Full transcript
0:00Saya rapat ada menteri, ada Menko, saya
0:02ngomongin ini, ini juga nih namanya
0:05pejabat ini. Dia merasa berkuasa. Aku
0:09enggak mungkin bisa nabok dia kalau kita
0:11sama-sama bukan pejabat kan ya. Ya pikir
0:13kau tabok dia nih. Gua pikir nih minimal
0:16ompong lah. Gua pikir gitu. [tertawa]
0:18Saya minta mau pindah Kanada malah
0:20ekstrem. Terus teman saya bilang, "Udah
0:23Hok ngapain lu? Enggak usah sok-sok
0:25pahlawan lah lu lah. [tertawa]
0:27Kalau hampir semua instansi banyak oknum
0:29ya enggak ada obat lu katanya.
0:32Mending lu ikut gua nungguin rumah gua
0:34di Kanada. Jadi ada story di balik
0:36story. Jadi Anda di e boleh jadi diut
0:40dikasih syarat
0:40ya pindah dukunganlah dukung Ganjar lah.
0:44Oh
0:45karena dianggap Ganjar pasti kalah. Yang
0:47perlu diperbaiki itu presidennya Pak.
0:48Kalau kita bisa jadi perbaiki [tertawa]
0:50presiden. Presidennya perbaikin Pak.
0:52Saya jamin, Pak, kalau DPR tahun depan
0:55enggak mau mengesahkan itu, ditabokin
0:58rakyat, Pak. Setan juga belum dihukum
1:00[tertawa] godain kita. Kenapa paksa
1:02Tuhan hukum setan goda kita berdosa
1:04gitu, Pak? Loh, saya enggak pernah
1:05nyesal, Pak. Ya
1:06kan namanya kita mengedukasi rakyat
1:09dan saya sudah jalanin hukuman saya
1:10sampai hari ini orang ketemu saya masih
1:13ada yang mau ngajak foto kok.
1:27Pak Haok selamat datang di Cafe Berisi.
1:29Terima kasih, Pak. Sudah.
1:30Wah, terima kasih. Ini ya kawan lama
1:32datang ke sini.
1:33Ini kedua [berdehem] kali ya saya
1:34ketiga?
1:34Iya, kedua ketiga kali kan pernah ngisi
1:36diskusi juga di sini dan sebagainya. Ya,
1:39Pak Ahok. em sudah pernah menjadi e
1:42komisaris di Pertamina, komisaris utama
1:44lagi, kemudian juga banyak tawaran dari
1:46swasta untuk mimpin perusahaan dan lain
1:48sebagainya. Tapi kenapa pilihannya tetap
1:51masuk ke politik? Kalau politik kan
1:53enggak bisa ke perusahaan. Kenapa tetap
1:55bertahan di partai politik?
1:56Ya, pertama, nah
1:59memang dari kecil juga dari bapak saya
2:02ya.
2:02Hm.
2:03Ya, dulu malah saya lebih ekstrem.
2:05Hm. Waktu frustrasi lihat banyak oknum
2:09aparat, oknum ya pokoknya oknum-oknum
2:12banyaklah para pemeras, para segala
2:15macam pelayanan buruk ya oknum pajak
2:18semua kita buka usaha kan capek kan
2:21oknum LSM macam-macamlah. H
2:24saya minta mau pindah Kanada malah
2:27ekstrem.
2:27Oh mau tinggal di sana.
2:29Iya ditawarin teman masih remajaan itu.
2:32Masih masih belum nikah janganlah ya.
2:35Terus teman saya bilang, "Udah, Hok,
2:37ngapain lu ngurusin
2:41negeri enggak usah sok-sok pahlawan lah
2:44lu [tertawa]
2:46udah tahu nih negara [berdehem] isanya
2:47dia tuh enggak enggak ada obatnya.
2:49Kalau hampir semua instansi bayak oknum
2:51ya enggak ada obat lu katanya.
2:53Mending lu ikut gua nungguin rumah gua
2:56di Kanada. Rumah gua gede
2:58kepikiran juga tuh di sana.
2:59Nungguin anak gua
3:00enak kan di sana.
3:01Terus saya kan dari kecil kan suka di
3:03ngomongin gitu kan. Hm.
3:04Paling enak kerja di Kanada, gaji
3:07Kanada. Tambang kan orang tambang kan.
3:09Terus saya juga.
3:10Oh, Bangka.
3:11Master keuangan kan.
3:12Mm-nya keuangan.
3:14Terus dikirim pulang Indonesia. Wah,
3:16enak.
3:16Hm.
3:17Gaji Kanada tinggal di Indonesia kan.
3:20Oh, kerja di
3:21rasa istri jangan orang Kanada.
3:23Berat ongkosnya nih. Istri orang
3:25Indonesia lah.
3:26Ditreat sebagai di sini.
3:28Ah, ini kan enak kan. Jadi saya pikir,
3:30"Udah saya mau pergi." Nah, Bapak saya
3:32waktu minta izin itu, Bapak saya bilang,
3:37"Kamu pergi, kamu yang sekolah tinggi di
3:40kampung ini punya pabrik aja merasa mau
3:43pergi. Terus yang ditinggalin siapa?
3:46Orang enggak sekolah,
3:48orang enggak punya pabrik."
3:49Hm. Enggak boleh pergi. Dia bilang,
3:52"Rakyat butuh kamu."
3:53Itu peran ayah begitu kuat di situ.
3:56Tahun5 rakyat butuh kamu.
3:58Nah, terus saya bilang, "Butuh apa, Pak?
4:00Muka kita." [tertawa]
4:03Wah, Bapak saya marah tuh. Dia marah
4:05benar. Dan satu kaimatnya yang penting.
4:07Kamu pec
4:09satu hari kelak rakyat akan pilih kamu
4:12memperjuangkan hak mereka.
4:14Terus
4:14saya pikir mana masuk akal [berdehem]
4:16ya? Kamu pec mungkin saya enggak lihat.
4:19Dia bilang,
4:19"Padahal ayah bukan politisi bukan
4:21bukanak. Bapak saya dulu banyak bantu
4:23orang Gorker kok kampanye-kampanye
4:25pasti kayak Sudar Mono datang pinjam
4:28mobil kita kan. Terus kalau mau bahasa
4:30Belitung kan bapak saya orang kampung
4:32pas Kosmas Batubara
4:35datang dulu ada Haji Moas gitu kan.
4:37Di zaman Orde Baru dulu. Ya pasti Bapak
4:39saya diajak untuk ya pengusahalah suruh
4:42siapin
4:43I
4:43jam Golkar siapin sembako.
4:47Tapi Bapak saya juga dulu kan dia banyak
4:49bantu orang PNI karena temannya banyak
4:51PNI.
4:51Nah, sebelum jadi PDI dulu namanya PNI,
4:53Partai Nasionalis Indonesia.
4:55Iya. Bahkan dia kenal Aidit. H
4:57Aidit itu orang dari Belitung.
4:59Oh, Aidit orang Belitung. DN Aidit.
5:02Iya. Iya. Terakhir waktu baru banyak P3
5:04sana.
5:05Hm.
5:05Nah, DNA itu di Jakarta. Jadi sudah
5:07biasa berinteraksi dengan orang-orang
5:09politik.
5:09Iya. Karena kan memang jadi pengusaha
5:11kan pasti ketemu ya.
5:13Pasti ketemu. Apalagi pengusaha lokal
5:15yang menonjol di sana.
5:17Iya. Pasti polisi segala macam polisi
5:19juga susah kan jaksa
5:21itu kan masa lalu.
5:23He.
5:23Tapi hari ini Anda sudah tentunya pernah
5:26ngalamin ada kekapokan ngurusin politik.
5:29Terus kemudian jadi komisaris utama
5:31sudah enak. Swasta nawarin banyak. Saya
5:33dengar juga ada perusahaan swasta
5:34nawarin peranan sangat besar, gaji
5:36bagus, tapi pasti kan benturannya Anda
5:39kan enggak boleh masuk ke partai
5:41politik. Ya itu tadi Bapak saya selalu
5:44bilang gini, waktu saya sudah bangun
5:47pabrik,
5:48He.
5:49Kamu kalau jadi orang kaya
5:53mau enggak tiap bulan kasih R miliar
5:56bantu orang miskin? Lu ada R miliar juga
5:58enggak mungkin kasih R miliar.
5:59Iya. Kalau sebagai pengusaha uang
6:01sendiri.
6:01Iya. Kalau anggap R miliar kamu bantu
6:03orang waktu itu UMP cuma R00.000 lebih
6:05ya.
6:06Hm.
6:06Kalau kamu kasih Rp500.000 saja cuma
6:082.000 keluarga, uangmu habis. Coba kalau
6:12kamu jadi pejabat, kamu bisa membuat
6:14semua orang punya penghasilan seperti
6:16itu.
6:17Kamu bisa menolong orang yang miskin dan
6:19yang membutuhkan bantuan.
6:21Kayak kamu kan enggak miskin, T kamu kan
6:23butuh bantuan. Izin kamu beres. He.
6:26Kalau ada oknum pajak meres lu, oknum
6:29aparat meres lu kan lu ada belain lu mun
6:31pejabat
6:33mana ada. Terus Bapak saya bilang, "Lu
6:35lupa pepat tiongkok kuno. Orang miskin
6:38enggak bisa lawan orang kaya."
6:40Iya itu pa.
6:41Orang kaya jangan nantang pejabat bang.
6:43Lu kalau mau bantu orang miskin nantang
6:45pejabat jadi pejabat lu.
6:47Oh. Aku pikir masuk akal juga
6:49jadi pejabat
6:51baru bisa nolong orang miskin dan
6:52butuhkan bantuan kan.
6:54Kenapa PDIP?
6:55Karena kan pernah di Golkar dulu. Pernah
6:57PIB.
6:57Jadi gini, saya waktu dulu memang
7:00ragu-ragu ya masuk partai politik ya.
7:03Saya hanya berpikir udahlah yang penting
7:06pabrik bisa besar,
7:07bisa bagus,
7:09kasih gaji yang baik, pegawai kita
7:12perhatikan asuransi, pensiun semua
7:15gitulah. kita perlakuan mereka kayak
7:17keluarga lah. Itu pikiran saya. Tapi
7:20satu hari pabrik saya itu tutup. Hm.
7:24Tutup. 2003 tutup karena saya mau nabok
7:28pejabat belum kuliah di Mako dulu.
7:31Jadi ee
7:32kan pejabat kan oknum datang
7:33i
7:34verifikasi pabrik macam-macam. Sudah
7:37dapat
7:37di pejabat apa di pajak atau apa?
7:39Dari perusahaan BUMN join ini.
7:41Oh oke. Iya.
7:42Swasta malahan ini yang asing kan. He.
7:45Tapi kan orangnya banyak yang Melayu
7:47kita juga nih
7:48orang bule yang lama-lama juga sudah
7:50jadi oknum juga semua kan kalau sudah di
7:52Indonesia kan.
7:53Iya. He.
7:54Dia tahu butuh
7:54beradaptasi dengan lokal jadi orang
7:56lokal.
7:56Iya. Jadi akhirnya kita ditekan
7:58macam-macam supaya enggak bisa jalan di
8:00pabrik. Dia bilang, "Pabrik kamu
8:03tergantung saya." Wah saya tersinggung.
8:05Pabrik saya tergantung saya dong. Saya
8:07mau tutup sekarang juga saya [berdehem]
8:08tutup.
8:09Jadi orang kaya jangan lawan pejabat.
8:11Ya, gua pikir kau tabok dia nih. Gua
8:12pikir nih minimal ompong lah gua pikir
8:14gitu. [tertawa]
8:16Begitu pulang bapak saya ucapin kalimat
8:18itu
8:19pabrik tutup.
8:21Nah, sudah tutup kita kerjalah ya. Nah,
8:25sampai Bapak saya meninggal tahun '97.
8:28Bapak saya 97 meninggal.
8:31Nah, pabrik tutup sudah kerja lagi.
8:33Adaapat proyek. Waktu itu 98 kan ada
8:35kerusuhan tuh.
8:36Kerusuhan.
8:37Logistik kacau.
8:38Iya.
8:39terpaksa orang beli barang dari saya
8:41karena enggak ada barang.
8:42Nah, saya dasarnya nolong pegawai
8:45walaupun pabrik tutup saya produksi
8:46terus sampai uang habis.
8:48Nah, begitu enggak ada barang
8:51ya
8:51saya punya stok 18.000 ton.
8:53Uh,
8:54enggak ada orang gila punya barang itu
8:56banyak cuma karena dasarnya kasihan
8:58pegawai kan. H
9:00begitu dimintain harga dulu 138
9:04aku jual 224
9:07dan dolar waktu itu 15.000 lagi.
9:09Kaya raya.
9:10Waduh kita dompetnya dolar terus.
9:12Iya kaya raya itu.
9:13Nah kemudian dikerjain lagi nih. H
9:15tutup
9:162003 sudah tutup.
9:20Saya teringat omongan Bapak saya nih.
9:23Ini juga nih namanya pejabat ini dia
9:27merasa berkuasa. Aku enggak mungkin bisa
9:30nabok dia kalau kita sama-sama bukan
9:32pejabat kan.
9:33Kalau hanya dia orang kaya aja enggak
9:34bisa.
9:34Tapi saya juga ragu terus ditawarin kan
9:36saya kenal baik Bang Taufik ya Mas.
9:38Iya
9:39orang-orang Ibu Mega juga. Terus saya
9:41ditelepon dari kebetulan pembekaran
9:43Belitung Timur nih.
9:44Iya
9:45aku ditelepon dari ketua DPD-nya Rustam
9:49Effendi. Dia bekas jadi gubernur Babel
9:52wakil. Eh Bang Taufik nyari lu kenapa
9:56telepon nih? suruh saya mimpin jadi
9:59ketua DPC PDIP Belitung Timur.
10:02Oh, begitu caranya ya.
10:03Nah, kan waktu itu pembakaran dong.
10:06Nah, terus saya diperintah gitu saya
10:08mesti datang ketemu orang partai dong.
10:10He. [berdehem]
10:11Waktu saya ketemu orang asem gitu. H
10:14tahu komentarnya apa? Nah, lu ya udah
10:18ibu Mega Presiden lu baru nongol lu ya.
10:22[tertawa]
10:23Di mana lu tahun 97.
10:25Oh iya i ya. Mana lu
10:2757?
10:28Iya.
10:29Kuda tuli kan?
10:30Kuda tuli itu saya kantornya tuh di
10:32Jalan Surabaya.
10:33Hm. Baru diperingati juga
10:34itu bikin pos itu. Nah itu Pak Wasideo
10:37joinan saya kasih modal kami bikin
10:39pabrik sama anak itu. Itu anak angkat
10:41Bung Karno. Jadi sering suplly barang ke
10:44pos ini. He.
10:45Begitu kejadian kuda duli. Ciut kami.
10:50Kita pengusahakan penakutlah. Ya, saat
10:52itu kan banyak orang baju hitam-hitam
10:54datang ke sana demo terus-menerus terus
10:57tentara nyerbu. Ya, ayam goreng pemuda
10:59itu loh kantor kami sebenar Jalan
11:01Surabaya. Betul
11:02itu punyanya beliau. Jadi kantor kami
11:04nomor del.
11:06Nah, jadi akhirnya pulangnya takut.
11:09Enggak lama Pak Kuik habis itu pasang
11:11iklan.
11:11Hm.
11:13Merekrut kader partai.
11:14Hm.
11:15Wah, saya tergerak
11:17ini melakukan perlawanan nih kan emosi
11:19anak muda kan. H
11:21begitu gua daftar
11:23terus
11:25anan saya bilang kalau keluarganya
11:27bilang kalau lu masuk politik
11:29H
11:30jangan nikah sama orang politik
11:32h
11:33Om juga bilang enggak ada orang baik
11:35orang politik itu. Nanti lu masuk
11:38politik orang dagang enggak percaya.
11:39Jadi tidak percaya dengan partai
11:41politik.
11:41Dia bilang gitu dong. Akhirnya saya kan
11:44mau dagang kan pabrik Bapak sudah
11:46meninggal.
11:47Iya anak adik-adik kuliah semua. He.
11:50Enggak jadi masuk deh.
11:51H.
11:52Nah begitu masuk tahun 2003
11:55saya pikir ya Bang Taufik telepon kan
11:57saya sudah bergumur kan sudah tutup
11:59pabrik nih.
12:00Mana yang ini saya mesti datang. Datang
12:03dia bilang gitu ya. Saya akuin saya
12:06memang penakut. Saya pengusaha kok.
12:08Kita penakutnya begitu.
12:10Kita pasti takutlah sama penguasa, sama
12:13aparat.
12:14Lu berani lawan tentara,
12:16lawan polisi. Enggak mungkin gitu loh.
12:18Dia punya senjata, kita enggak punya
12:20senjata kok.
12:21Ini logika kan bisnis bisa tutup.
12:23Tutup.
12:24Terus mau pindah ke mana? Nah, ini kan
12:26kita kan dari kecil kan di ditakutin
12:28begitu kan.
12:28Jadi kenapa PDIP? Karena ada Bang Taufik
12:32telepon almarhum kan saya kenal kan kita
12:34memang dari dulu waktu saya pengusaha
12:35kan bantu PDIP.
12:36Iya.
12:37Termasuk waktu 98
12:40'8
12:40kita enggak berani muncul kanu Trisakti
12:43kan
12:43ya
12:43patunganlah gawang katanya masih bungkus
12:47botol minuman Trisakti
12:48Trisakti kan kita
12:50itu kejadiannya di sekitar slipy situ
12:52tuh
12:52tapi kita enggak berani muncul gitu loh
12:55pengusaha kan. He.
12:56Nah, termasuk kuda tuli juga kita kan
12:58dari ayam goreng pemuda kita suplly kan
13:01logistik.
13:02Logistik udah tahu enggak nih
13:04teman-teman yang partai di situ
13:05he
13:06ngomong gitu kan.
13:07Hm. [tertawa]
13:08Padahal dalam hati saya ini orang dulu
13:12kampanye minta duit sama gua.
13:13Hm.
13:14Pakai sepatu aja enggak jelas warnanya.
13:16[tertawa]
13:17Sekarang pakai sepatu udah ngerti
13:19nyesuain jaket kulit,udah [tertawa]
13:21nyesuain ikat pinggang
13:24duanya udah banyak
13:25bilang seolah-olah lu
13:27begitu jadi puasa baru mau datang
13:30keki aku
13:31pulang kau lapor untuk itu. Enggak jadi
13:35masuk partai lu. Sok tuh semua. Gua
13:37bilang
13:38tawarin Golkar
13:40Bapak saya banyak gak bawa banyak nih.
13:41Iya
13:44dicalonin jadi calon
13:46H.
13:46Diusul dari PAC kecamatan jadi ketua
13:49Golkar nih. Terus biasalah
13:53ini mesti ada uang-uang kopi dong untuk
13:56menggerakkan
13:57h
13:58dukungan kan.
13:59Wah saya juga pikir
14:02enggak cocok saya di politik ni. Hm.
14:04Duit
14:05saya dalam doa saya,
14:06H
14:07saya doa gini sederhana aja Tuhan kalau
14:10memang saya mesti masuk politik, biar
14:12ada partai politik ketuanya telepon
14:15saya.
14:15Hm.
14:17Partai yang apa ajaalah nanti saya akan
14:19pertimbangkan.
14:21Telepon Isak Mero. Bisa enggak ketua?
14:24Drir.
14:25Oh.
14:26P. PB
14:28dia tawarin nih ayah Ri Gerung
14:32termasuk
14:33Partai Indonesia baru kakaknya Pak
14:35Prabowo juga ya yang mamanya Pak Tomi
14:38kan calik juga
14:42ini gabung nih orang-orang pintar nih i
14:44Ibu Mari Pagangis tuh di ormasnya
14:47telepon
14:49PB
14:50saya waktu itu sempat sakit 2 minggu
14:53lucu loh
14:542 minggu sakit ini mistik aja nih
14:56[berdehem]
14:56[tertawa] Sakit, pikiran jelas enggak
14:59demam enggak bisa bangun. Saya
15:01dicari artinya apa?
15:03Bukan stres saya rupanya situasi gini
15:06logistik.
15:07Tapi apa benar mistik
15:08enggak? Maksud saya kok saya bisa kayak
15:10enggak bisa bangun dibawa ke psikiater.
15:12H
15:13h
15:13dicek cek cek cek enggak ada sakit.
15:15H.
15:16Nah, begitu sudah agak sembuh telepon
15:18masuk. Ini saya lagi jalan-jalan ke Mega
15:21Mall.
15:22Iya.
15:22Mau enggak masuk Partai PB? Wah, PIB
15:26partai apa? Perhimpunan Indonesia Baru.
15:29PIB cocok juga ya. Partai Insinyur
15:32Basuki ikut Basuki. [tertawa]
15:35Kok ketua telepon? Udah saya datang.
15:37Dikirimlah ke Belitung
15:39diminta jadi DPR RI. Saya enggak mau.
15:42Saya enggak mau DPR RI.
15:44Kenapa? Saya maunya ke Belitung aja.
15:45Untuk apa?
15:46He.
15:46Saya mau jadi bupati. Saya bilang.
15:48Oh, saya bilang
15:49langsung begitu disampaikan.
15:50Karena enggak mungkin dong.
15:52He.
15:52Ah, itulah ceritanya. Saya masuklah
15:54singkatnya.
15:55Dan saya bilang enggak mungkin jadi
15:56bupati, biar saya mulai jadi DPRD.
15:58Kenapa? Saya yakin rakyat memahami teori
16:00Abraham Lincoln.
16:01Hm.
16:02Dia pengin uji karakter orang ketika ada
16:04kekuasaan. Nah, kekuasaan paling mudah
16:07dan murah diraih adalah DPRD masuk ke
16:09situ.
16:10Nah, habis PIB
16:13saya jadi Sekjen tuh.
16:14Hm. Cepat ya.
16:15Karena drter Saril diangkat jadi one
16:18impress.
16:18Hm.
16:19Saya gagal gubernur on impress. H
16:23Sarir bilang, "Saya aja belum 5 tahun
16:24ini masih jata Dr. Kartini kamu sekjen
16:28saja."
16:29Jadi saya Sekjen terjadi kisru,
16:32dukungmendukung calon.
16:34Hm.
16:35Ada oknum-oknum dalam tuh main tahu
16:37enggak? Untuk dukung yang didukungnya
16:39ditolak tuh Laude DPD di Sulawesi,
16:43negara waktu itu, Pak. Telepon saya,
16:45"Eh, PIB biru di sini kurang ajar tuh
16:47mintain duit." Mana buktinya? Bukti
16:49enggak jadi calon? Saya protes di dalam,
16:51ribut di dalam.
16:53Ribut di dalam. Saya lihat situasi orang
16:55juga punya logika. Betul enggak?
16:58Lu tuh teralistis, hok. Parti kalau
17:00enggak ada duit gimana mau hidup? H.
17:02Jadi DNA-nya partai dari dulu sudah
17:04seperti itu.
17:05Iya. Akhirnya itu dari tahun kalau saya
17:08mau cerita kampanye dari tahun 2003 2004
17:11sudah konyol. Rakyat itu udah enggak
17:13percaya orang. Akhirnya dia bilang wani
17:15piro
17:16sampai hari ini atau sekarang sudah
17:17berubah? sekarang lebih parah saya pikir
17:19[tertawa]
17:20seperti apa hari ini
17:21bisa saya kasih contoh gini ya
17:23tahun 2004 waktu saya ikut pemilu PIB
17:27kan Partai baru nih
17:28iya
17:29satu dusun dia datang sama saya kita
17:31suka sama kamu nih H kita kan pilih
17:34partai kamu tapi partai yang warnai itu
17:37kasih R5 juta nih H
17:38nah
17:39sama kamu R5 juta aja
17:41ini kepala desa atau apa
17:42dusun? Kepala dusun.
17:43Iya.
17:44Kamu R juta saja.
17:45He.
17:46Saya bilang, "Enggak bisa. Saya yakin
17:50mesti dididik rakyat ini untuk paham.
17:52Enggak bisa." Saya bilang, "Wah, kalau
17:54gitu kami enggak pilih partai kamu.
17:57Kau gini gini aja saya untung R juta."
17:59Maksudnya gimana? Dia bingung.
18:02Ambil R15 jutanya lalu 5 juta saya
18:04enggak kasih kamu. [berdehem] Kan saya
18:05hemat R juta dapat dong. Dia kaget. Heh.
18:10Kalau gitu kami enggak pilih partai
18:13ya sudah enggak usah pilih.
18:14Gua tetap anak orang kaya di kampung
18:16ini. Aku bilang gitu.
18:17Tahu enggak hasilnya apa?
18:19Apa?
18:20Saksi saya pun di dusun itu enggak pilih
18:22saya.
18:22Oh, saksi sendiri tidak milik yang
18:24dibayar oleh Pak A tidak milih.
18:26Padahal kita punya teori apa?
18:28Minimal saksi masih pilih kita dong.
18:30Kita baik dong.
18:31Ini suara enggak ada
18:31marah.
18:32Rumah ibadah juga sama. Ini atap partai
18:35warna ini. Ini semen partai ini. Lu mau
18:37kasih apa?
18:39Kalau sudah saya kasih gimana? Kami akan
18:41atur bagi suaranya. Baginya gimana? Ya
18:44kami bisa atur.
18:45Hari ini masih begitu.
18:46Hari ini saya kira lebih parah, Pak. Ya
18:48le parah
18:49kan sudah banyak yang ngadu-ngadu kan
18:50Pak
18:51di di MA atau di mana, Pak? Katanya jual
18:54beli suara
18:54ada teman curi suara semua. Itu kan
18:56enggak mungkin orang mau menggugat kalau
18:58tidak ada
18:59sampai di lembaga-lembaga istimewa itu
19:01pun terjadi perdagangan suara. Jadi saya
19:03kira ini
19:04ya itulah yang saya bayangin 20 tahun
19:07akan datang dulu orang yang tadi enggak
19:09bisa pakai sepatu yang bagus
19:11kalau dulu mungkin oknum-oknum politik
19:14ini hanya minta komisi pengadaan barang
19:17Pak
19:17ya
19:18sekarang dia sudah punya perusahaan dia
19:21kerjain sendiri
19:22oknum ini punya perusahaan I Bapak
19:24apalagi kalau mau fair Pak ya mungkin
19:26banyak sekali usaha orang izin tambang
19:29izin kebun orang
19:30yang bermasalah tiba-tiba jatuh ke
19:32tangan oknum yang
19:34mengurus.
19:34Iya.
19:36Anda punya masalah, Anda mau kasih saya
19:38atau enggak?
19:38I
19:39saya bisa ngancam Anda loh.
19:40Ya.
19:41Nah, makanya saya bilang kalau kayak
19:42gitu, Pak. Ya, bagaimana orang baru yang
19:44punya
19:44orang punya hotel aja bisa izinnya
19:46enggak diperpanjang, namanya tidak bisa
19:48diinikan. Totnya sudah ada beralih ke ee
19:50orang lain, perusahaannya tidak
19:52diperpanjang. Banyak, Pak. Kita dengar
19:54peristiwa-pristwa itu, Pak.
19:56Terus mau lapor sama siapa?
19:57Nah, itu yang Bapak saya bilang. Kenapa
20:00kamu di politik? kamu bisa membantu
20:02orang miskin. The pool and the needy.
20:05Itu makanya motifnya Anda masuk partai
20:06hari ini.
20:07Iya. Kalau itu kan the needy kan, Pak.
20:08I
20:08orang kaya tidak miskin tapi dia
20:10membutuhkan pertolongan dari penguasa.
20:13Pak Hok kita ngopi dulu
20:14Pak
20:15kita ngopi dulu ya. Minta kopi hitam
20:17atau kopi inspirasi
20:18hitam aja kali ya atau Americano yang
20:20encer aja lah. Ah oke ya. Baik. Lalu
20:23kemudian sekarang Pak Ahuk berkiprah
20:25sangat besar hari ini. Tapi kita juga
20:28menyaksikan berbagai kejadian.
20:31terutama adalah kasus jaksa Jampitsus,
20:34mantan Jampitsus kemarin. Dan Pak Haok
20:36juga pernah menjadi ahli di pengadilan
20:38atau saksiah, saksi,
20:40saksi di pengadilan begitu ya. Apa yang
20:41Pak Haok lihat dari kejaksaan hari ini?
20:44Apa sih yang harus kita benah?
20:46Saya enggak tahu ya, Pak ya. Ini kan
20:47zaman AI ya, Pak ya.
20:49Zaman AI.
20:50Tapi yang saya alami sesuatu yang saya
20:52pikir agak lucu juga gitu, Pak. AI ini
20:56kadang-kadang bisa ngarang tahu enggak?
20:57H. Saya belum bersaksi saja. Saya tanya,
21:00tanya sama EA.
21:01Saya tanya nih, saya foto nih ruang
21:03pengadilan. Saya foto nih.
21:05Saya foto. Eh, kamu tahu tahu enggak
21:09hari ini ada
21:12atau pengadilan tentang tindak pidana
21:14korupsi dari Pertamina nih.
21:16Iya.
21:17Apa yang kamu tahu? Terus AI jawab nih,
21:20"Hari ini Basuki Jaya Purnama akan jadi
21:23saksi
21:24yang memberatkan, kan?"
21:26Iya.
21:27Wah, terus saya tanya lagi, apa isi
21:30kesaksiannya?
21:31H
21:32dia keluarin 1 2 3 4.
21:34Nah,
21:34saya aja belum bersaksi kok.
21:36Tapi dia sudah bisa
21:37terus saya langsung
21:39saya langsung balas nih.
21:40Eh, ngacau lu. Gua aja belum bersaksi
21:43kok lu udah keluarin poin-poin gua.
21:47Heh.
21:48Tahu dijawab tahu enggak
21:49apa?
21:49Oh, mungkin kamu lebih tahu karena ada
21:51di lokasi
21:53saya salah katanya. [tertawa]
21:56Tapi dia sudah memberikan jawaban.
21:57Iya.
21:58Prediksi dia berarti.
21:59Iya. Enggak enggak tahu nih.
22:00H.
22:00Nah, saya cuma tebak-tebak aja. Apa di
22:02zaman modern seperti ini kalau ada orang
22:06jahat mengisi dunia maya dengan berita
22:09duluan,
22:10informasi
22:11itu kan AI akan tangkap.
22:12Iya. Ditangkap. Ditangkap.
22:14Berarti jangan-jangan ada orang yang
22:16jahat
22:17framing duluan.
22:18Mem-framing bangun opini.
22:20Ya,
22:21ini yang kita tidak paham kan. Iya,
22:24memfraining opini kan.
22:26I
22:26kita enggak tahu
22:27he
22:28kenapa bisa terjadi seperti itu.
22:30Makanya waktu saya begitu keluar, saya
22:32diminta oleh
22:35wartawan
22:36ya
22:36tanya nih.
22:37Oh, saya enggak berani jawab. Kalau saya
22:39jawab itu kan bisa saya dipidana.
22:42Terus saya bilang, "Eh, kan kesaksian
22:44saya kan terbuka, ada rekaman semua.
22:46Anda
22:47mengacu ke situ aja.
22:48Mengacu situ saja. Enggak usah tanya
22:50saya lagi di luar sidang. Kalau di dalam
22:52sidang kan saya punya hak imunitas.
22:53Anda sebagai saksi
22:54saksinya jaksa.
22:56Saksinya jaksa yang memberatkan memang
22:58harusnya bisa memberatkan.
22:59Tapi kan Anda tidak memberatkan.
23:00Karena kan saya melihat fakta dulu kan
23:02tuduhannya kan oplos
23:04tapi dalam sidang kan enggak ada oplos.
23:05Ada enggak ada oplos ya.
23:07Iya kan
23:07ya drama di depan dengan
23:09Iya dong.
23:10Fakta berbeda.
23:11Nah terus dugaan kerugian kan bukan dari
23:14BPK BPKP atau apa kan dugaan kan
23:17banyakan
23:18kasus tima juga begitu kan. Dugaan kan
23:20dugaan. He.
23:21Nah, jadi jaksa kan. Nah, saya enggak
23:23bisa menuduh tapi ini terjadi di negeri
23:26ini gitu. Dan Anda melihat orang-orang
23:28itu sebelumnya sudah tahu sebagai komut.
23:30Anda tahu orang-orang yang riva si
23:32makanya kan kita komut kan di atas ya
23:34dan sebagainya.
23:35Dia juga punya komut ya.
23:36Iya. Iya. Ini subolding.
23:37Dia punya subolding, punya komut
23:41kita kalau enggak ada wis blower lapor,
23:44kalau enggak ada temuan BPK ada BPKP.
23:46Enggak tahu kita
23:47enggak tahu
23:48karena operasional kan dipegang diut.
23:50Iya. Iya, betul. di root yang langsung
23:51kan
23:52jangankan itu VP aja kita enggak tahu di
23:54bawah
23:54betul mari kita cuma membuat
23:56memonitoring tiap bulan RK B ya dong
24:01kita monitoring rencana kerja anggaran
24:04biayanya kan
24:05itu yang kita monitoring kalau rugi
24:07kenapa kalau kalau operasional di bawah
24:09kan kita enggak bisa
24:10i dan itu pun tergantung secara audis ya
24:12fungsi dekom itu enggak bisa mencampurin
24:15operasional h betul
24:17saya yang tiap hampir tiap hari datang
24:19ke kantor Periksa semua udah diledekin
24:23komut rasa dirut ya [tertawa]
24:25tetap tidak bisa menjangkau sampai ke
24:28bawah
24:28enggak boleh saya juga kesal saya bilang
24:29eh gua dirut nyaruh komut bukan komut
24:31[tertawa]
24:32rasa dirut saya bilang tungguin kan nah
24:35itu makanya saya bilang situasi seperti
24:38ini kenapa saya sudah usul
24:41hm
24:42naik presiden dong sama menteri kenapa
24:45enggak jalankan dua macam saja subsidi
24:47dengan digital h
24:49iya kan supaya enggak ada hilang barang.
24:51Iya. Hm.
24:52Terus kenapa kita enggak bangun sendiri?
24:54Supaya orang taruh
24:55tangki minyak di kita.
24:57Iya.
24:58Sewa bot. Lalu Anda stok minyak
25:01dan kita jamin beli dengan e-catalog.
25:03Kayak saya lakukan di Jakarta itu loh.
25:05Kenapa mesti tender tiap 2 3 bulan sih?
25:08Repot sekali.
25:09Ini kan berarti kan memang ada permainan
25:11yang dipelihara semua tahu. Saya enggak
25:13saya sudah [berdehem] bilang saya enggak
25:14duduk ada permainan. Saya bilang
25:17model sistem yang Anda lakukan ini itu
25:19fraudnya tinggi
25:20karena [mendengus] setiap saat harus
25:21lelang lelang lelang lelang. Ada yang
25:23berkepingan
25:23itu. Terus kenapa mesti sewa tanggi
25:25orang untuk mix? Kalau Anda langsung
25:27beli Perta
25:29apa? Pertam turbo. Enggak usah ada
25:31Pertait.
25:32H
25:33tapi rakyat mahal ya. Kasih subsidi
25:35dengan My Pertamina dong. Anda beli
25:37minyak Rp20.000, saya mau subsidi
25:39Rp10.000 saya balikin duitnya ke HP anda
25:42toh.
25:42Iya. Begitu sebulan Anda enggak ngisi
25:46minyak pakai uang ini,
25:47hangus vouchernya. H
25:50negara kan langsung dapat duit balik
25:52daripada minyak digelontol kan
25:54kayak gas RPG mungkin 92% tuh yang 3
25:57kilo orang curi.
25:58Hm.
25:59Coba kalau semua gas enggak ada yang
26:02subsidi di lapangan
26:04swasta juga akan main kan.
26:05Iya. Sekarang kalau cuma di Pertamina
26:07oknumnya SPB curi
26:09dia isi
26:10misalnya melonnya cuma 2,7 kilo.
26:14H
26:14rakyat bisa protes enggak? Yang rugi
26:17siapa? 10% semua isi gas enggak enggak
26:19penuh.
26:20Hm.
26:21Coba kalau ada swasta kalau Pertamina
26:23ngisi enggak penuh ya jamin rakyat
26:25enggak mau beli gasnya beli langsung
26:27sama swasta. H
26:29mahal
26:29ya? Subsidi dong pakai
26:31Iya. Iya
26:32digital kan.
26:33Masa sebulan enggak enggak tukar. Hm.
26:36Satu tabung kau tukar berlaku, enggak
26:39tukar sebulan hangus.
26:40Ini halnya sebenarnya mudah dan logik.
26:42Sebetulnya
26:43saya rapat ada menteri, ada Menko, saya
26:45ngomongin ini depan presiden
26:47tetap enggak jalan.
26:49Makanya saya bilang, "Saya mau jadi diut
26:50dulu. Gua beresin nih semua nih. Gua
26:52akan bikin nih semua nih.
26:54Ditahan-tahan enggak mau jadi Dirut.
26:56Pas aku sudah enggak mau jadi Dirut,
26:58disuruh jadi Dirut. Tapi masih beda ikut
27:00politik." Ah, enggak deh. Aku berhenti
27:02dah. Jadi di situ berhenti
27:04ada story di balik story minum.
27:06Iya silakan silakan Pak. H
27:09ya sudah berhenti. Jadi ada story di
27:11balik story. Jadi Anda di ee boleh jadi
27:14diut dikasih syarat pindah partai
27:16politik
27:16ya pindah dukunganlah dukung Ganjar lah.
27:20Oh
27:21karena dianggap Ganjar pasti kalah.
27:22Kenapa enggak berorientasi pada
27:23kekuasaan? Kan kekuasaan kuat. Makanya
27:26saya pikir itu soal [tertawa] nurani ya,
27:29values, nilai-nilai.
27:30Saya istilahnya tuh kita waktu mati
27:33istilahnya ya gimana J the art of dying
27:36well. L art of dying well. [tertawa]
27:38Dying itu harus yang well ya. Dying
27:40harus well.
27:41Kita kan
27:41well and fun.
27:42Kalau nurani kita itu kan semua orang
27:44pasti mati toh.
27:45Pasti mati. Tapi
27:46tapi kalau kita takut mati meninggalkan
27:48nurani hakimin kita kira itu orang
27:50paling sengsara hidup ini. Iya dong.
27:52Hidup aja sengsara. Ya, jadi orang
27:54karena menjalankan sesuatu yang tidak
27:56sesuai dengan keinginan kita, dengan
27:57rasa kita.
27:58Itu saya bilang duit itu relatif lah ya.
28:02Kita punya teman banyak, Bapak saya dulu
28:04meninggal enggak ninggalkan uang banyak.
28:06Bapak saya selalu bilang begini, dia mau
28:09meninggal saya tanya kan, "Bapak enggak
28:11khawatir
28:12kami nanti susah."
28:13Bapak saya jawabnya santai aja.
28:15Saya enggak pernah khawatir anak saya
28:16susah hidup.
28:17Hm. Kalau anak saya enggak sekolah
28:19tinggi saja, banyak orang mau bekerjakan
28:22anak saya buat nungguin gudang dia. Kata
28:24Bapak saya, [tertawa]
28:25kenapa, Pak? Karena anak saya kan jujur
28:27mencatat keluar masuk barang.
28:30Ya, itu usaha bisa maju itu.
28:31Terus rumah gimana? Bapak saya bilang,
28:33"Banyak orang kaya tahu enggak?
28:35Punya rumah gede pengin cari yang orang
28:37jujur nungguin katanya.
28:39Lu ngapain?" Betul itu
28:40pusing.
28:41Betul itu yang dic
28:42lu kalau jujur kamu bisa tungguin rumah
28:44pakaian. Orang kaya bajunya banyak lu
28:46pasti kebagian baju yang dia enggak mau.
28:49Makanan kata bapak saya orang kaya makan
28:51tuh berlimpah.
28:52Lu kebahagiaan dia kenapa takut? Dia
28:55bilang
28:55itu Bapak saya punya omong.
28:56I sekarang tetap di partai politik dan
28:59Anda tidak beralih. [berdehem]
29:00Anda tetap di PDIP. Anda berada di sana
29:03ya. Lalu yang menarik adalah kesibukan
29:05hari ini Pak Hauk. Pak Hauk mulai
29:07ngikutin saya, mulai mengendorse juga
29:09atau menjadi bintang iklan?
29:11Bintang iklan yang penting
29:12karena nolong teman atau karena
29:14ada yang nolong teman, ada yang karena
29:16saya suka barangnya.
29:17Oh.
29:18Plus bayarannya bagus, Pak. [tertawa]
29:22Bayarannya bagus.
29:23Jadi ini proof bahwa market itu memang
29:25suka ya. Market suka. Jadi [berdehem]
29:28menjadi politisi it's ok. menjadi toko
29:30publik. Oke. Tapi at the end of the day
29:33market yang menilai kita gitu ya.
29:35Ternyata gini, lucu juga. Saya kan bantu
29:38pemasaran baju FD ya.
29:40Iya.
29:41E jadi kita kasih ada join pemasaran
29:44lah.
29:44Iklan juga.
29:46Foto nih. Oh 50 baju.
29:48I
29:48foto nih Pak. [tertawa]
29:50Wah coba Pak gayanya kayak gini kan
29:52dikasih lihat kan gayanya kayak gini.
29:54Iya iya dikasih ininya dulu skenarionya.
29:57Waduh, benar-benar ajaibnya nih.
30:00Enggak ada ulang sampai tukang foto
30:02bilang gini, "Bapak ada bakat."
30:04[tertawa]
30:05Jadi satu hari hanya berapa jam selesai?
30:07Selesai, Pak.
30:0750 baju itu.
30:08Iya. Saya sampai pikir ternyata saya ada
30:10bakat foto model. [tertawa]
30:12Pertanyaan berikutnya sudah didatangi
30:15orang pajak?
30:15Oh, kan pajak saya semua saya masuk PT,
30:17Pak. Saya bayar lebih, Pak.
30:18Tapi tapi kan sekarang walaupun sudah
30:20lebih pajak tetap pengin dapat lebih.
30:22Enggak di
30:22saya kena surat pajak waktu saya baru
30:24keluar, Pak. Baru keluar dari BRMP itu
30:26tahu T kenapa, Pak?
30:27Gara-gara jual buku online revenue 22
30:30miliar.
30:31Oh, buku online ada 22 miliar.
30:33Jam tahanan dan masuk ke PT Dok.
30:35Iya
30:35kan kita bikin PT nih.
30:37Dan dari PT dia dapat manajemen 20%
30:39kirim 80% ke saya. H
30:41pasti di dalam tahanan kan banyak
30:43keperluan kan.
30:43Banyak keperluan. Hm.
30:45Dia pajak final 5%.
30:47Hm.
30:48Keluar saya masuk Pertamina kerja, Mas
30:50Swasta kerja
30:51kurang bayar.
30:52Oh. Oh,
30:53tahun pertama langsung ditagih R00 juta
30:56tahun pertama. Itu
30:57kaget saya.
30:58Ini bukti
30:59nombok.
30:59Wah, saya udahlah daripada ribut sama
31:01orang pajak memang benar bayar.
31:03Cuma kan kasihan banyak orang kena bayar
31:05pajak itu kadang enggak punya
31:06pengetahuan.
31:07Iya
31:09harusnya kan ini harusnya lebih awal
31:10dikasih tahu ya
31:12sudah bayar kita
31:12harusnya tidak boleh menakutkan pajak
31:14itu.
31:14Duit ya bayar.
31:16Tahun kedua pagi lagi nih.
31:18Hm.
31:20Saya kerja sama orang dapat hiba mobil.
31:23H.
31:24Wah, kena mobil 2 miliar lebih kan kena
31:28kena lagi terus kurang pokoknya akhirnya
31:31kena 4 miliar lebih.
31:33Uh,
31:33suruh cicil.
31:35Makanya saya bilang di Pertamina gua
31:37boleh galak di sini ya.
31:38Ternyata gaji gua bonus gua hilang bayar
31:40panjang.
31:40Habis semua. Habis semua.
31:42I kita kan kok bisa sampai hibah bisa
31:43sampai 4 miliar. Berarti mobilnya
31:45keren-keren nih
31:46mobil kalau dikasih S Class kan 2,7 M.
31:49Ini dari Pertamina mobil-mobil dari
31:51bukan
31:51swasta Pak
31:52swasta ngasih Pertamina.
31:53Jadi hati-hati juga kita dapat bayaran
31:55ya.
31:55He kan saya kerja di swasta Pak
31:57dulu kan ada berapa orang lu kerja sama
31:59gua gua kasih lu mobil ini kasih
32:01dulu aku enggak ngerti kan tahu itu
32:03mobil PT Pak.
32:04Iya ngapain dikasih
32:05PT juga kena juga Pak kalau kelas S
32:07kelas kenapa Pak karena bukan
32:08operasional
32:10oh
32:10dianggap mendapat benefit.
32:12Oh benefit kena. Nah, [berdehem] ya
32:13sekarang orang beruntung ada AI. Kalau
32:15orang pajak kurang sosialisasi atau Anda
32:17enggak tahu, tanya AI aja deh.
32:19Tapi yang paling gawat kan kalau kita
32:21punya penghasilan dagang sepi nih, Pak.
32:23Iya.
32:24Pas-pasan.
32:25Iya.
32:26Orang pajak sudah menargetkan pajak
32:28tahun lalu tahun ini lebih mahal
32:30kan? Tahun ini lebih mahal dong. Jadi
32:32dia punya asumsi Bapak itu harus bayar
32:35pajak lebih banyak daripada tahun lalu
32:36setiap tahun. Setiap tahun naik.
32:38Padahal ini ekonomi tambah lesu kan.
32:39Betul.
32:40biaya pegawai itu susah tiba-tiba apik
32:44kalau kita kerja nih profesional banyak
32:46tempat Pak
32:47kita kan juga banyak bantuk sosial gitu
32:49Pak ya sosial kita kan bukan setelah
32:51pajak loh Pak
32:51I
32:52eh bukan sebelum pajak setelah pajak Pak
32:54h
32:55beda kalau zakat kali Pak ya
32:56iya
32:57yang Kristen kasih gereja 10% kan
32:59h
33:00sesudah pajak Pak bukan ngurangin pajak
33:04kita bayar kasih perpuluhan bantu orang
33:07miskin kasih-kasih semua
33:10eh kurang bayar kan kalau di perusahaan
33:12bayar kan yang yang final dong
33:14iya
33:14kita sudah di atas R00 juta kan kena 30%
33:17punya Pak Kena 35%
33:18progresif progresif
33:20kurang bayar kalau kita duit kita
33:22pas-pasan gimana?
33:23Wah itu setengah mati tuh
33:25mesti jual aset
33:25mesti jual aset
33:26saya jual mobil Pak
33:27untuk bayar pajak itu.
33:28Iya [berdehem] gara-gara ini pajak mesti
33:31bayar nih gimana nih 1,5 M waktu itu ada
33:33kayak teks amnasti saya itu paling suka
33:35Rubicon Pak. Oh, keren keren dua pintu
33:39kan. Kebetulan waktu pameran teman saya
33:41tuh iseng tahu kan?
33:42Tapi kan itu sakit duduknya itu.
33:44Kalau kau bawa sendiri ya
33:47buat duduk mah enggak enak lah.
33:49Tadi kan mobil impian dari kuliah kan
33:51dari iya betul.
33:52Saya dari kecil sudah biasa naik jeep
33:54wis bapak saya land cruiser mahal rubik
33:57itu.
33:58Iya. Jadi teman saya pameran dia main DP
34:00aja. Hm.
34:01Ini mobil kesukaan Ahok nih. Jangan
34:03dibeli orang nih.
34:04H.
34:05Aku lagi di luar negeri. Hei, gua dpin.
34:08He.
34:08Dari mana bayarnya? Nanti dong. Lu kan
34:11jual buku dapat duit banyak. [tertawa]
34:15E
34:15beli kan.
34:16I
34:16bayar kan.
34:17H
34:18nama pribadi dong. Mobil yang lama juga
34:21masih nomor pribadi kan.
34:22Iya.
34:22Progresif sudah kena.
34:24H.
34:25Tambah lagi S class kena R juta. Waduh.
34:27Enggak apa-apalah pajak lah. Peran-peran
34:30lah
34:30begitu harus bayar banyak itu 1,3 1,4 ya
34:35k stor ya. Duit dari mana?
34:39Satu-satu yang dilihat ya Rubicon yang
34:40warna oranya lah.
34:42H
34:42yang dua pintu
34:43dijual itu
34:44yang jarang pakai kan waktu itu lagi
34:46susah mobil.
34:46Ion showroom. Mons showroom juga dia
34:49memang mau bantu ya
34:50dia juga suka. Oke,
34:52ya udah gua bayar deh 1,4
34:55itu buat bayar pajak
34:56langsung gua ambil bayar pajak 1,2 atau
34:581,6 ya saya lupa 1,6 at 1,4 po inti
35:01dapat duit itu gua bayar banyak nih. So
35:04saya bilang, "Bapak pakai dulu kali
35:05enggak gua udah jual." Gua bilang enggak
35:07lama keluar berita
35:10anaknya oknum pajak naik Rubikon.
35:13Rubikon. Iya. Yang nginjak-nginjak itu
35:17dia naik Rubikon. Gua jual rugi kon
35:20bayar pajak. Alah mak kau bilang jadi
35:23kita pantas marah sudah pantas marah
35:25kita gitu orang pajak juga itu ya.
35:27Iya pantas marah kan.
35:28Iya iya iya.
35:31Kehidupan kayak gitulah [tertawa] hari
35:32ini kan Pak Huk tadi katakan ekonomi
35:34susah.
35:35Kita kan merasakan hari ini
35:37apa yang bisa kita katakan pada
35:39teman-teman di pajak. Memang kita perlu
35:40bayar pajak ya. Kita mau bayar pajak.
35:42Orang bijak bayar pajak.
35:44Iya oke kita bayar pajak tapi kan kita
35:46enggak mau ditakut-takutin dong Pak
35:47Ahok. Apa yang Anda lihat orang di
35:50mana-mana ngomong pajak di daerah juga
35:52begitu.
35:52Saya kalau mau ngomong takut-takutin,
35:54Pak ya. Saya enggak tahu, Pak ya.
35:56Pajak gimana ya?
35:58Mungkin orang malas nakut-nakutin saya
35:59juga kali mungkin, Pak.
36:02Tapi saya punya pengalaman buruk soal
36:04pajak, Pak.
36:05Apa itu?
36:06Om saya itu meninggal kena stroke
36:09gara-gara ditekan pajak.
36:10Tahun berapa?
36:11Ya, sebelum orde baru.
36:13Oh, masih masih official assessment
36:16dulu.
36:16Sama, Pak. Kenapa? Dia kerja timah tima
36:20dapat uang.
36:21Kan prinsip orang pajak enggak mau
36:23pusing.
36:24Pokoknya kalau target tahun depan ya
36:26naikin aja 10 20% pakai Excel.
36:28Iya. I
36:29berarti target wajib pajak sudah
36:30diperkirakan dong. Tapi tahun depan
36:33belum tentu dia dapat timba yang sama
36:35kan.
36:35Betul. Iya.
36:36Nah dipaksa bayar ditambah lagi TMP.
36:38Hm.
36:39Bunga bank pinjaman sampai 60%.
36:42Oh
36:42kan TMP tuh orang kerja tambang 98 itu.
36:45Iya beli alat berat. Kan lu enggak
36:48ngerti leasing, Pak. Jadi ya pinjam duit
36:50beli.
36:51Begitu bunganya naik enggak sanggup
36:54bayar kerja.
36:55Bunga sampai 70% saat itu zaman kristal.
36:57Dan bank enggak mau tahu bunga berbunga
36:5950%.
37:00Iya. Yang untung kita yang punya uang
37:01taruh di bank.
37:02I bank enggak mau tahu bagaimana orang
37:04lagi usaha.
37:05Iya minjam itu repot
37:06dikejar pajak, dikejar bank.
37:08I
37:08macet
37:09macet.
37:10Dan kalau leasing kan beda flat dia
37:12punya bunga gitu loh.
37:13Stres stroke stroke
37:15sampai meninggal sakit.
37:17dikejarin datang. Nah, saya juga
37:19dikejarin waktu masih muda kerja pajak
37:22alat berat PKB
37:24kan dulu ada SKB 3 menteri.
37:26Pajak yang dipakai di lapangan tidak
37:29dikenakan balik nama.
37:30Itu oknum bisa datang nawarin pakai
37:33balik nama
37:34alat berat yang murah.
37:36H.
37:36Saya enggak mau ajak ribut
37:38datang ke rumah saya.
37:39Saya dulu saya sih lawan, Pak.
37:41Hm. H
37:42yang mana alat beratnya? Lu gila apa
37:44taruh di rumah? Gua bilang kita kan
37:46sita. H
37:47lu sita aja masih di bank. Gua bilang
37:49punya bank. H
37:51wah terus datang. Jangan sombong ya. Aku
37:53juga bilang lu juga jangan sombong. Lu
37:54mau mati di kampung gua. Gua bilang
37:56jadi orang tuh datang dia kan ada pajak
37:58yang tingkat atas tingkat provinsiu.
38:01Saya gituin juga Pak.
38:03Saya waktu itu snew aja sama
38:05pegawai-pegawai gua sudah siapin
38:06pentungan juga. Lu kalau nekat kita juga
38:08nekat. Udah sampai segitu dulu gitu Pak.
38:10Saya, Pak, punya pengalaman
38:12hari ini.
38:12Hari ini kan saya punya uang lebih saya
38:14bayar pajak sudah, Pak. Nah, saya mulai
38:15sudah lebih tertib punya perusahaan.
38:17Saya mulai save, Pak.
38:18Jadi sekarang di pocket kayak di BCA itu
38:21saya buka pocket rupiah, Pak.
38:23Hm.
38:23Begitu saya terima duit, saya sisikan
38:26taruh di poket rupiah,
38:28saya kasih nama buat pajak.
38:30Hm.
38:31Kalau sampai hitungannya enggak sebanyak
38:32gitu,
38:33ya saya buat jalan-jalan atau buat
38:36sumbanganlah.
38:36Ada bonus lag
38:37kita taruh, Pak. Takutnya kita enggak
38:39sengaja, ayo pakai pakai kartu penting
38:40sekali
38:41kita pakai kartu kredit, Pak. Ya, pakai
38:43pakai bayar.
38:44Jadi kita mau enggak mau sekarang taruh
38:45di poket.
38:46Iya.
38:46Ya, begitu terima uang saya mulai
38:48pecah-pecah nih. Keperluan ini keperluan
38:50ini.
38:51Tapi kan ini untuk seorang Ahok yang
38:54mempunyai pendapatan baik ya artinya ada
38:57punya pendapatan. Dalam situasi ekonomi
38:59sekarang kan tidak semua orang
39:00yang paling kasihan tuh orang yang kab
39:02termasuk PHK, Pak. Berapa teman saya,
39:05Pak?
39:05Iya. Begitu PHK asuransi kesehatan yang
39:08paling ngeri, Pak.
39:08He.
39:09Saya begitu berhenti umur kayak kita,
39:11asuransi kesehatan kan mahal, Pak.
39:13Iya, betul. Betul.
39:14Bukan hanya asuransi.
39:15Bayangin orang yang sudah bayar PPJS
39:18mandiri
39:19tiba-tiba enggak bisa bayar.
39:21Iya.
39:21Sakit. Harusnya kan Undang-Undang PPJS
39:24saya yang bikin, Pak. Itu, Pak. Ikut
39:25bikin.
39:25Ikut bikin undang-undang itu
39:26di tahun 2010 keluarnya kan saya kan
39:29Kaukus Kesehatan DPR. Saya balik, Pak.
39:31Di situ ada pasal yang mengatur ketika
39:34rakyat tidak mampu membayar,
39:36negara pakai APBN, APBT pakai
39:40supaya jangan sampai ada orang yang
39:42tidak punya asuransi kesehatan, bisa
39:44dapat layanan kesehatan.
39:45Terus saya juga protes BPJS Anda BPJS
39:48pegang nasional.
39:49Iya,
39:50orang swasta aja saya bisa berobat ke
39:52Singapura, ke Malaysia kok. Kok Anda
39:56memaksa orang secara teritorial? Orang
39:59yang tinggal di Jakarta Selatan
40:03mungkin lebih dekat ke puskesmas rumah
40:05sakit di Tangsel daripada datang ke
40:08Ragunan.
40:10Tapi Anda mengatakan enggak bisa. Anda
40:12KTP harus ke situ. Terus anak kita kalau
40:15kerja di Papua, kerja di Kalimantan atau
40:17kuliah di Jogja, di Bandung,
40:20masa sakit dia enggak boleh.
40:21Kan administrasi Anda tinggal atur dong.
40:23H
40:24tinggaltinggal atur. Saya bilang, "Oke,
40:26Anda tinggal lapor bahwa Anda akan
40:29pindah ke wilayah berobatnya di sini
40:32lebih dekat."
40:33Kenapa enggak boleh?
40:34Karena kan nasional P BPJS.
40:36Iya.
40:36Nah, ini akan menolong orang. Bayangin
40:38orang sudah enggak ada duit, yang punya
40:40BPJS aja belum tentu bisa berobat, belum
40:42lagi ngantri rumah sakit gitu penuh.
40:45Swasta sementara banyak alatnya
40:48nganggur.
40:49Iya. Dokter yang di RSCM di RS atau di
40:52Tarakan sore suka praktik juga
40:54kadang-kadang di rumah sakit swasta.
40:56Iya.
40:57Nah, tapi kalau RSCM kan pendidikan
40:59bayar codingnya mahal.
41:01Teaching hospital.
41:02Yang swasta dibilang kelas B.
41:04He.
41:05Ada yang kelas C.
41:06Ada kelas C.
41:06Padahal alat rumah sakitnya nganggur.
41:09Harusnya berdasarkan kompetensi dong.
41:11Hm.
41:11Dokter yang sama, alat yang sama. Kenapa
41:15enggak dia ngobatin orang daripada
41:17ngantri mati mau kanker? Mau
41:19h
41:20keimo.
41:21Hm.
41:21Terlambat, operasi terlambat orang mati.
41:24He.
41:24Sementara peradaratan swasta banyak yang
41:26nganggur.
41:26He.
41:27Kenapa swasta enggak mau terima? BPJS
41:28mau bayarnya B.
41:30Hmm.
41:31Enggak sesuai dong.
41:32Coba kalau dibayar kayak RSTM.
41:34He.
41:35Mau enggak swasta? Mau.
41:37Mungkin RSTM harapan kita enggak sepenuh
41:40sekarang.
41:40Hm.
41:41Buat apa maksa pasien nunggu
41:44untuk saya obatin
41:45tapi dia mati?
41:46Kenapa enggak manfaatkan swasta? negara
41:48harus keluar uang juga.
41:49Iya dong. Itu maksud saya BPJ itu waktu
41:51kami merancang itu
41:53saya berpikirannya seperti itu.
41:55Iya. Iya. Oke. Kita kaitkan ke pajak ini
41:57ya. Pajak di mana orang-orang sekarang
42:00ini banyak menghadapi kesulitan.
42:02Bagaimana sebaiknya negara membantu ini
42:05agar pelaku usaha juga bisa hidup? Hari
42:06ini
42:07ada omongan kuno ya.
42:09Iya.
42:10Sebetulnya pajak itu dipungut dari
42:14rakyat sendiri atau dipungut dari orang
42:16asal? [tertawa] rakyat sendirilah
42:18mayoritas harusnya
42:19harusnya kan orang asing dong kalau buat
42:21negara dong
42:22iya ya kalau mereka berusaha di sini
42:25iya dong maksudnya kan gitu dong makanya
42:26di situ kita mesti menarik investor
42:28masuk
42:30terus dari apa bayar pajak kalau orang
42:31gaji pas-pasan katanya pasal 33 seluruh
42:36tanah air ini milik negara toh
42:38h
42:39masa banyak orang miskin di tempatnya
42:42tinggal bawahnya batu bara minyak
42:45coba kita lihat di kay mantan Orang
42:46rumah jelek.
42:47Coba kita lihat tambang.
42:49Coba lihat di Dumai, di Duri, di Riau.
42:52Pipa minyak lewat rumahnya
42:54mau ambruk semua.
42:55Iya. Kayu saja rumahnya.
42:57Kenapa enggak sistem diubah
42:59kayak migas?
43:00Coba kalau dirubah setiap batu bara yang
43:03diangkut misalnya 1000 ton
43:065 150 sampai 200 ton itu punya negara di
43:09luar royalti.
43:10Itu dipertuntukan untuk rakyat.
43:12H.
43:13Kalau semua seperti ini, negara ini kaya
43:17raya.
43:19Iya kan? Tahu enggak pengusaha kasih 10
43:2120%?
43:22Dan kalau sudah begitu rakyat punya
43:23keinginan untuk bayar pajak pasti karena
43:25mereka dapat manfaatnya.
43:27Orang mau bayar pajak. Saya di Jakarta
43:28dulu kenapa orang mau bayar relasi mau
43:30sumbang, Pak?
43:31Saya sampai satuan ketiga saya buka loh,
43:33Pak. Hm.
43:34Saya saya mau tanya, Bapak tahu enggak
43:36Kementerian AB CD itu atau lembaga atau
43:39instansi ABCD he
43:42beli air kemasan dibuka enggak di
43:44website dia?
43:47Enggak.
43:49Tahu enggak rakyat kepak daerah jalan ke
43:51luar negeri terus habisin duit berapa ke
43:53luar negeri
43:54dibuka enggak di website-nya anggaran?
43:56Tidak terlihat di situ.
43:57Waktu saya jadi Gubernur Jakarta, Pak,
43:59sampai satuan ketiga saya buka, Pak.
44:01Hm. itu transparansi.
44:03Jadi Bapak akhirnya ikhlas nyumbang.
44:06Iya. Karena juga tidak disalah gunakan.
44:07Saya waktu jadi bupati, Pak ya pelebaran
44:10jalan, Pak. Bapak tahu enggak, Pak,
44:12waktu saya buka anggaran seperti itu,
44:14masyarakat yang dilebarkan jalan
44:16tidak minta bayar.
44:19Saya datang, "Hi, enggak ada duit." Gua
44:21bilang, "Kalau gua bayar lu pembebasan
44:22lahan ini hotic enggak sampai.
44:25Tapi kalau duit saya, saya pakai hot mix
44:28saja, kamu kan untung saya lebarin jalan
44:31harga tanahnya naik.
44:33Naik dong. T dijawab apa?
44:35Soalnya gini, Pak Bupati, kalau
44:37oknum-oknum itu kami bilang ikhlas pun
44:41kami enggak pernah lihat pembukuannya.
44:43Jangan-jangan
44:44dari negara tanda tangan diambil.
44:48Iya. Ada ada ganti rugi tapi tidak
44:50diserahkan kepada yang ber
44:52kami ikhlas. He.
44:53Tapi kalau Pak Bupati kan beda
44:55dan akhirnya terlaksana itu.
44:56Iya. Pak Ahok kan beda. Pak Ahok berani
44:59buka semua APBD bahwa ini uang tidak ada
45:03penggantian-ganti untung apapun.
45:05H
45:06ini kan pintar loh, Pak. Bayangin Bapak
45:08jadi masyarakat, Pak. Ya.
45:09Bapak bilang dari pagi makan oknum
45:11pejabat mendingan gue yang terima dong.
45:13Saya masih bisa [tertawa] usaha.
45:14Nah itu trust. Ini penting.
45:16Iya.
45:17Kita bicara dagang apapun trust.
45:18Trust ya intinya esensinya trust. Pak
45:21Hok em kalau Anda diberi kesempatan
45:23untuk ee menjadi salah satu pimpinan
45:27negara kita dan Anda akan diminta untuk
45:30mendesain ulang tata kelola negara kita,
45:33mana yang dulu lebih baik Anda benahi?
45:36Apakah ini masalah pajak, apakah masalah
45:38BUMN? Apakah masalah pendidikan,
45:41subsidi, pengadaan atau apa ya?
45:43Itu rakyat kita tuh pintar, Pak. Bapak
45:44ngomong pendidikan, ngomong dagang,
45:46ngomong apa, semua tahu kok, Pak. He.
45:48Tentu subsidi bagian [berdehem] yang
45:49perlu diperbaiki itu presidennya, Pak.
45:52Kalau kita bisa jadi perbaiki presiden,
45:55presidennya perbaikin, Pak. Karena
45:57seorang presiden dia bisa keluarkan
45:58perpu, Pak.
45:59Dia bisa mengeluarkan perpu ini sangat
46:00berkuasa sekali. Ya.
46:01Saya mau tanya, Pak. Ya. Terus semua
46:03orang mau naik eselon 1, mau pangkat
46:05perwira tanda tangan presiden loh
46:07walaupun melalui Sekmil loh.
46:08Presiden. Presiden ya.
46:09Bayangin
46:10mau jadi kapori, jaksa
46:12semua presiden.
46:13H
46:14hakim sekarang KPK juga. Hm. Sama
46:17presiden.
46:17Presiden. Iya. Iya.
46:18Nah, hakim dibilang di luar presiden.
46:20H.
46:21Tapi dia masih bisa kirim orang ke MK
46:22toh.
46:23H.
46:23Kan masih ada utusan dia.
46:25Hakim juga kalau ditakut-takutin kalau
46:27presidennya benar, Pak, ya. Eh, gua
46:29punya bukti lu terima duit nih, gaji gua
46:31naikin.
46:32Hakim pasti banyak yang mau kok. Siapa
46:33yang enggak mau makan uang har.
46:34Tapi presiden ini kan dipilih oleh
46:36masyarakat dengan pikiran masyarakat
46:37sendiri dan kadang-kadang bisa beli
46:39suara, bisa segala segala macam. Iya.
46:41Saya bilang kita butuhkan kita bisa
46:43menasihati presiden
46:45i
46:45supaya dia bisa lakukan apa Pak? Satu
46:47glorin perpu apa
46:49bukan undang-undang perampasan aset
46:51ya
46:52yang sampai sekarang enggak keluar
46:53perampasan aset
46:54karena kalau perampasan aset buat
46:55koruptor sudah ada undang-undang
46:56tindakan pidana dan pencucian uang
46:58tipikor sudah langsung disita
47:00dan kalau aparatnya tidak bersih ini
47:02bisa disalahgunakan pula ya.
47:03Iya dong. Nah, itu mengerikan kan.
47:06Yang perlu dikeluarkan itu adalah
47:07Undang-Undang Pembuktian terbalik harta
47:10penyelenggaraan negara, Pak.
47:12Kalau Pris keluarkan Perpu itu,
47:14Iya.
47:15Saya jamin, Pak, kalau DPR tahun depan
47:17enggak mau mengesahkan itu ditabokin
47:20rakyat, Pak.
47:20H.
47:22Saya jamin kita kan mimpin pasti tabokin
47:25tuh anggota dewan yang di DPR semua.
47:27Enggak ada yang mau menolak. Nah, kalau
47:29itu terjadi mungkin menteri cuma 20
47:32beres. Bapak tahu enggak gubernur Pak?
47:33Ya, kami gubernur dulu tuh kami ini
47:35dapat pensiun, Pak. Kenapa? Karena kami
47:37setingkat pejabat tinggi negara.
47:39Hm.
47:39Gubernur adalah wakil pemerintah pusat.
47:42He.
47:42Ngapain menteri gitu banyak sampai wakil
47:44100 orang lebih, Pak?
47:46Di bisa ditambah lagi
47:47Anda 20 saja, Pak. Ya, belum lagi
47:49lembaga-lembaga badan-badan, badan
47:50macam-macam ini.
47:51Iya. Iya. 20 sudah.
47:52Aduh, ampun nih.
47:53Kenapa enggak manfaatin gubernur saja?
47:55Kok dia juga pejabat tinggi negara beri
47:57mau menang pada mereka
47:58untuk mewakili toh? Untuk menjadi
48:01telinga tapi kan mulut. Negara kita ini
48:04negara gotong-royong, Pak Hoka. Kemudian
48:06harus ada perwakilannya, harus ada orang
48:08Bataknya, harus ada orang Acehnya, harus
48:10ada orang Papuanya, harus ada orang
48:12Balinya. Semua suku-suku utama harus
48:14ada.
48:15Kan gotongroyong, Pak.
48:16Hampir semua orang daerah kan jadi
48:18gubernur, jadi bupati di tempat Anda.
48:20Dan ketika Otob maksud saya di
48:22kementerian lembaga ke
48:24itu enggak perlu, Pak. Orang enggak
48:25perlu kenal menteri juga kok, Pak.
48:26Ya sekarang pun ada orang jabatan ment
48:28banyak orang juga enggak kenal menteri.
48:29Bapak kasih tahu saya nama menteri 10
48:31nama, Pak. Bapak juga masih bingung.
48:33bisa terjadi. Jangan-jangan Pak Ahok
48:35jalan sama Menteri yang disalami Pak
48:37Ahuk oleh mereka. Makanya ini maksud
48:39saya, Pak, kenapa kita mau alasan ini
48:42lalu merusak?
48:44H.
48:44Nah, coba kalau kita lakukan seperti
48:46itu, Pak, ya.
48:46Meritokrasi.
48:48He.
48:48Terus daerah sudah kasih wewenang.
48:50He.
48:50Kenapa China maju, Pak?
48:52H.
48:52China maju kalau saya pelajar, saya
48:54dengar berapa buku, Pak. Ya, termasuk a
48:57nation fall kan menarik
49:00salah satu China maju
49:02sentralisasi itu di apa, Pak?
49:04Politik, Pak.
49:05Politik tapi ekonomi, Pak.
49:08He.
49:09Sama-sama provinsi, kabupaten, kota
49:12bersaing, Pak.
49:13Iya. I
49:14jadi ini di wasit kita terbalik
49:17terbalik
49:18ekonomi sentralisasi.
49:20Heeh.
49:21Politik biarin di bawah. [tertawa]
49:23Padahal itu sumber masalahnya di situ.
49:25Jadi kita enggak usah belajar aneh-aneh
49:27di dunia ini. Dunia ini enggak ada benar
49:29yang barang benar-benar baru kok, Pak.
49:31Dan semua sudah ada contohnya. Nah,
49:33apalagi, Pak, yang kedua, Pak. Supaya
49:35investor mau datang.
49:37Undang-undang
49:39pidana buat penyelenggara negara yang
49:42disuap.
49:46Apa artinya, Pak? Kalau saya jadi
49:48pejabat, Bapak minta izin hotel tuh.
49:50Iya.
49:51Kan ada batas waktu dong, Pak. Iya,
49:53pasti saya kan tekan Bapak dong. Kasih
49:55saya saham atau gua beli murah-murah
49:57saham Anda atau suap saya nih? Kalau
49:59saya jahat nih,
50:00kalau saya pejabat jahat nih, Pak. Bapak
50:03kalau demi pegawai Bapak, demi hidup
50:05keluarga Bapak, Bapak terpaksa suap
50:07dong, Pak.
50:08Begitu Bapak suap, sama-sama kita tutup
50:11mulut dong.
50:11Iya, betul.
50:12Yang ketangkap perusial kan. Nah, coba
50:14kalau dibalik.
50:15Yang nyuap
50:16H
50:17bebas dari pidana.
50:18Yang nyuap bebas dari pidana. H. H
50:20saya kalau jadi pejabat
50:21deg-degan enggak nih?
50:22Bukan penyuapan jadinya ya. Bukan yang
50:24menyuap
50:25karena logika saya meres Anda.
50:27H
50:28saya punya kuasa meres anda orang kaya.
50:31Dia punya kuasa
50:32orang kaya enggak bisa lawan pejabat kan
50:34itu beda, Pak.
50:36Beda kalau kita seimbang suka sama suka
50:38suap Pak. Nah, kalau gitu dia jahat
50:40gimana? Kalau Bapak jahat mau nyuap saya
50:43kan itu pencobaan, Pak.
50:44Hm.
50:45Nah, saya bisa ngomong, "Eh, lu gua
50:48laporin lu."
50:49Hm.
50:50Kalau itu enggak dipidana orang mau cuk
50:52suap. Setan juga belum dihukum godain
50:54kita. [tertawa]
50:55Kenapa lu mesti paksa Tuhan hukum setan
50:57goda kita berdosa gitu, Pak? Loh, jadi
50:59lu kalau jadi pejabat
51:01lu jangan berdosa dong.
51:03Iya, lu jangan terima suap dong. Jadi
51:06jangan logikanya kebalik-balik gitu loh.
51:08Nah, kalau dua itu aja Pak. Bapak
51:10Kurudin Perpu nih, Pak.
51:11Iya.
51:12Aku jakin investor masuk APBN anda buka.
51:15Hm.
51:15Sampai lembar ketiga, pengadaan pakai
51:17e-katalog. Dia langsung nih, Pak.
51:20Pengadaan langsung satu set satu pintu.
51:21He.
51:23Subsidi semua digital, yang pakai batas
51:25waktu semua punya HP toh.
51:28He.
51:29Otonomi kasih semua ke bawah. Termasuk
51:32hasil. Misalnya contoh sebuah kabupaten
51:34punya tambang emas produksi 1.000 ton,
51:37maka 20 200 ton yang dihasilkan itu
51:42adalah milik negara toh. Negara kan
51:44balikin di luar royalti kita sudah cukup
51:46dong.
51:47Balikin 80% untuk mereka.
51:49Kita tinggal gariskan pendidikan,
51:52kesehatan ya, Pak. Usaha kecil dong kita
51:56bantu mereka, Pak. Atau perumahan plot
51:59dema ngontrolnya di Mendagri.
52:02Hm. Bapak tahu enggak, Pak? Sudah ini
52:04aja, Pak. Saya saya kok marah tuh, Pak.
52:06Kenapa kalau bilang enggak bisa kontrol
52:07itu APBD semua? Bupati dan DPRD enggak
52:12bisa pakai anggarannya sebelum
52:15ditandatangani, direkomendasi oleh
52:17gubernur dikirim ke Mendagri.
52:19Di situ ada birokrasinya sendiri.
52:21Mendagri kalau enggak setuju
52:24H
52:24APBD yang diusulkan oleh sebuah
52:26provinsi,
52:27mereka enggak bisa pakai loh, Pak.
52:30Artinya apa? Saya Jakarta, Pak, ya. He.
52:32Bisa enggak ada tinggal masukin semua
52:33sistem e-budgeting?
52:35He.
52:35Pembelian UPS tolak kayak saya Jakarta
52:38loh.
52:40Ee pengenalan
52:41peraturan PP itu bohong semua, Pak.
52:45Habisin 400 miliar dulu Jakarta. Saya
52:47coret itu buat pihara konstituen kali.
52:49Oknum LSM semua dipiara. Saya coret.
52:52Bisa enggak Mendagri kendalikan seluruh
52:54APBD di Indonesia?
52:57100% bisa, Pak. Tinggal Anda mau dan
53:00berani atau tidak. Dan di situ akan
53:01sangat efisien dan cepat
53:03efisien. Dan Anda kayak company, Pak.
53:05Ya.
53:05Pengadaan barang Anda nih
53:08h
53:08gelondongan besar Pak
53:10LKPP.
53:11Dan Anda bisa ngatur
53:13h
53:13seluruh Indonesia tuh Anda yang
53:15sinkronkan. Anda bangun ini tidak bangun
53:18ini. Kita kan hemat. Waduh. Saya bilang,
53:20"Pak ya, 2.700 triliun, Pak ya. Merem
53:22tuh dapat 700 triliun, Pak." Tapi kosnya
53:24kan sangat besar Pak Ahok.
53:26Apa ya? Orang seperti Pak Ahok itu
53:28melakukan itu akhirnya juga dikerjain
53:30oleh mereka yang tidak kebagian uangnya
53:32itu.
53:32Jadi dikerjain enggak kerjain saya
53:34enggak pernah nyesal, Pak. Ya
53:35kan namanya kita mengedukasi rakyat. H
53:38sampai hari ini orang ketemu saya masih
53:41ada yang mau ngajak foto kok.
53:42Hm.
53:43Daripada saya masuk penjara karena
53:45maling. He.
53:46Saya kalau sudah masuk penjara dibilang
53:48menista agama atau apapun Tuhan mesti
53:51ampunin.
53:51H.
53:52Dan saya sudah jalanin hukuman saya.
53:54Hm.
53:55Dan saya enggak pernah mau usul itu mau
53:58mau untuk minta apa pemotongan apa.
54:00Enggak pernah.
54:01Terakhir Pak Hok eh tadi Anda mengatakan
54:04presiden
54:05karena punya Perpu, karena punya
54:07kewenangan yang kuat. Kalau gitu
54:08bagaimana kita
54:09memilih
54:10bagaimana kita memilih presiden ini
54:11kepada masyarakat ini? Kita perlu
54:14memilih presiden kan dengan sistem
54:16politik yang seperti ini, dengan keadaan
54:17seperti ini. Bagaimana kita bisa
54:19menyelenggarakan ini?
54:20Pertama kita terus ngomong, Pak. Terus
54:22kedua, sebanyak mungkin orang baik harus
54:26masuk ke politik, Pak.
54:27Sebanyak mungkin.
54:28Iya. Karena kita enggak mungkin
54:29memperbaiki. K Ibu Mega bilang sama saya
54:32kan,
54:33"Kamu kalau mau perbaikin negara ini
54:35tidak mungkin tidak melalui partai
54:37politik."
54:38Karena partai politik secara konstitusi
54:40diberikan wewenang untuk memperbaiki
54:42negara ini. Persoalan hari ini memang
54:45diakuin di partai politik tidak semua
54:47orang baik.
54:48Semua partai politik ada yang masuk
54:50penjara karena korupsi.
54:51Iya. Kenapa? Karena mungkin Bapak juga
54:53enggak mau masuk.
54:55Saya dulu juga enggak mau masuk kan.
54:57Nah, lalu kita masuk. Rakyat juga
54:59mengerti teori Presiden ke-16 Amerika
55:01kalau Abraham Lincoln.
55:03Iya.
55:03Bahwa karakter orang baru teruji ketika
55:05dikasih kekuasaan.
55:06Ketika dikasih kekuasaan ya want to test
55:09the character of person give them power.
55:11I.
55:11Dan rakyat
55:13walaupun mungkin enggak pernah dengar ya
55:14memahami itu karena mereka sudah bilang,
55:16"Ah udahlah samah lu ngomong doang lah
55:19lu udah jadi juga sama aja udah ada duit
55:23lu lupa kan gitu dong rakyat dong.
55:25Nah makanya Anda butuh
55:27paling mudah murah diraih itu DPD
55:29tingkat dua.
55:29Jadi
55:30jadi itu bupati walikota
55:32saya ikutin saya jalankan itu, Pak."
55:34Dari bawah ya begitu. Jadi orang
55:35percaya, Pak,
55:36kepada partai
55:37saya kampanye gubernur semua sudah
55:40enggak keluar duit. Orang sumbang semua,
55:41Pak.
55:41H.
55:42Nah, orang juga enggak berani minta duit
55:43sama saya karena minta duit sudah saya
55:45tolak.
55:46Baik tolak aja. Ini kan mengedukasi,
55:48Pak, ya.
55:49Iya.
55:50Soal masa depan kita gimana? Satu hal
55:52yang saya percaya,
55:54Tuhan sayang Indonesia, Pak.
55:56H.
55:56Negara kampunya, negara Arab aja satu
55:59etnis, satu kitab bisa 22 negara, Pak.
56:02He.
56:02Kok Indonesia yang ribuan
56:04kok masih utuh?
56:05Bisa satu negara.
56:06Secara teori Indonesia sudah lama bubar.
56:08He.
56:08Artinya apa?
56:10Alam semesta penciptanya itu sayang
56:13Indonesia.
56:14Jadi kalau ada oknum pejabat yang tidak
56:17seturut rencana alam semesta ini,
56:20dia cepat atau lambat akan tersingkir,
56:22Bang. Dan sejarah membuktikan
56:24daning-nya tidak well.
56:26Ya. [tertawa]
56:27Baik, Pak.
56:28Terima kasih banyak. kita sudah
56:29bercakap-cakap seperti ini, ada harapan
56:32kita bisa membangun negeri kita. Tidak
56:34boleh
56:36ya. Jadi syaratnya itu adalah bagaimana
56:38kita mendapatkan pemimpin yang terbaik
56:40ya. Terima kasih Pak Hih. Sama
56:42dan stay relevant.
56:46[musik]
56:48Yeah.