrinya
44:16kan mantri yang tadi yang dua kali sudah
44:18gagal kenapa dia heran lagi
44:19kan tadi masih tertutup kan jadi masih
44:22dia belum lihat
44:23oh
44:23oke ini sudah
44:25oke sudah dibuka heran
44:26pokoknya baru turun langsung eh anu nih
44:28terlalu panjang langsung perg
44:31Dia heran karena
44:33gak apa-apa sini
44:34gak apa-apa gak apa-apa
44:36sudah kayak disunat. Oh, anu di kayak
44:39Oh, tinggal jahit. Tinggal jahit itu
44:41yang tadi. Betul. Berarti
44:42foto setengah nih
44:44[tertawa]
44:45tidak doang. Eh, sudah begitu saya dulu.
44:49Betul tadi berarti
44:50sudah dipotong nih.
44:52Sudah kelihatan anunya
44:54kep
44:55kepalanya.
44:55Kepalanya.
44:56Tapi dia heran ini kepalanya kayak
44:58shower. Jadi banyak lubang juga.
44:59[tertawa]
45:02Sow bagaimana dia? Kan kalau kencing
45:04begitu der
45:05ganti begini. [tertawa]
45:07Tapi memang sebenarnya ketika sudah
45:09dewasa memang bisa kepalanya kelihatan
45:13tuh bisa
45:13bisa memang
45:14tapi memang kadang-kadang dia masih
45:16ketutup makanya perlu digunting
45:18perlu digunting untuk dijahit itu
45:20sebenarnya.
45:21Iya. Terus
45:22dia suruh request jahitnya bentuk apa.
45:25Hmm.
45:26Akhirnya
45:27saya yang saya bilang apa
45:29yang natural saja.
45:30Oh kalau jengking
45:31original
45:33original. original [tertawa]
45:35aja.
45:36Soalnya memang ada dua, ada yang
45:37original, ada yang crispy. Tuh [tertawa]
45:39crispy itu
45:41pinggir-pinggir ada crispinnya di
45:43ada pilihan itu
45:43ada dulu. [tertawa]
45:44Kalau mau model jalan kota ada jalan
45:46kota yang pinggir-pinggirnya itu
45:49[tertawa]
45:49ada itu.
45:50Iya
45:51sep abang punya sampai sekarang dia
45:52marah sekali
45:53karena kalau jalan kota juga ada telur
45:55dua toh. [tertawa]
45:57Oh bisa ada pilihan saya baru tahu
46:00request request request
46:02di atas. [tertawa] Jadi akhirnya yang
46:04original aja,
46:05yang biasa yang polos
46:06itu berapa lama? E 2 jam ada selesai.
46:10Cepat sekali
46:11cepat
46:11ya sejam lah ya.
46:12Hitungan detik saja selesai.
46:14Menangis tidak?
46:15Kalau detik terlalu ini cepat [tertawa]
46:18pokoknya dua 2 jam juga bisa sih. Dalam
46:20satuan detik juga bisa.
46:22Menangis tidak?
46:23Engaklah disuntik.
46:24Tapi sudah disunat langsung dapat PS2.
46:27[tertawa]
46:28Sunat masar itu namanya.
46:30dari Ustaz Magri. [tertawa]
46:32Ustaz Magri datang. Nah,
46:35gak bisa ku bayar ini. Tapi ada
46:36[tertawa] hadiah
46:39betul betul kata Brata juga apa
46:42hadiahnya kalau bukan PS
46:43PS biasa itu dikasih
46:44sepeda sepeda begitu
46:47mobil remote. Mobil remote
46:48gak ada besar tahu ya.
46:51Tidak ada hadiahnya.
46:52Gak ada hadiahnya hadiahnyaasih
46:54pekerjaan
46:55hadiahnya [tertawa] itu
46:58disuruh nikah.
46:59Oh.
46:59Oh, langsung disuruh nikah.
47:00Iya.
47:01Ini nih Ramdi yang habis tinggal di
47:03masjid, tinggal di rumahnya Heri.
47:06Belum kerja, baru sunat, langsung
47:08disuruh nikah.
47:08Langsung disuruh nikah. Itulah
47:10bagusnya jalannya. Kalau dikasih dikasih
47:12bukan bagusnya jalannya. Ini mah
47:14menjerumuskan [tertawa] ini.
47:16Tidak. Maksudnya ee dikasih kenal sama
47:19calon.
47:19Iya.
47:20Oh, Ust. Sebenarnya begini, bukan bukan
47:23cal ee kalau calonku tuh sudah ada di
47:26situ. Saya cuma pergi buta-buta begitu.
47:30Dia bilang, "Ditar langsunglah."
47:31Oh, tujuan utamanya sebenarnya itu
47:34Allah. Berapa menit ini? 46 menit. Kita
47:36kembali ke titik awal yang kita tanyakan
47:38tadi. Ngapain datang ke
47:39tadi? Itu yang ditanyakan toh.
47:40Iya. Siapa sendiri ada keluarga? Ya gak
47:42ada keluarga memang.
47:43Tapi ada tujuan [tertawa]
47:45ada hati perempuan yang dicari di sana.
47:48Oh my god. Oh my god. Itu dia merah.
47:51Ini perempuan yang beli kelapa itu
47:53masih itu lagi
47:55bukan beda
47:56bukan
47:57Oh tidak jadi berarti
47:58lama
47:59saya sudah suka dengan kau ini ya
48:00sabar
48:01kenapa
48:01sabar
48:02cerita sudah lurus dia kasih lari lagi
48:03di kelapa cerita lurus dia kasih
48:04[tertawa] lari ke yang lain
48:05sabar bang tapi
48:08ini bagus ini ada ada prahara yang luar
48:10biasa ya
48:11perempuan yang dikejar ketarakan ini
48:13i
48:14ternyata yang sekarang itu bukan yang
48:15dia nikah kan yang dia nikah tuh yang
48:17dia beli kelapa it itu itu istrinya it
48:19menarik
48:20Bukan beda cerita lagi itu panjang lagi.
48:23Nah, tapi yang belapa itu yang istri
48:25betul kan? Istri saya
48:26lain lagi itu
48:27lain lagi. Jadi begini saya kasih tahu
48:29itu istri
48:30jadi pernah pernah selesai satu lanjut
48:33lagi satu lagi
48:34karena
48:35oh yang beli kelapa tuh yang sudah
48:36selesai
48:37bukan
48:37yang baru itu yang baru
48:39yang Tarakan.
48:40Iya bahtera rumah tangga baru itu
48:42yang Tarakan yang sudah selesai
48:44begitu. Betul.
48:45Oh ditar.
48:45Oh oke. Kita kembali ke yang wanita dulu
48:48ya. Ya. Heeh. Yang pertama
48:49pergi ke sana ini berarti dalam keadaan
48:52sudah kenalan, sudah tahu dia ada di
48:54sana, sudah tahu semua. Ya. Terus
48:56kalau sebelum suruh lanjut maksud ke
48:58saya toh. Ini suasana kemerdekaan
49:00[tertawa]
49:02kita cerita tidak ada urusan sekali sama
49:05ini. [tertawa] Terus ngapain semua orang
49:07pasang ini pakai ini? Ngapain ngapain?
49:12Saya baru sadar ngapain? Ada semua
49:14[tertawa]
49:14aksesoris 17 cerita tidak ada. tentang
49:19nasionalisme ini asistennya sudah
49:21begitu. Ini asistennya [tertawa]
49:23asistennya
49:25ini nanti baru kita mulai masuk ke
49:27cerita-cerita perbatasan
49:28baru mulai sudah 50 menit cerita-cerita
49:31menjaga NKRI sampai ke perbatasan
49:33Tarakan tuh termasuk yang perbatasan
49:35utara ya
49:36terlalu utara dia
49:37menyambung-nyambungkan [tertawa]
49:39masalahnya lama disunat K
49:42[tertawa]
49:43lama di sunang lama memang lama
49:45diari saja ada pulangnya
49:47ada pulangnya dulu ada
49:50iya Terus terus punya ini [tertawa]
49:53terus akhirnya
49:54saya sudah capek malas
49:56dinikahkan akhirnya
49:56nanti-nanti kalau tidak selesai dia
49:58lanjut di konten lain to
49:59dia dinikahkan
50:00nikah
50:01nikah alhamdulillah gitu tercapai
50:03berarti tujuanmu dari Makassar ke
50:04Tadakan
50:05berarti cewek ini dari awal sudah Islam
50:07memang Islamang
50:08berarti dari Makassar memang ee abang
50:11sudah punya niat juga buat mau masuk
50:12Islam
50:13belum
50:14tidak ada niat ketua datang ini mau
50:15ketemu-ketemu saja
50:17ternyata serius lanjut ke Ternyata masuk
50:20Islam di apa namanya bisa ketemu dia
50:23lagi
50:23habis nikah gitu akhirnya akhirnya
50:24bertempatlah bermukimlah di Tarakan itu.
50:26Iya bermukim
50:27tinggal di rumah Heri
50:28bukan pindah.
50:30Oh sudah pindah
50:31istri. [tertawa]
50:32Nah pada waktu itu duduki duduk
50:34pada waktu itu sebelum nikah abang
50:36sukerja belum?
50:37Belum.
50:38Belum dik
50:38belum. Terlalu
50:39kerja saya pertama itu
50:42ee
50:43jual buku keliling
50:45di Tarakan.
50:46Tarakan.
50:47Betul berarti. [tertawa]
50:48Iya. Serius jual
50:50karena
50:53serius betul betul
50:56Hajrate. [tertawa]
50:58Awal tapi dari tadi gua main-main itu
51:01jual-jual buku kok. Betul kok betul
51:03dia wawancara duluan di
51:06Banami.
51:08Oh jadi kita jual-jual buku di mana? Di
51:09kapal.
51:10E tunggu dulu saya tunggu.
51:11Jangan di kapal lagi [tertawa] nanti
51:12bawa lagi balik. Tunggu cuy santai.
51:15Tunggu. Kan tadi dia bilang belum ee mau
51:17kerja tuh Bang Abdul. Jadi
51:19saya jalan ini mau cari kerja sama
51:21istriku. Ketemulah sama Pak Abdullah.
51:23Hm. Pak Abdullah di
51:25Pak Abdullah namanya. Masyaallah.
51:26Barakallah fik.
51:27Jadi dia itu yang pertama kasih Kak
51:30kerja
51:31karena dia tahu saya mualaf karena sudah
51:34menyebar kan di warga situ bilang saya
51:37mualaf. Akhirnya dia tahu dia tawarilah
51:39mau ke mana. Bilang mau cari kerja.
51:42Oh maukah jual buku-buku? Oh,
51:44buku agama.
51:45Oke.
51:46Saya bilang, "Maulah, yang jelas ada
51:48penghasilan.
51:50Okelah pergi panggil di percetakannya."
51:54Oke.
51:54Disuruh bawalah buku-buku agama itu.
51:56Pokoknya banyaklah buku-buku agama yang
51:57saya bawa pergi jualan.
52:00Hari masih di situ dulu atau mau lanjut
52:02lagi kerja?
52:03Lanjut. Lanjut lanjut.
52:05Lanjut. Pergi jual ke mana itu?
52:06Pulang dulu ke rumah. Oke,
52:09siapkan ambil tas apa pulang ke kembali
52:12ke sana jualanlah.
52:14I
52:14coba dulu jual ke mana?
52:15Dia ini main di detail tapi beda kontes
52:17dengan oki [tertawa] ya.
52:19Teralu sama dengan oki main di detail
52:21tapi pulang dulu ambil tas ini detail
52:23[tertawa] yang kita butuh tidak perlu
52:26kita butuh si
52:27jual
52:29orang kalau jual pasti pulang dulu ambil
52:30tas siapkan semua. Tapi tidak jadi
52:32tasnya karena ada tasnya dia.
52:34Iya. Cocok gak apa-apa Ji sayang. Gak
52:36apa-apa J.
52:36Iya betul.
52:37Jual aja kayak mana? Kayak mana jualnya?
52:40Tunggu dulu. Terus
52:41tunggu dulu tunggu dulu.
52:43Terus dia pergi hari pertama jualan itu.
52:45Tunggu dulu. Tunggu dulu.
52:47Ee door to door.
52:48Oh
52:49ke rumah-rumah.
52:49Rumahrumah.
52:50Ke rumah-rumah toh.
52:51Di rumah-rumah. Tapi
52:54kayak di lagi
52:55langsung saya rubah door to kantor.
52:58Oh
52:58dari kantor.
52:58Oke. Dari kantor ke kantor ke kantor.
53:00Iya. Langsung rubah rute door to pelni
53:03rumah kapal
53:05kapal. Nah, naik itu di kapal tuh
53:08belum pi itu baru maksudnya saya cerita
53:10dulu anu dari rumah dulu dari rumah tuh
53:13[tertawa] dari rumah dari rumah itu
53:15dari rumah dia keliling
53:16laku gak maksudnya [tertawa] agak sulit
53:18agak sulit marketingnya penjualannya
53:21budaya literasi turun ini.
53:22Iya turun terpaksa sasaran coba kita
53:25rubah bagaimana anunya berpikir
53:29kantor.
53:29Oh
53:30jual di kantor.
53:30Kantor. Eh, tetapi karena orang sibuk
53:32toh ada cuma satu dua anu yang lainnya
53:35diceramahi saya.
53:36Oke.
53:37Jadi saya bukan maksudnya dijelaskan
53:40karena kan dia tahu saya saya dulu
53:41jualan baru itu melabelkan mualaf supaya
53:44laku.
53:45Oke.
53:46Serius saya saya ini mualaf, Pak. Saya
53:48baru pertama kali mohon bimbingannya
53:50karena masih polos-polosnya.
53:52Hm.
53:53Buku gak laku malahan diceramahi saya
53:56Islam itu begini begini begini begini.
53:58Jadi beli nih Pak. Ah, nanti ajaalah
53:59saya anu, Pak.
54:00Lebih banyak kita dengar cerita.
54:01Lebih banyak saya dengar cerita.
54:04Baik juga, tapi [tertawa] ada kebutuhan
54:06lain toh.
54:07Bagus juga diceritakan, tapi ada juga
54:09kebutuhannya orang tahu
54:10apa kebutuhannya. Iya. Kayak makan.
54:12Kayak makan makan. Makan. Iya.
54:14Jadi pergilah Bang Abdur kan pergi jual
54:16Bang Mat keliling-keliling
54:18masih kecil pendapatan masih satu dua
54:20buku. Oke.
54:22Ah, adalah orang yang jual kipas, yang
54:25jual ini TTS apa kan
54:27naik sudah ke mobil angkot.
54:30Oke.
54:31Jurusan ke Pelni.
54:33Oke.
54:34Saya tanya pelabuhan mau ke mana? Dia
54:36bilang, "Mau ke pelabuhan jual ini."
54:37Wah,
54:39peluang besar ini.
54:40Oh, di situ kita pikirkan itu langsung.
54:42Iya. Belum. Masih anu dulu toh. Masih
54:44pulang dulu di rumah berpikir bisa
54:46tidak?
54:46Iya. Iya.
54:48Terpaksa jualan diangkot dulu. Oke,
54:51jangan dulu orang pas naik kan cuma di
54:53pintu jualan. Ah, setelah itu
54:54siapa ini? [tertawa]
54:57Siapa ini Mas Faiz?
54:59Mas Faiz. Terus terus
55:01langsung
55:01astagfirullah ke Pelni.
55:03Ialah kan di angkut itu ada penumpang
55:05jualan situ dulu.
55:07Laku tidak di situ?
55:08Gak ada.
55:08Ya sudah, jangan langsung aja
55:10ya. Langsung [tertawa] ke pelni.
55:14Kita pengin tahu K lagu itu di mana.
55:16Iya.
55:17di mana
55:19[tertawa]
55:20tapi gak ada yang laku
55:22tidak ada yang laku
55:24gak kalau dibilang agak [tertawa]
55:27dipili juga begitu
55:2817 Agustus tahun [tertawa]
55:32sudah
55:33tidak ada yang laku
55:34tidak ada yang laku
55:35ada juga tapi masa satu dua tipislah
55:37tipis tipis kerja apa lagi selain itu
55:39nah
55:40yang bisa menghidupi keluarga ini loh
55:45jual diri bukan Bukan, [tertawa] bukan,
55:47bukan. Sampai.
55:48Jadi saya sudah jual buku
55:51langsung kerja bangunan.
55:53Oke. Kuli, kuli, kuli.
55:55Bangunan atau ikan dulu? Di
55:57ini tanya saudarata. [tertawa]
55:59Eh, ikan. Ikan mau ikan mau ikan ikan.
56:03Ikan dulu
56:04bangunan dulu dibawa ke
56:05saudara juga ragu-rabi [tertawa]
56:07tapi maksudnya menggambarkan bahwa di
56:09Indonesia ini orang struggle bisa
56:12bisa mencari kehidupan kehidupan. Kalau
56:15kita punya keinginan yang kuat, pasti
56:17ada saja jalan.
56:17Dan itulah cara terbaik untuk kita
56:19mengisi kemerdekaan. Betul.
56:20Selama kita bersatu.
56:21Betul. Bersatu,
56:22saling mendukung dan tidak menyerah
56:23seperti beliau ini.
56:24Tapi itu belum bulan Agustus.
56:26Allahu Akbar. Hari kalau ini kan sudah
56:29[tertawa] sudah bulan Agustus hari
56:30kemerdekaan di situ belum.
56:32Iya. Tapi mengisi kemerdekaan itu tidak
56:34hanya di bulan Agustus.
56:36Selama kita bersyukur dengan kemerdekaan
56:37yang dikasihi oleh Allah Subhanahu wa
56:39taala ini adalah dengan memberikan yang
56:40terbaik untuk bangsa dan negara.
56:42Setuju. Setuju.
56:42Setuju banget. Lalu akhirnya kau jual
56:45ikan.
56:45Belum dulu jual. Sabar ikan jual atau
56:48jadi nelayan? Bangunan dulu?
56:51Oh bangunan. Oke.
56:52Bangunan dulu. Kau bilang ikan tadi.
56:53Saya sudah suruh ikan, tapi dia tetap
56:55bangunan. [tertawa]
56:56Suruh ikan. Ikanlah. Ikanlah. Ikanlah.
56:58Ikan. Saya sudah coba.
56:59Ikan aja lah.
57:00Iya.
57:01Ikan aja lah.
57:01Terserah kita. [tertawa]
57:04Aman Ji.
57:04Berarti dikip dulu bangunan toh.
57:05Iya
57:06iya. Oke. Ikan
57:07bangunan begini cerita singkat-singkat
57:08saja. Singkat-singkat bisa toh kalau
57:10cerita singkat-sikat. Bangunan berapa
57:11lama? Gak lama.
57:13Oh gak lama. Ada pengalaman menarik gak
57:16di bangunan? Tidak juga.
57:18Tidak ada. Oke skip.
57:19Angkat semen.
57:20Oke.
57:22[tertawa] Per semen orang. Betul. Betul.
57:25Saya juga pernah angkat semen. Saya
57:27tanya kenapa eh tadi di bangunan tadi
57:29tidak lama? Kenapa berhenti? Apakah
57:31rumahnya sudah jadi atau dipecat mandor
57:34atau apa?
57:34Peluang lebih besar jual ikan.
57:36Oh.
57:37Ada tawaran?
57:38Ada tawaran. Tawaran. Oke. Tawaran. Ee
57:40di sini pendapatannya begini. Kalau jual
57:42ikan dapat begini.
57:43Oke. Jual ikan
57:45banting stir tuh.
57:46Banting stir.
57:47Sor ini jual ikan itu dari pancingnya
57:50sampai ke jual atau siap terima jual
57:53saja?
57:54Ke pelni.
57:56Ke pelniak. [tertawa]
58:00Apa transel transel kasih masuk di
58:02tasnya jual kan pelni.
58:03Tidak [tertawa] mungkin begitu. Tidak
58:05mungkin begitu.
58:05Tidak mungkin.
58:06Kita ambil dari mana? Kenapa dia
58:07gili-gili sendiri dengan [tertawa] ikan?
58:09Woi, kita ambil di penampungan.
58:12Ambil dari nelayan.
58:13Ada bosku.
58:14Iya dari nelayan. Penyalur di
58:16bukan nelayan juga kan. Bosku yang beli.
58:20Bos. Bos itu punya orang yang jual,
58:21punya orang yang pancing, punya orang
58:22yang ini kirim yang atur semua.
58:25Saya yang jaga ikannya, Bosku.
58:27Oke. Sudah di toko ini tidak jual
58:30keliling.
58:31Bukan. Sudah,
58:32bukan.
58:32Jaga
58:33bosku. Itu si Harry temanku tadi
58:36dari tadi tadi itu. Kenapa dari tadi
58:38tidak kerja?
58:39Hari Allah kerja di harus jual buku
58:42dengan Pak Abdullah dulu.
58:45Heri mau lihat dia punya usaha dulu
58:46dong.
58:46Iya betul
58:47begitu. Apakah betul
58:48dia tawari? Betul. Serius dia
58:50dia mau lihat usaha dulu.
58:51Tidak gak tahulah. Pokoknya seperti itu.
58:53[tertawa]
58:53Tapi minta maaf ini ya. Kenapa itu minta
58:56maaf? Kenapa Bang Heri dari awal tidak
58:58suruh kita kerja ikan waktu tinggal di
58:59rumahnya? Bilang bantu-bantu sama Pak.
59:02Iya. Waktu tadi keliling cari kerja
59:04kayak kantor-kantor bahwa saya ini
59:06mualaf gitu. Kenapa Harry yang tahu dari
59:09awal ini tinggal sama dia
59:10tidak kerja di tempatnya Heri?
59:12Iya karena saya langsung pindah
59:14habis nikah [berdehem] pindah.
59:15Iya pindah pindah. Jadi dia gak tahu
59:16bilang saya mau kerja bagaimana apakah.
59:18Oh dia tidak mau membebani juga. Kamu
59:22karena hidup saya sudah dia bebani.
59:24Maksudnya dia sudah terbebani dengan
59:25saya hidup di situ.
59:26Jadi abang tidak tidak enak juga enak
59:28juga kita mau minta kerja kan atau Heri
59:31juga maksudnya kan ini orang baru
59:32datang-datang kenal langsung di masjid.
59:35Untuk bisnis juga mungkin dia masih
59:37mantau-mantau ya pilih orang kepercayaan
59:39karena ini jaga ikan loh.
59:41Jaga aset ini.
59:42I akhirnya setelah lalu lalang dari jual
59:44buku bangunan sekarang ketemulah dengan
59:47Harry lagi.
59:48Nah jual ikan. Jual ikan.
59:50Disuruh jual ikan.
59:51Alhamdulillah. Itu ini di toko kan? Di
59:54toko
59:55bukan.
59:55Ini di tokonya dia.
59:56Bukan di depan toko.
59:59Eh toko di sini.
1:00:00Oh depan toko buka lapak.
1:00:02Eh depan toko. Tapi kita ke belakang
1:00:04sedikit ke lorongnya.
1:00:05Oh i ya ya. Oh kayak anu. Iya ini
1:00:07terlalu detail lokasi ya maksudnya masih
1:00:09lingkungan depan tok masih lingkungan
1:00:11tok [tertawa] belikan beli ya
1:00:13tapi dia ke belakang sedikit kan
1:00:15kan patukannya depan toko
1:00:16ini kan begini ini toko ini toko ini ini
1:00:19di depan sini masuk lorong pukul diri
1:00:21sendiri [tertawa] begitu dia putar dia
1:00:23situ di toko ini sudah lingkungan toko
1:00:25ini maksudnya
1:00:26maksud saya bukan maksud saya bukan toko
1:00:27tapi [tertawa] lapak lapak
1:00:29sudah lapak la
1:00:30ada mejanya begini lagi
1:00:32ada mejanya empat ee kaki kaki lima ya
1:00:36kalau begitu ya kaki empat K empat
1:00:38di sini saya jual, Bang.
1:00:39Oke. Berapa lama itu, Bang?
1:00:41Gak lama. Sekitar 6 bulanan.
1:00:44Kenapa berhenti?
1:00:45Karena ada peluang lebih besar lagi.
1:00:47Apa?
1:00:48Kerja di tukang kaca
1:00:51ini lebih besar daripada ikan.
1:00:53Si Heri yang tawari. Kau mau tidak
1:00:54kerja di tukang kaca? Iya, tukang kaca.
1:00:56Gak tahu apa maksudnya.
1:00:58Heri boleh 6 bulan Heri bilang capek
1:01:00saya. [tertawa]
1:01:02Dia tanya saya tanya kawan-kawan. Oi,
1:01:05peng kaca butuh kaca ada
1:01:06dia butuh karyawan tukang kaca butuh
1:01:08karyawan sii tawarilah saya
1:01:10masuk kita tuh
1:01:11kerjanya
1:01:12masuk
1:01:12kerjanya apa di situ jual kah
1:01:14potong-potong kaca
1:01:15disuruh bercermin katanya
1:01:16ini [tertawa]
1:01:19ini kaca cermin
1:01:21disuhkan tempel-tempel muka [tertawa]
1:01:24dia ini tidak tahu
1:01:27raaga dia
1:01:28ini kacamu kuat
1:01:29kuat eh sisteng
1:01:31oh [tertawa] iya mungkin kuat
1:01:34Jual kaca berapa lama? Jual kaca berapa
1:01:36lama?
1:01:36Gak lama juga.
1:01:376 bulan juga.
1:01:38Ada lagi. Ada yang lebih menjanjikan
1:01:39lagi.
1:01:40Gak ada. Sudah situ pindah sudah ke
1:01:41Makassar karena gak ada yang
1:01:42menjanjikan.
1:01:43Oh.
1:01:43Bawa keluarga ini ke Makassar sendiri?
1:01:46Sendiri.
1:01:46Oh. Mulai berkonten tuh kapan?
1:01:48Panjang lagi ini di Makassar belum pi?
1:01:50Iya.
1:01:51Pokoknya saya sudah dari Makassar. Dari
1:01:53Makassar ke Kalimantan baru berkonten.
1:01:56Oh. Balik ke Kalimantan lagi.
1:01:57Balik Kalimantan dulu.
1:01:58Tahun berapa balik di Kalimantan lagi?
1:01:59Ulang
1:02:00pas Covid. Oke. 2020.
1:02:02Jadi saya dari 2015 balik ke Kalimant eh
1:02:06Makassar
1:02:092020 atau 21 itu kembali ke
1:02:12Kalimantan. Kalimantan
1:02:13kerja di apa di sana situ? Minta
1:02:15jual ikan lagi di Heri.
1:02:16Karena kenapa ini balik lagi ke
1:02:18Kalimantan?
1:02:18Gak ada kerjaan di sana tuh. Kok
1:02:19di Makassar
1:02:20ba di Makassar bawa bentur tapi gak ada
1:02:22anunya kan.
1:02:22Oh pernah bawa bentor?
1:02:23Pernah bawa bentor.
1:02:24Oh
1:02:25dihias-hias juga tidak?
1:02:26Gaklah
1:02:27ada lagu-lagu tidak? Ada ada
1:02:28lagu-lagunya biasa
1:02:31itu kalau yang Bang Abdur Masuk itu
1:02:34maksud itu di Gorontalo lah.
1:02:36Oh iya di Gorontalo.
1:02:37Ini beda di Makassar.
1:02:38Kalau yang di Makassar biasa aja ya.
1:02:40Tidak tidak dimodif-modif ya.
1:02:42Oh iya iya betul. Gorontalo yang
1:02:43modif-modif ini kita sudah
1:02:46lompat
1:02:47bentornya bagus-bagus.
1:02:48Akhirnya kebalik ke Kalimantan kerja
1:02:50lagi sama Bang Heri di situlah sambil
1:02:52berkonten.
1:02:53I
1:02:54konten pertama itu kalau saya
1:02:55yang meledak konten pertama itu apa yang
1:02:57pecah? Kalau saya gak salah konten
1:02:59pertama yang meledak itu
1:03:00ya kasih makan ayam.
1:03:01Nah itu
1:03:02toh cocok mi.
1:03:03Jadi saya makan mie ini toh langsung ada
1:03:06inspirasi kayak muncul begitu bang eh
1:03:08bikin konten deh
1:03:10makan mie mi mie instan tapi itu mie itu
1:03:11mie sudah lama kan tidak boleh orang
1:03:13buat
1:03:14ee konten makanan yang masih utuh kan
1:03:17kalau dibuang-buang.
1:03:17Iya dibuang-buang saya mau makan kan
1:03:19begitu langsung diambillah. Saya bilang
1:03:20eh nanti kau
1:03:22ee datang mau makan mie ya nanti e kau
1:03:26bilang pakai ayam ya. Silong maulah.
1:03:28Iya iya ya.
1:03:29Satu ekor ayam surun
1:03:31langsung dia makan mie kan
1:03:32gak jadi dimakan.
1:03:34Oh karena ada ayamnya.
1:03:35Karena ada ayamnya
1:03:35kan mie ayam pakai ayam enggak? Begitu
1:03:38bilangnya begitu.
1:03:39Iya
1:03:39pakai ayam enggak? Makan apa, Mas? Makan
1:03:41mie. Mau pakai ayam enggak? Mau dong.
1:03:44Kalau ada diambil satu ekor ayam set
1:03:47di situ tempat ayam potong juga.
1:03:51Oh begitu.
1:03:52Itu pertama itu seru-seru kau punya
1:03:53konten
1:03:54itu naik di di situ.
1:03:55Coba-coba itu ngonten dulu. Terus naik
1:03:57semakin naik semakin naik yang terkenal
1:03:59berikutnya apa lagi?
1:04:00Wartek. Wartek
1:04:00itu wartek itu.
1:04:02Saya gak tahu yang mana yang anu
1:04:03tapi banyak memang kontennya
1:04:04karena saya tidak tidak perhatikan itu
1:04:06Bang.
1:04:07Tapi saya juang bola tuh ada yang juang
1:04:08bola.
1:04:08Iya bola juga banyak.
1:04:09Ada ju.
1:04:10Sejak kapan ini jiwa-jiwa pengin
1:04:12berkonten ini muncul?
1:04:14Semenjak dapat masalah.
1:04:16Masalah apa?
1:04:17Masalah keluarga lah.
1:04:19Oh waktu di Kalimantan
1:04:21agak sedih.
1:04:21Habis itu balik ke Makassar itu sudah
1:04:23sendiri tuh. Nah, mohon maaf saya potong
1:04:25karena dia sebenarnya tidak sendiri. Dia
1:04:27banyak karena beliau ini ee anaknya
1:04:30berapa kita?
1:04:31Iya, sembilan.
1:04:32Sembilan anaknya.
1:04:33Ini dari istri yang mana saja?
1:04:35Istri pertama enam.
1:04:37Oke.
1:04:37Ee pisa kedua tiga.
1:04:39Istri pertama sori istri pertama ini
1:04:41yang Tarakan tadi.
1:04:42Iya. I.
1:04:43Oh, itu enam.
1:04:44Enam.
1:04:45Oh,
1:04:46jadi gagal, depresi, pucat apa kurus dan
1:04:50sebagainya. Pokoknya eh lama sudah
1:04:52enam6 ini ikut Bang Sisteng waktu supisa
1:04:55belum masih di mamanya.
1:04:57Oh
1:04:57nanti saya sudah cukup mampu baru saya
1:05:01ambil
1:05:02yang jadi talent.
1:05:02Tapi berarti susah apa maksudnya ee apa
1:05:07struggle juga ya ibunya
1:05:08apa struggle
1:05:10berjuang. Berjuang berjuang berjuang
1:05:11berjuang juga ya. Maksudnya ibu
1:05:13setelah sudah pisah enam-enamnya ikuti
1:05:15ibu semua itu
1:05:16saya yang biayai. Oh
1:05:17iya tapi maksudnya
1:05:18cuma kirim uang aja. Betul betul. Iya,
1:05:20tapi enam-enamnya di ibunya semua.
1:05:22Eh, satu aja si Latif.
1:05:24Oh, Latif yang ikut.
1:05:25Iya, yang ikut kerja juga sama saya kan
1:05:26di
1:05:26Oh, yang jadi itu yang tuh.
1:05:29Oh, bagaimanakah ini sistemnya ya? Oh,
1:05:31begituah. Adakah?
1:05:32Oh, ada kayak gitu. Itu anak itu.
1:05:34Itu yang tua
1:05:35yang tu.
1:05:36Oke.
1:05:37Ada kayak gitu
1:05:38sampai sekarang sudah sembilan.
1:05:39Iya, sembilan.
1:05:40Berarti yang kedua tiga.
1:05:42Tiga.
1:05:43Iya. Berarti bikin konten ini ketika
1:05:45anak masih enam nih balik ke Makassar
1:05:47bikin-bikin konten.
1:05:49Bukan di Kalimantan, di Malinau
1:05:51sudah bikin konten itu. Oh,
1:05:53lagi struggling struggling. Oke.
1:05:56Terus [berdehem] alhamdulillah jadi
1:05:57sesuatulah knya.
1:05:58Iya. Alhamdulillah ya. Karena
1:05:59jadi sebenarnya situ anu bang kayak kita
1:06:03karena ini masalah besar sekali kan.
1:06:05H.
1:06:05Jadi daripada saya stres
1:06:08bakar itu SPBU. Ih, jangan seumpama kan
1:06:12daripada saya kerja di SPB
1:06:14daripada stres.
1:06:15Oh, ada kerja di SPBUnya juga.
1:06:17Oh, panjangnya di banyak
1:06:19dia ini anu k dong berjuang berjuang
1:06:21pokoknya apa saja dikerjakan yang banyak
1:06:22pokoknya yang jelas ada uang eh ada bisa
1:06:26menghasilkan untuk menafkahi keluarga
1:06:28apapun.
1:06:29Oh, tapi masuk juga SPBU itu kan merah
1:06:31putih.
1:06:32Iya. Ada kemerdekaannya juga.
1:06:34Kemerdekaan
1:06:34sudah tidak usah memaksa. Tidak usah
1:06:36memaksa. Udahlah ornamen ini bagus aja.
1:06:38Ud.
1:06:39[tertawa]
1:06:39obrolannya kita tidak tidak ada
1:06:41kaitannya sama background. Enggak apa-ap
1:06:42lah. Udahlah udah
1:06:43penonton sadar. Oh iya SPBU. Oh pantas
1:06:45mereka merah putih
1:06:46tidak ada merah putihnya.
1:06:47Iya kan? Ini merah putihnya Indonesia
1:06:48bukan SPB.
1:06:49Ada biru-birunya juga putih anunya ada
1:06:50biru
1:06:51ada juga ada juga. Tidak usah ini ada
1:06:53itu milik negara. Iya. Nah, jadi di SPBU
1:06:57He
1:06:58di jadi waktu sori waktu cerai ini waktu
1:07:01kerja di SPBU
1:07:03proses
1:07:04Oh di situ lagi kerja ki di SPBU proses
1:07:07e perceraian di ini tuh
1:07:08percaya kan stres ki bagaimana akhirnya
1:07:10buat mi konten
1:07:13tapi sebelumnya saya ngonten di
1:07:16Kalimantan ada lagi yang pecah di
1:07:18Kalimantan waktu pulang jual ikan buat
1:07:19konten sabun itu sabun Arif kan
1:07:21oh sabun
1:07:22ya kan dulu kita itu
1:07:24kalau Kalau tidak ada odol pakai ya.
1:07:28Ternyata itu sabun bekas cebok anakku.
1:07:31Saya pakai kan
1:07:32kok beda ini, Mak. Mamaku juga tuh
1:07:34suaranya.
1:07:35I Oh, masih masuk konten di situ.
1:07:36Tapi saya rekam
1:07:38kejadian nyata saya jadikan video
1:07:41keresahan toh.
1:07:41Padahal itu pernah kejadian nyata.
1:07:43Iya pernah. Ma, kenapa ini
1:07:46bau? Eh eh ma. Oh iya bekas cewek sama
1:07:48anu tuh anakmu.
1:07:49Oke lah itu pecah. Ramai lagi. Ram.
1:07:53Bagus rasanya itu Arif. Karena kan
1:07:54campuran sabun sama itu.
1:07:56Kalau rasa saya tidak tanya juga, Bang.
1:07:57Maksudnya terseram itu.
1:07:59Iya. Itu
1:08:00agak bersih karena kecampur [tertawa]
1:08:01eseria kan di situ kan.
1:08:04Jadi itu pecah juga di situ.
1:08:06Alhamdulillah. Alhamdulillah.
1:08:08Tapi banyak yang pecah yang saya jualan
1:08:09di laut yang kopi. Hop.
1:08:11Iya. Banyak banyak.
1:08:13Tapi dari semua itu sekarang ini sudah
1:08:15menghasilkan sekali berarti ya.
1:08:16Alhamdulillah.
1:08:16Enggak sekali. J masih banyak.
1:08:18Saya pengin sabar saya pengin tanya
1:08:20dulu. Habis SPBU tadi kan sudah proses
1:08:22cerai,
1:08:23ketemu yang kedua ini di mana?
1:08:25Itu adminku
1:08:26admin dari mana
1:08:28dulu?
1:08:29Admin ini admin konten admin IG.
1:08:31Jadi waktu saya kan banyak tuh viral
1:08:34yang di Kalimantan es kelapa sawit,
1:08:37durian dan sebagainya. Jual bawa loting
1:08:39manual sistem.
1:08:41Heeh. Oke.
1:08:41Masuklah endorse.
1:08:43Heeh.
1:08:43Pakai bahasa Inggris. Redcut lah,
1:08:46invoice salah gak ada ini gak saya tolak
1:08:48semua itu karena tidak tahu
1:08:50karena saya gak tahu bahasa Inggris.
1:08:51Iya.
1:08:53DM istriku pertama komen dengan ada foto
1:08:56lucu-lucu gitu.
1:08:59Saya tawarilah kau tahu bahasa Inggris
1:09:02tahu. Nikah yuk gitu. Terlalu cepat,
1:09:04terlalu ini [tertawa] terlalu apa ya?
1:09:08Konotasi apa? E hubungan antara
1:09:11kalau tah bahasa Inggris
1:09:13tahu bahasa Inggris
1:09:14tidak maksudnya
1:09:15apa hubungannya ya?
1:09:16Saya cuma tanya buat karnas ini nanti
1:09:17yang akan pegang anuku
1:09:19IG
1:09:20IGM
1:09:21ee berkomunikasinya
1:09:23komunikasi brand brand sekarang
1:09:25[tertawa]
1:09:26iya tapi ini dia baru pertama kali DM
1:09:29atau sudah kenal sebelumnya?
1:09:31Jadi dia DM saya itu dua kali. Oke.
1:09:32Yang kedua kalinya baru saya respon.
1:09:35Oke. Oke. Tapi akhirnya direspon.
1:09:37Direspon.
1:09:38Akhirnya jadi manajernya kita juga yang
1:09:39urus segala macam hal.
1:09:41Terus sekarang kita sudah di mana ini?
1:09:42Sudah pindah di Jakarta atau masih
1:09:43Karawang. Sudah di Karawang sekarang.
1:09:45Karawang.
1:09:45Karawang. Nah, di Karawang. Kenapa
1:09:47pindah ke Karawang?
1:09:48Karena istriku tinggal di situ.
1:09:50Istri yang Karawang
1:09:51ketemu di Tarakan ini.
1:09:53Eh, admin. Yang admin. Admin ketemunya
1:09:56sosial media.
1:09:57Yang bahasa Inggris nikah. Yuk.
1:09:58Iya. Berarti itu posisinya tidak
1:10:00ditarakan. Tidak. Istri nih.
1:10:02Iya. Di di Karawang.
1:10:03Istri itu di Karawang. Dia DM.
1:10:05DM.
1:10:05Saya di Kalimantan.
1:10:07Kau kalau cari ini perempuan tipenya
1:10:08harus yang jauh ya. [tertawa]
1:10:10Terus akhirnya Makassar.
1:10:11Nikah di mana?
1:10:12Kalimantan.
1:10:13Kalimantan
1:10:14nikah di
1:10:14Karawang.
1:10:15Yang itu yang kemarin lihat potong anu
1:10:17sudah nikah itu
1:10:18yang kelapa toh.
1:10:19Nah
1:10:19itu nikah di Tarakan
1:10:21bukan Karawang. Karawang.
1:10:23Konten kelapa itu di mana?
1:10:24Karawang.
1:10:25Di Karawang.
1:10:25Jadi tinggal di Karawang sekarang.
1:10:27Sekarang di Karawang.
1:10:28Oke. Oke.
1:10:28Karena istri orang Karawang.
1:10:31Alhamdulillah. Tapi alhamdulillah ya
1:10:33sudah
1:10:34udah alhamdulillah karena koleb-kole
1:10:35sudah sama Bang Mael ya kan
1:10:38konten-kontennya jadi alhamd
1:10:39dan sekarang banyak yang luasanya
1:10:41religius juga maksudnya
1:10:42bernuansa-beruansa selipannya religi
1:10:43juga kan
1:10:44iya iya selipan-selipan pesan agama juga
1:10:46dikit kan
1:10:47ini berarti di sana tinggal dengan anak
1:10:49tiga di Karawang
1:10:50anakku tujuh di situ. I
1:10:52berarti kan tiga yang dari istri ini toh
1:10:54yang dari Karawang ini kan tiga toh.
1:10:56Ah, betul.
1:10:57Ah, berarti empat empat lagi dari yang
1:11:00pertama.
1:11:01Iya di rumah.
1:11:02Oh, Latif ini Latif.
1:11:03Latif sama
1:11:05harus saya bawa kak Latif. [tertawa]
1:11:08Berarti
1:11:10agak dia lupa nama.
1:11:10Berarti yang ikut ikut istri pertama di
1:11:13sana
1:11:14cuma satu orang. Satu orang
1:11:16tadi dari dia anak enam.
1:11:18Empat. Kalau ikut abang dua lagi. Ikut
1:11:20dia dong.
1:11:21Ikut saya lima.
1:11:22Ah, berarti ikut abang lima. Coba lihat
1:11:24kakak dulu.
1:11:25Hadirin sekalian yang berbahagia.
1:11:26Pokoknya ikut saya lima
1:11:27dalam rangka menyambut 17 Agustus
1:11:30namanya Mukhlis.
1:11:31Berarti Muklis ikut istri yang di sana.
1:11:33Muklis ikut sana di istri.
1:11:34Oh,
1:11:35yang lima ikut saya silati. Pokoknya
1:11:37lima orang lah ikut saya.
1:11:37Lima berarti tambah dengan tiga yang di
1:11:39sini delapan.
1:11:40Delapan
1:11:41yang di rumah.
1:11:41Betul.
1:11:42Oh, ya sudah begini aja.
1:11:43Jadi sembilan.
1:11:44Kalau begitu supaya lebih jelas nanti
1:11:45ikut saya kita catat kartu keluarga
1:11:48saja. Kartu keluarga keluarga dulu.
1:11:51Kalian jangan santai-santai. Besok kita
1:11:53harus ikut lomba tarik tambang.
1:11:55Nah, itu makanya kita menyemar 17
1:11:58Agustus. Kita punya RT harus menang.
1:11:59Tidak boleh. Kalau tidak ada kegiatan
1:12:01bantu kita tarik tambang. Nah,
1:12:02tarik tambang ya nanti bisa
1:12:04bisa banyak tenaganya ini.
1:12:05Formasinya bagaimana? Siapa di depan Pak
1:12:07RT?
1:12:08Ini yang di depan Abdur ada tenaga ini
1:12:10kan kebetulan [tertawa]
1:12:12kebetulan kan udah Pras lagi tidak bisa
1:12:13ikut lagi
1:12:15dia lagi
1:12:16dia lagi apa namanya
1:12:19napas tilas.
1:12:20Napas tilas. Napak tilas.
1:12:21Napak tilas. [tertawa]
1:12:22Napas tilak lagi di Belanda.
1:12:25Bagaimana napas tilak? Mana napas tilak?
1:12:27Napas tilak apa [tertawa]
1:12:28lagi? Napakas perjalanan kedekan
1:12:31Indonesia di Belandaul lagi lihat-lihat
1:12:33sejarah.
1:12:34Iya. Jadi kita di sini 17-an nanti di
1:12:37depan posisi di depan kau
1:12:39ya.
1:12:40Kau nomor dua.
1:12:41Gilber di mana? Gilber.
1:12:42Siap.
1:12:42Nomor tiga.
1:12:43Oke.
1:12:43Eh saya nomor tiga.
1:12:44Oke. Saya
1:12:45nomor empat.
1:12:46Saya
1:12:46kau ini jadi tambang di tengah itu kau
1:12:48diikat di tengah. [tertawa]
1:12:51di leher ya di leher ya
1:12:53kok bisa begitu tarik leher
1:12:54kok bisa begitu sudah sementara abang di
1:12:58sini aja dulu
1:12:58bikin itu jaga-jaga sini ronda ronda
1:13:01rond
1:13:01jaga-jaga di sini dengan hanc
1:13:03kalau nanti maling lewat kita kejar ya
1:13:05ih
1:13:06memang begitu
1:13:07iya begitu mau jaga-jaga dulu inih
1:13:10[musik]
1:13:11iya
1:13:12berkumpul bercanda membawa cerita
1:13:17[musik] di titik [bernyanyi] kumpul
1:13:18sedih Jadi bahagia
1:13:24ribut ribut capek. Aduh ribut semua.